I Love Gardening!

Hola….. I’m back !

Udah lama banget ya saya nggak update blog ini. Ada kali tiga bulanan, duh lamanya… Biasa, alasannya sih klasik karena lagi nggak mood. Tapi si mood ditunggu-tunggu nggak kunjung datang juga sampai tiga bulan ini, duhhh kebangetan banget ya malasnya 😀

Tapi sebenernya selain karena nunggu mood, kemarin-kemarin itu saya emang lebih banyak di luar rumah sih. Mumpung cuaca sering bagus karena musim panas, saya pun nggak tanggung-tanggung berjemur hampir tiap hari. Berjemur pake payung juga sih tetep, takut gosongggg hahaha…

Selain memaanfaatkan waktu menikmati sinar matahari yang lagi obral hampir setiap hari, saya dan suami juga sempat liburan bentar sih mudik ke tempat mertua di Denmark akhir Juni kemarin. Selain karena ada acara keluarga kami pun juga sempat main-main ke Copenhagen karena saya dari dulu pengen benget ke sana tapi nggak sempat-sempat mulu. Lumayan sih, jadi turis 2 hari full meskipun betis berasa gempor tapi seneng karena lihat banyak hal. Udah gitu kami nginep di tempat saudara pula, jadi irit nggak perlu booking hotel tambah seneng nih jadinya 😀

Seminggu setelah kami balik dari  Denmark, giliran ibu mertua yang datang ke sini. Beliau dan pasangannya nginep cuma semalam kerena harus balik lagi ke tempat kakaknya suami buat jemput cucu perempuan (anaknya kakak suami) buat dibawa ikut liburan ke denmark. Saya salut nih sama ibu mertua dan pasangannya, meskipun sudah nggak lagi muda tapi semangatnya itu ngalah-ngalahin saya yang masih muda belia ini #tabokpakepantatpanci. Mereka berdua masih aja semangat buat pergi ke sana kemari, nengokin anak-anaknya yang di Perancis lah, liburan ke Tenerife lah, nonton konser musik lah… pokoknya aktif banget deh. Dan kami pun pasti juga seneng kalo sering-sering ditengokin, maklum beliau kalo datang kan nggak pernah tangan kosong, ada aja bawaannya (dasar modus yah hahaha)

Oh iya, selain suka ngetem di teras buat kencan sama si sinar matahari saya belakangan ini juga hobi banget berkebun. Bukan yang ribet-ribet sih berkebunnya, cuma tanam ini itu aja sekedar supaya ada sayuran segar yang siap sedia setiap saat kalo saya mau masak. Untungnya dulu sebelum pindahan ke sini saya sempat iseng banget borong  benih sayuran di toko pertanian, sampai sama yang punya toko dikiranya saya  mau buka bisnis pertanian wkwkwk… Sebenarnya waktu itu sih pengennya beli macem-macem lagi lebih banyak, tapi malu ah wong belum ada pengalaman nanam apapun kok sebelumnya. Udah gitu saya dulu kan alergi yang kotor-kotor. Pegang-pegang tanah aja ogah gimana mau berkebun? Untungnya saya smart, dengan berbagai argumen sang suami tercinta dengan suka rela turun tangan saya mandorin buat mulai nanam-nanam benih yang saya bawa dari Indo. Tahun pertama kemarin sih hasilnya oke, tapi ada beberapa hal yang sepertinya salah penanganan jadinya gagal. Tahun ini pun kami belajar dari pengalaman sebelumnya dan sepertinya sih tahun ini hasilnya lebih baik.

Kalo sebelumnya saya cuma mandorin, tahun ini saya banyak ikutan turun tangan juga. Gali-gali tanah buat dimasukin ke pot-pot penyemaian sampai cabutin rumput dan semak benalupun saya jabanin. Dan ternyata saya menikmati lho semua proses itu. Tiap bangun pagi yang pertama kali saya lakukan adalah ke belakang rumah, ngecek kebun apa yang sudah tumbuh, apa yang berbunga apa yang harus dibersihin. Ahhh, akhirnya saya memahami kenapa banyak orang memiliki hobi berkebun. Selain proses menunggu tanaman tumbuh-berbunga-berbuah yang cukup exciting ternyata mengkonsumsi hasil kebun sendiri rasanya sangat memuaskan. Beneran deh, selain terjamin kesegaran dan kualitasnya, hasil kebun sendiri rasanya juga lebih enak menurut saya. Mungkin karena proses penanamannya yang alamiah ya tanpa pemberian pestisida atau bahan penyubur lainnya. Dan di sini berkebun seakan jadi hobi wajib, karena saya lihat hampir setiap rumah selalu punya kebun sayuran sendiri. Trus kalo masuk ke musim semi yang namanya toko yang menyediakan segala macam buat berkebun pasti rame banget karena orang-orang pada mulai belanja perlengkapan berkebun serta belanja macam-macam tanaman. Dan ternyata memang seru banget belanja di toko itu apalagi kalo lihat macam-macam jenis bunga, duh jadi pingin ngengkut pulang semua hihihi…  Pokoknya, sekarang saya sudah berubah deh…nggak lagi benci pegang tanah, malah jadi hobi nguplek-nguplek tanah di kebun. I love gardening! 🙂

 

Collage

Hasil Kebunku 🙂

 

Advertisements

Bali Safari and Marine Park

Sesuai janji saya sebelumnya, kali ini saya mau bercerita tentang Bali Safari and Marine Park (BSMP). Sejak awal merencanakan untuk berlibur ke Bali, saya dan suami memang sudah berniat memasukkan tujuan yang satu ini ke itinerary kami. Selain karena ingin memperkenalkan suasana taman safari ke anak saya, Daffa ; suami juga sudah mupeng duluan sewaktu tahu kalau menginap di hotelnya, Mara River Safari Lodge maka bisa dapat kesempatan buat sarapan sambil lihat singa dari dekat. Maklum, suami saya memang pecinta kucing hehehe… Sebelum mudik ke Indonesia segala urusan booking hotel sudah saya bereskan, jadi begitu kami sampai di Bali kami tidak perlu lagi repot dengan urusan perhotelan.

Kami check-in di Mara River sore hari, memang sengaja karena siangnya kami makan dulu di Bale Udang Mang Engking. Duhhh kalau ingat udang bakar madunya, rasa-rasanya pengen deh pinjem pintu ke mana saja-nya si Doraemon biar bisa ke sana lagi hihihi…. Anyway, untuk sampai di Mara River kami harus masuk dari pintu masuk Taman Safari. Di sana kami harus menunggu sekitar 15 menit sampai ada staff hotel yang menjemput kami karena memang posisi hotelnya berada di dalam taman sehingga kendaraan selain kendaraan operasional hotel dan taman safari tidak bisa masuk ke sana. Setelah melalui proses check-in kamipun mendapatkan kunci kamar. Oh iya, untuk ratenya per malam waktu itu adalah €172 atau USD 235. Harga itu adalah harga peak season untuk bulan Desember dan di dalamnya sudah termasuk sarapan untuk 2 dewasa dan 1 anak-anak, biaya masuk ke BSMP, tiket pertunjukan Bali Agung Show serta voucher diskon 15% untuk berbelanja di souvenir shop. Memang sih kalau dirupiahin harga segitu berasa mahal untuk menginap hanya semalam, tapi kalau dihitung-hitung lagi ya memang worth it mengingat harga masuk taman safarinya sendiri yang cukup mahal tergantung tipe paketnya. Untuk info harga tiket serta jam buka BSMP bisa dicek di sini  dan untuk booking Mara River Safari Lodge bisa dilihat di sini

IMG_3865

Lobby Mara River Safari Lodge

Lobby Mara River Safari Lodge

Kami mendapatkan kamar tipe Swala Deluxe Room yang berada di lantai dasar. Begitu masuk ke kamar kamipun langsung terkesan. Kamar kami menghadap langsung ke area merumput untuk hewan-hewan seperti badak, zebra dan wildebeest. Terdapat beranda kecil di luar lengkap dengan meja dan kursi untuk bersantai sambil melihat hewan-hewan tersebut merumput. Kami juga bisa memberi makan ke hewan-hewan tersebut dengan wortel yang telah disediakan oleh pihak hotel. Begitu selesai melihat-lihat kamar, kamipun langsung menuju ke kolam renang karena Daffa sudah nggak sabar pengen berenang. Kolam renang terletak di ujung, lumayan jauh dari kamar kami. Tapi kami enjoy saja berjalan santai ke sana, apalagi suasana hijau segar membuat udara juga tidak terlalu panas. Baru sebentar berjalan, lewatlah seorang petugas hotel mengendarai semacam kereta mini dan menawarkan diri untuk mengantar kami sampai ke kolam renang. Nggak menyia-nyiakan kesempatan kamipun langsung naik 😀

IMG_3847

IMG_3849IMG_3853 Swala Deluxe Room with additional bed

Kolam renang di Mara River tidak terlalu besar dan terdapat bagian kecil khusus untuk anak-anak. Waktu kami ke sana sebenarnya tidak terlalu banyak orang, tapi mungkin karena ukurannya yang relatif kecil jadi terkesan cukup penuh. Dari kolam renang ini, kami bisa melihat langsung beberapa hewan yang sedang merumput. Di jam-jam tertentu juga lewat bus-bus safari journey serta gajah-gajah yang mengangkut penumpang. Seru juga sih kami bisa menonton mereka dan sebaliknya kami juga jadi tontonan mereka yang lewat hehehe… Kami tidak lama bermain di kolam renang karena hari sudah lumayan sore. Saatnya kembali ke kamar.

Pemandangan dari kolam renang

Pemandangan dari kolam renang

 

IMG_3884

Pemandangan dari beranda kamar

Pemandangan dari beranda kamar

Keesokan harinya kami bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap untuk sarapan. Dari hasil browsing internet sebelumnya, banyak yang menyarankan untuk datang ke restaurant sepagi mungkin supaya bisa mendapatkan tempat duduk yang strategis untuk melihat singa. Dan tidak sia-sia, kami adalah tamu pertama pagi itu sehingga kami bisa duduk tepat di sebelah kolam kecil tempat para singa minum begitu mereka keluar dari area kandangnya. Begitu para singa keluar, kami bisa melihatnya langsung karena hanya terpisah dinding kaca yang tebal. Bahkan auman para singa itu juga bisa terdengar jelas dari dalam restaurant. Puas rasanya bisa mendapatkan pengalaman istimewa pagi itu, sarapan bersama para singa.

Tsavo Lion Resto

Tsavo Lion Resto

IMG_3895 IMG_3898

Akhirnya singanya keluar juga :D

Akhirnya singanya keluar juga 😀

Kolam ikan di sudut halaman hotel

Kolam ikan di sudut halaman hotel

Begitu selesai sarapan kami kembali ke kamar untuk bersiap-siap mengikuti safari journey. Tapi karena masih terlalu pagi dan safari baru mulai pukul 10 pagi, maka kamipun memilih jalan-jalan berkeliling taman sebelum banyak pengunjung yang datang. Ternyata memang menguntungkan kalau menginap di Mara River, kami bisa berkeliling pagi-pagi tanpa harus berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Suasana masih teduh dan segar dan kamipun bebas berfoto-foto tanpa harus mengantri. Mendekati pukul 10 kamipun menuju ke terminal Toraja untuk memulai safari journey.

IMG_3924

Bersiap-siap ikut safari journey

Bersiap-siap ikut safari journey

Setelah menunggu beberapa menit, bus safari pun datang. Bus ini memiliki bangku panjang di dalamnya dengan jendela kaca besar di masing-masing sisinya. Begitu bus penuh maka safari journey pun dimulai. Bus berjalan pelan supaya para penumpang bisa melihat hewan-hewan yang ada di sisi kiri maupun kanan. Sesekali bus juga berhenti supaya penumpang juga bisa melihat dengan lebih jelas dan mengambil gambar. Di setiap bus juga terdapat satu pemandu yang menjelaskan tentang hewan-hewan yang ada di sana, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Memang cukup banyak juga wisatawan asing yang mengunjungi BSMP ini. Koleksi hewan yang dimiliki BSMP ini memang cukup mengesankan, dan yang pasti menjadi pengalaman yang seru juga untuk anak-anak seperti Daffa.

IMG_3958

Suasana di dalam bus

IMG_3966 IMG_3967 IMG_3969 IMG_3979 Selesai mengikuti safari journey, kami menyempatkan diri untuk berkeliling lagi. Tujuan kami adalah zona fun park, karena Daffa sudah merengek minta main ke sana. Sayangnya, belum banyak atraksi yang ada di sana. Entah karena baru atau memang karena sengaja tidak dibangun banyak atraksi di sana. Saya dan Daffa kemudian mencoba semacam roller coaster air. Sebenarnya sih tidak menakutkan sama sekali, tapi cipratan airnya lumayan bikin basah kuyup. Untungnya panas cukup terik sehingga setelah berjalan beberapa saat baju kamipun kembali kering. Capek dan lapar kamipun menuju ke Uma Restaurant untuk makan siang. Jadi di BSMP ini ada 2 restaurant yaitu Tsavo Lion yang terletak di area Mara River tempat kami sarapan pagi harinya dan Uma Restaurant yang terletak di tengah-tengah dekat dengan Fun Zone dan area toko souvenir. Uma Restaurant sistemnya adalah seperti food court di mana terdapat bermacam-macam counter makanan dan satu counter minuman. Kami mendapatkan selembar kertas yang nantinya harus diisi oleh pelayan counter tempat kami memesan makanan maupun minuman dan nantinya kami tunjukkan ke kasir untuk dibayar. Setelah kenyang dan melepas lelah, kamipun siap untuk meneruskan jadwal hari itu, yaitu menonton Bali Agung Show di Bali Theatre.

IMG_3997

Yahhh basah deh!

IMG_3923

Patung Ganesha raksasa di depan Bali Theatre

Bali Agung Show adalah sebuah pertunjukan teatrikal yang melibatkan kurang lebih 180 penari yang memadukan tari tradisional dan koreografi kontemporer. Pertunjukan ini juga menampilkan berbagai hewan koleksi BSMP serta setting panggung yang sangat menarik. Pertunjukan ini memang sangat mengesankan dan sayang kalau dilewatkan. Suami bahkan tidak bisa berhenti mengungkapkan kekagumannya pada pertunjukan spektakular tersebut. Beruntung sekali kami waktu itu karena tiket masuk Bali Agung Show ini sudah termasuk dalam rate harga kamar yang kami bayar di Mara River. Untuk melihat jadwal pertunjukan dan tiketnya bisa dilihat di sini

Akhirnya petualangan kami di BSMP harus diakhiri, kami kembali ke hotel untuk berkemas dan kemudian pindah ke area tanjung benoa dimana kami akan menghabiskan 2 hari terakhir liburan di Bali sebelum kembali ke Solo dengan membawa banyak cerita seru tentang pengalaman ala safari di BSMP  ^_^

Pengalaman Baru: Operasi Gigi

OK, saya masih punya hutang satu cerita tentang pengalaman liburan di Bali kemarin. Tapi kali saya skip dulu ya ceritanya karena saya lagi pingin cerita tentang operasi gigi yang saya jalani hari selasa kemarin. Well, sebenarnya operasi ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Saya ingat semua berawal dari kunjungan ke dokter gigi pada musim panas lalu. Saat itu saya hanya berniat untuk general check-up sekalian cari informasi tentang prosedur dan pemasangan brace di sini. Mumpung saya sudah punya carte-vitale (semacam kartu jaminan kesehatan di sini) sehingga konsultasi ke semua jenis dokter beserta pengobatannya akan di-reimbourse oleh pemerintah dengan potongan hanya beberapa euro. Bisa dibilang sih hampir gratis, meskipun tidak benar-benar gratis karena kami juga harus bayar pajak per tahunnya 😀

Setelah sang dokter gigi memeriksa dan membersihkan karang gigi, saya sempat bilang ke dokternya kalau saya ada niatan untuk pasang kawat gigi karena gigi bawah saya sangat tidak rapi. Saya juga sempat cerita soal sakit gigi yang kadang-kadang muncul tanpa sebab. Bu dokter kemudian menyarankan saya untuk photo radiologi gigi ke lantai atas supaya bisa dilihat dengan lebih jelas posisi gigi saya. Setelah melihat hasilnya, kami semua terkejut. Betapa tidak, ternyata ada 4 buah gigi geraham akhir yang selama ini tumbuh dengan subur di dalam gusi. Yang mengejutkan juga keempat gigi tersebut tumbuh miring ke dalam, mendesak gigi-gigi yang lain. Pantas saja bentuk deretan gigi saya nggak karuan, selama ini ternyata mereka memang berdesak-desakan di dalam sana. Mohon maklum kalau selama ini saya tidak tahu, karena selama tinggal di Indonesia saya ke dokter gigi hanya untuk membersihkan karang gigi, itupun juga tidak terlalu rutin 😀

Setelah mendapati hasil photo radiologi yang mengejutkan tersebut, bu dokter gigi pun langsung memvonis bahwa keempat gigi geraham tersebut harus diangkat. Selain tidak bisa berfungsi, mereka juga berpotensi mengganggu fungsi gigi lainnya serta menimbulkan rasa sakit berkala yang selama ini saya alami. Beliau memberikan rekomendasi dokter spesialis bedah gigi yang berlokasi di sebuah rumah sakit di Limoges, kota besar yang berjarak sekitar 50 km dari tempat tinggal kami. Sebenarnya ada sih satu rumah sakit di kota lain yang lebih dekat, tapi bu dokter gigi menyarankan ke Limoges karena anak perempuannya pernah mengalami hal yang sama dengan saya dan bu dokter puas dengan penanganannya.

Cerita yang sesungguhnya pun dimulai ketika kami harus membuat janji temu untuk berkonsultasi dengan dokter bedah gigi di Limoges. Pertama-tama butuh waktu yang lama untuk mendapatkan waktu konsultasi. Suami saya menelpon sekitar bulan Agustus 2013, dan rendez-vous yang kami dapat adalah untuk tanggal 15 Januari 2014. Lama banget ya, kami harus nunggu 5 bulan sebelum bisa mulai berkonsultasi. Tapi memang seperti itulah di Perancis, bila ingin mendapatkan pelayanan kesehatan apapun harus membuat janji temu terlebih dahulu. Kecuali untuk kasus darurat yang membahayakan jiwa seseorang, maka waktu normal untuk mendapatkan janji temu dengan dokter spesialis adalah 3 bulan, dan tentu saja bisa lebih lama kalau dokter yang bersangkutan memiliki banyak pasien. Dan karena belum pernah punya pengalaman berhubungan dengan rumah sakit di Perancis kamipun sama sekali blank tentang segala prosedurnya.

Long story short, setelah akhirnya kami berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah gigi , saya dapat jadwal tanggal 25 Maret 2014 jam 7.30 pagi untuk operasinya. Sebelum operasi dilaksanakan, saya harus terlebih dahulu melalui beberapa tahapan. Yang pertama adalah konsultasi dengan dokter anestesi, karena nanti saya akan dibius total. Yang kedua, saya harus mendaftarkan diri di rumah sakit sebelum hari operasi dan mengisi beberapa formulir data yang harus dilengkapi. Setelah itu saya harus melakukan photo radiologi lagi di rumah sakit, selain itu juga harus menjalani scanner di rumah sakit yang lain karena di rumah sakit tempat dokter spesialis ini praktek mereka tidak punya sarananya. Dan yang terakhir adalah konsultasi lagi dengan dokter spesialis sebelum jadwal operasi dengan membawa semua hasil radiologi dan scanner.

Yang jadi masalah utama bagi kami adalah semuanya harus dilakukan di Limoges, sementara tempat tinggal kami jauh. Jadilah suami yang harus ribet menelpon mencoba membuat janji temu yang kesemuanya bisa dilakukan dalam 1 hari. Kami beruntung, untuk dokter anestesi, radiologi dan scanner bisa dilakukan dalam 1 hari meskipun kami tetap harus bolak balik antara 2 rumah sakit yang berbeda. Semuanya berjalan lancar, dan kamipun mendapatkan semua dokumen yang dibutuhkan. Tapi kami tetap harus datang lagi di lain hari untuk konsultasi dengan dokter spesialis bedah sebelum pelaksanaan operasi.

Hari yang ditunggu pun tiba, saya nggak sabar bukannya karena senang ya tapi lebih karena saya ingin semua cepat berlalu, cepat bisa pulih dan kembali ke aktivitas semula. Pokoknya saking nervous-nya saya hanya ingin cepat selesai, titik. Maklum seumur-umur baru sekali ini saya harus masuk ruang operasi 😀

Kami sampai di rumah sakit jam setengah tujuh pagi, langsung ke bagian administrasi rumah sakit yang hanya menanyakan nama, memberikan selembar kertas yang berisi banyak sticker yang bertuliskan data-data saya, kemudian mengarahkan kami untuk langsung ke lantai 1. Sesampainya di bagian perawat lantai 1, kami harus menyerahkan stiker tadi dan melengkapi beberapa dokumen lain. Seorang perawat memberikan sebuah baju ganti yang harus saya pakai sebelum operasi, dan memberi tahu nomor kamar untuk saya. Meskipun tidak akan menginap, tapi rumah sakit menyediakan kamar untuk persiapan sebelum operasi dan pemulihan setelah operasi. Begitu memasuki kamar kamipun cukup terkesan, karena di formulir yang saya isi sebelumnya saya pilih kamar yang murah yaitu untuk 2 bed dan tanpa TV. Yang kami dapat adalah sebuah kamar yang cukup luas, hanya ada 1 bed lengkap dengan kamar mandi privat, lemari baju serta sebuah TV. Well, mungkin karena asuransi saya yang meng-cover biaya kamar sehingga saya dapat upgrade, entahlah. Yang jelas sih saya lebih nyaman hanya berdua dengan suami 🙂

Setelah berganti baju rumah sakit, saya pun berbaring di bed sambil menunggu staff medis yang akan membawa saya ke ruang operasi. Seorang perawat datang untuk cross-check dokumen serta memasangkan gelang identitas untuk saya. Sekitar pukul 8.30 saya dipindahkan ke ruang operasi, rasanya gugup nggak ketulungan. Untungnya dokter anestesi yang menangani saya ramah sekali, bahkan bisa berbahasa Indonesia karena katanya sempat berlibur keliling Indonesia 12 tahun yang lalu. Saya pun mulai rileks begitu si dokter mengajak saya ngobrol sambil memasang jarum untuk injeksi di tangan saya. Sesaat setelah si dokter menyuntikkan obat bius saya pun langsung hilang kesadaran, semua sama sekali gelap.

Kemudian, antara sadar dan tidak, saya ingat ketika didorong kembali ke kamar saya. Saat itu saya mulai merasakan sakit di dalam mulut, dan ada sensasi aneh di antara gigi-gigi saya. Saya pun mulai merasakan lapar karena saya harus puasa dari tengah malam sebelum hari operasi. Tapi perawat bilang saya harus menunggu beberapa saat sebelum bisa makan ataupun minum. Rasa sakit yang saya rasakan semakin menjadi-jadi sehingga perawat memberikan suntikan painkiller serta satu blok es dilapis handuk untuk mengkompres pipi saya. Setelah menunggu beberapa saat, saya mendapatkan jatah makan berupa compote (bubur apel), pudding, jus buah dan air putih. Waduh, nggak nampol banget deh karena porsinya selain kecil rasanya jg hambar banget. Tapi mending lah daripada kelaparan 😀

Setelah itu kami harus menunggu sampai dokter spesialis datang mengecek. Saya pun menghabiskan waktu dengan tidur dan sesekali nonton TV. Akhirnya sekitar pukul 5 sore sang dokter datang. Setelah mengecek keadaan mulut saya, beliau pun menjelaskan langkah perawatan lanjutan di rumah. Antara lain obat-obatan yang harus saya konsumsi, jenis makanan yang boleh dikonsumsi dan kapan jahitan di dalam mulut saya bisa dilepas. Setelah semua jelas kamipun boleh pulang.

Untuk operasi ini kami tidak dikenakan biaya apapun. Kami hanya harus membayar biaya kamar yang hanya sebesar €30 yang nantinya juga akan di-reimbourse oleh pihak asuransi. Meskipun harus menanggung sakit dan bengkak selama kurang lebih seminggu, saya merasa lega banget operasi sudah berjalan lancar dan kamipun tidak harus mengeluarkan uang lagi untuk biayanya. Dan sekarang, setelah hampir seminggu berlalu saya pun sudah mulai pulih, pipi saya sudah tidak bengkak, rasa nyeri juga sudah jarang saya rasakan dan yang pasti saya sudah bisa mulai makan lebih banyak. Tinggal pergi ke dokter gigi hari rabu nanti untuk melepas jahitan. Next step: pasang kawat gigi! 😀

Belajar Bermain Ski

Sebenarnya rencana untuk bermain ski ini sudah muncul sejak winter setahun yang lalu. Waktu itu suami bilang ingin bermain ski karena sudah lama nggak melakukannya. Maklum, sewaktu masih tinggal di Denmark dia biasa setiap tahun pergi ke Norwegia atau Austria buat bermain ski bareng teman-temannya dan sejak pindah ke Perancis baru sekali saja karena katanya nggak asyik kalo pergi sendirian 😀

Tergoda dengan tantangan belajar bermain ski, saya pun jadi kepingin ikutan. Perlengkapan pun sudah dibeli waktu itu, seperti celana, jaket, sarung tangan dan kacamata khusus untuk ski. Kebetulan juga waktu itu sedang diskon musim dingin jadi harganya lumayan karena kalau beli pas harga normal pasti saya tidak tega (sayang euro-nya, mending buat ditabung untuk ongkos mudik hehehe…). Sayangnya, niat untuk pergi ke lokasi ski waktu itu harus berulang kali ditunda karena saya sempat sakit. Mungkin karena waktu itu adalah musim dingin pertama buat saya, tubuh saya belum bisa beradaptasi dengan baik. Saya sering kena flu dan terus-terusan merasa kedinginan. Bahkan saya sempat muntah-muntah parah saking sakitnya. Akhirnya musim dingin berlalu dan sampai saya akhirnya baikan kami belum sempat pergi bermain ski.

Sempat agak kecewa sih, karena sebenarnya saya suka banget salju. Meskipun dingin tapi kalau kita memakai pakaian hangat yang tepat pasti nggak masalah. Apalagi kalau sambil main-main salju, perang bola salju atau lari-lari di salju pasti deh jadi hangat dengan sendirinya 😀 Saya pun harus bersabar sampai musim dingin berikutnya, soalnya kalau nggak ada salju mana bisa bermain ski hehehe…

Kesempatan yang sudah saya tunggu pun akhirnya datang 2 minggu yang lalu. Meskipun sudah mulai memasuki musim semi dan sudah tidak pernah turun salju lagi,  tapi di beberapa tempat yang cukup tinggi masih ada salju dengan ketebalan yang memadai untuk bermain ski. Kali ini kami tidak bikin rencana seperti sebelumnya,karena takut kecewa lagi kalau sampai nggak jadi 😀 Hanya mengecek cuaca pada malam sebelumnya dan keesokan paginya kami pun berangkat.

Image

Getting closer to the snow! 😀

Image

Beautiful view

Lokasi yang kami tuju bernama Massif de Sancy, yang berjarak sekitar 120 km dari rumah. Resort ski ini berada di pegunungan Massif Central yang merupakan pegunungan tertinggi di Perancis. Massif de Sancy sendiri berada pada ketinggian 1886 m, dengan pemandangan yang luar biasa cantik. Kami berangkat dari rumah mengendarai mobil sekitar pukul 10 pagi dan sampai di sana tepat jam 12 siang. Setelah makan siang di restoran di sekitar area ski kami pun siap untuk memulai petualangan hari itu.

Image

Padat pengunjung karena masih masa liburan sekolah

Image

Pemandangan dari dalam restaurant

Image

Ada yang nampang hihihi

Pertama-tama, kami harus membeli tiket masuk area ski. Di resort ini kami bisa membeli tiket per 4 jam, per hari ataupun tiket kolektif untuk seminggu dst. Kami memilih untuk membeli tiket untuk 4 jam yang harganya 24,5 € per orang. Setelah itu kami menyewa perlengkapan ski. Meskipun sudah bawa jaket, celana, sarung tangan dan kacamata ski; kami tidak punya sepatu dan ski-nya. Ada beberapa tempat persewaan perlengkapan ski di sana, dan untuk 1 set sepatu dengan ski-nya kami harus membayar 16 € per orang. Well, tentunya lebih baik bagi pemula seperti saya dibanding jika saya harus membeli sendiri karena harganya juga tidak murah. Ok, tiket sudah siap,perlengkapan pun sudah beres. Kami siap meluncur 😀

Image

Pose dulu sebelum jatuh lagi 😀

Image

Istirahat dulu deh …

Ternyata, bermain ski itu amat sangat tidak gampang. Awalnya saya kepedean yakin bakalan bisa setelah sekali dua kali mencoba meluncur. Tapi kenyataannya meskipun saya sudah berkali-kali mencoba untuk meluncur, saya selalu saja berakhir dengan telentang di atas salju setelah terjatuh dengan amat sangat memalukan. Memang sih, suami sudah memperingatkan dari awal kalau saya harus siap untuk sakit, kesel dan malu 😀 Apalagi saya lihat waktu itu banyak sekali anak-anak kecil yang dengan fasihnya meluncur, berbelok, mengerem seakan-akan semua sama sekali bukan hal susah bagi mereka. Setelah berulang kali mencoba, saya pun berhasil untuk meluncur sekali lagi dengan jarak amat sangat pendek dan mengerem untuk berhenti tanpa terjatuh. Jujur, terjatuh berkali-kali memang sangat memalukan, tapi suami berulang kali menyemangati karena toh ini bukan aktivitas yang gampang dilakukan dalam sekali coba. Suami saya benar-benar sabar mengajari saya, tapi saya rasa mungkin memang butuh instruktur professional supaya saya bisa dengan benar mendapatkan pengetahuan dasar untuk bermain ski. Setelah sekitar 1,5 jam jatuh bangun dengan amat memalukan, saya pun minta break. Saya pilih duduk istirahat sambil menikmati pemandangan sementara suami saya suruh bermain ski sendiri. Saya kasihan karena dia belum sempat benar-benar bermain ski karena harus mengajari saya.

Hampir 4 jam berada di area ski kami rasa cukup untuk petualangan kami hari itu. Kami pun bersiap pulang karena masih harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam. Akhirnya kesampaian juga keinginan saya untuk mencoba bermain ski. Senang karena sudah kesampaian, tapi jujur saya belum tahu apakah tahun depan masih mau mencobanya lagi mengingat tingkat kesusahannya. Apalagi setelah keesokan harinya sekujur badan saya terasa sakit semua, dan seakan-akan kaki saya terbuat dari batu: sakit dan kaku! Well, kita lihat saja ya tahun depan 😀

Image

On the way home …

Taman Nusa Bali

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, kali ini saya mau berbagi cerita tentang liburan kami ke Bali tahun lalu. Karena dari awal tujuan utama liburan kami adalah untuk mengisi liburan sekolah anak saya Daffa, maka tempat-tempat yang kami kunjungi pun juga disesuaikan. Dan sebelum kami berangkat ke Bali saya sudah browsing-browsing di internet tentang tempat-tempat yang menarik buat anak-anak usia sekolah.

Yang pertama adalah Taman Nusa yang berada di Gianyar, Bali. Konsep utama dari taman seluas 15 hektar ini adalah untuk mengenalkan beragam budaya tradisional Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dengan cara yang menarik dan edukatif. Sekilas memang konsepnya hampir sama dengan Taman Mini Indonesia Indah, dimana pengunjung bisa mengenal beragam budaya dari berbagai rumah adat yang ditampilkan. Nah, di Taman Nusa ini kesan ekslusif lebih terasa. Bisa jadi karena taman ini masih cukup baru karena baru mulai dibuka untuk umum pada bulan Juli 2013.

Sewaktu kami kesana, suasana Natal masih sangat terasa. Dekorasi pohon natal, para staff yang memakai topi santa serta beberapa staff yang memainkan lagu-lagu bernuansa natal menggunakan alat musik kulintang. Oh iya, ada juga seorang staff yang memakai kostum santa yang menyambut kami di area kedatangan juga. Untuk tiket masuknya kami masih mendapatkan harga soft opening, yaitu untuk wisatawan domestik IDR 75.000/dewasa dan IDR 50.000/anak-anak. Untuk WNA tanpa KITAS harganya USD 25/dewasa dan USD 12,5/anak-anak. Memang sih termasuk mahal tapi bagi kami sesuai dengan pengalaman yang kami dapatkan. Apalagi bagi anak-anak yang sudah usia sekolah ini adalah salah satu wisata edukatif yang menyenangkan. Begitu membayar kami mendapatkan masing-masing sebuah gelang kertas yang harus kami pakai, di pintu masuk kami tinggal mengulurkan gelang tersebut untuk discan. Untuk info lebih lengkap bisa dilihat website resminya http://www.taman-nusa.com/

Continue reading

Bekerja di Perancis

Banyak teman-teman saya yang sudah lebih duluan tinggal di sini mengeluhkan betapa susahnya mencari pekerjaan di Perancis. Biasanya faktor bahasalah yang menjadi kendala utama. Meskipun pekerjaan yang ada lebih banyak berhubungan dengan kemampuan fisik, tapi pihak pemberi kerja biasanya lebih memilih orang-orang yang mampu berbahasa perancis, paling tidak secara lisan supaya nantinya lebih mudah berkomunikasi tentang pekerjaan.

Saya sendiri sudah mendaftarkan diri ke Pôle Emploi, yaitu semacam kantor yang menampung para pencari kerja. Sudah sejak bulan April 2012 lalu saya mendaftar di sana dengan harapan bisa dibantu untuk mendapatkan pekerjaan atau paling tidak bisa dapat training gratis bagi para pencari kerja. Tapi memang tidak semudah yang dibayangkan, karena sewaktu bertemu dengan conseiller (konsultan) di sana lagi-lagi mereka menekankan perlunya kemampuan berbahasa perancis dengan baik dan benar sebelum bisa benar-benar bekerja. Demikian juga bila ingin mengikuti pendidikan/training yang berhubungan dengan jenis pekerjaan yang diinginkan, bahasa perancis pun lagi-lagi jadi kendala. Saya sempat putus asa karena madame conseiller nya berkali-bilang bilang begitu setiap kali saya ke sana. Akhirnya saya bilang kalau saya mau ikut training bahasa perancis saja dulu supaya kemampuan saya bisa meningkat. Untungnya saya langsung dapat kesempatan buat belajar bahasa lagi sampai sekarang.

Nah, kemarin kan saya cerita kalau saya sempat bekerja meskipun cuma sebentar. Bagaimana ceritanya? Bukannya saya masih belum fasih berbahasa perancis? Well, memang yang namanya keberuntungan itu bisa mendatangi siapa saja ya. Ya contohnya saya yang sama sekali sudah mulai memupus harapan untuk bisa bekerja secepatnya, eh ternyata malah dapat tawaran kerja. Jadi, waktu itu beberapa hari setelah kepulangan kami dari liburan ke Indo, suami saya ditelpon oleh le maire (kalo di Indo sih seperti lurah gitu) yang menanyakan apakah saya masih mencari kerja. Dulu, setahun yang lalu suami saya pernah bertemu sama pak lurah ini waktu belanja di Carrefour terus mereka ngobrol-ngobrol dan suami saya cerita kalau saya kesusahan buat cari pekerjaan di sini. Nah, tentu saja suami saya dengan mantap menjawab iya. Si pak lurah pun kemudian bilang kalau saat ini dia lagi butuh seseorang buat bekerja di sekolah, menggantikan pegawainya yang sedang mengikuti training selama 8 hari. Oh iya, di sini memang sekolah paling dasar (l’école) biasanya jadi satu dengan kantor kelurahan/balai kota (La Mairie), jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan l’école biasanya juga berada di bawah wewenang seorang le maire. Ok, balik ke masalah tawaran pekerjaan tadi le maire bilang bahwa lebih enak kalau kami bisa bertemu langsung supaya dia juga bisa menerangkan dengan lebih jelas deskripsi pekerjaannya. Kebetulan waktu itu kami ada rendez-vous siang hari di Limoges jadi sekalian jalan kamipun mampir ke la mairie.

Singkat cerita, setelah mendengar penjelasan dari le maire saya pun bilang tertarik dan mau ambil pekerjaan tersebut. Keesokan harinya kami ke la mairie lagi karena saya harus menandatangani kontrak kerja serta menyerahkan perlengkapan data sebelum mulai bekerja seperti kartu identitas dan data bank. Di sini kalau kita mau mulai bekerja biasanya akan diminta menyerahkan RIB, ini adalah data tentang rekening bank yang kita miliki karena nantinya gaji akanlangsung ditransfer ke rekening tersebut. Untungnya saya juga sudah punya rekening bank sendiri, karena saya sudah membuatnya sewaktu awal pindah ke Perancis. Nah, setelah tanda tangan kontrak sayapun bersiap untuk mulai bekerja pada hari Senin minggu berikutnya.

Awalnya saya sempat merasa sangat nervous, khawatir kalau-kalau nanti saya bikin salah, takut kalau nanti nggak paham instruksi kerja serta merasa minder karena was-was kalau orang-orang di tempat kerja nanti nggak paham bahasa saya yang masih amburadul. Saya sampai susah tidur pada minggu malamnya karena kepikiran banget, untungnya suami saya sangat sabar dan pengertian. Berkali-kali dia menenangkan saya dan berusaha mengajak saya untuk menganalisis situasi tersebut dengan logika. Yang penting kan saya mau mencoba, dan kesempatan baik kan harus diambil, lumayan buat dimasukkin ke cv dan lain sebagainya.

Akhirnya saat itupun tiba, saya mulai bekerja untuk pertama kalinya. Ternyata tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya, karena pekerjaan yang harus saya lakukan pun tidak terlalu ribet. Deskripsi pekerjaan saya adalah menjaga anak-anak kecil di pagi hari sebelum mereka masuk ke kelas, menyiapkan makanan di kantin (nggak masak karena makanannya diambil dari sekolah lain), membantu guru untuk ekstrakurikuler dan yang terakhir adalah bersih-bersih. Karena saya hanya bekerja selama 8 hari, beban kerjanya pun juga tidak terlalu berat karena bersih-bersih hanya dilakukan 3 kali seminggu dengan porsi terbesar di hari jumat. Memang sih ini bukan jenis pekerjaan yang saya idam-idamkan, tapi pengalaman bekerja itu sendiri sangat berkesan buat saya. Selain mendapatkan sedikit uang saku tambahan, sayapun jg bisa sedikit meningkatkan kemampuan Bahasa saya. Yang paling utama adalah saya menjadi lebih percaya diri, bahwa saya pun bisa bekerja di Perancis walaupun kemampuan bahasa saya masih sangat pas-pasan. Dan setelah kontrak kerja saya selesai, pihak la mairie mengirimkan semacam surat keterangan kerja untuk saya. Wah, rasanya bangga deh karena saya kan cuma bekerja selama 8 hari tapi tetap mendapat surat keterangan kerja. Lumayan ya bisa ikutan mejeng di CV saya nanti kalau ada lowongan pekerjaan lainnya lagi 🙂

Update

Holaaa… Saya kembali lagi 😀

Setelah pertengahan Desember sampai awal Januari kemarin mudik ke Indo, akhirnya kesampaian juga saya update blog lagi. Bukannya sok sibuk, tapi memang setelah kembali dari liburan ada beberapa hal yang harus saya urus. Beberapa janji temu (rendez-vous) dengan dokter sudah menanti, terus saya juga harus mengikuti ujian bahasa Perancis yang jadwalnya sudah saya terima sebelum kami ke Indo, rendez-vous dengan konsultan di kantor pencari kerja (pôle emploi), dan seperti biasa masuk sekolah bahasa dan sekolah menyetir (auto-école). Oh iya saya juga sempat kerja lho, meskipun cuma sebentar tapi lumayan lah buat pengalaman. Untuk pengalaman kerjanya saya ceritakan di postingan berikutnya aja ya…

Untuk liburan ke Indo, kami di sana selama kurang lebih sebulan. Puas banget karena bisa jajan sana sini sepuasnya, terus juga seneng banget karena selain bertemu keluarga, bisa menghadiri pernikahan kakak saya, kami juga sempat jalan-jalan ke Bali selama satu minggu. Selain mengunjungi beberapa objek wisata wajib di Bali seperti Tanah Lot, Uluwatu, berbagai pura dan pantai, menonton pertunjukan tari barong; kami juga menyempatkan seharian berkeliling Taman Nusa di Gianyar, serta menginap di Mara River Safari Lodge yang berada di dalam kompleks Bali safari and Marine Park. Banyak cerita ya sebenarnya yang bisa saya bagi, tapi sepertinya lebih asyik kalau saya bagi per tema saja di postingan terpisah. Until next time 🙂

Copy-Paste

Sudah lama saya nggak nulis di blog. Bukannya kekurangan ide, banyak banget malah ide-ide bertebaran di kepala saya. Saking banyaknya malah jadi bingung sendiri. Nggak tahu ya, ternyata memang berkomitmen itu tidak mudah. Niat pengen bisa rajin nulis dan rutin nge-post tulisan hanya bertahan jadi sekedar niat aja, tapi kenyataannya ya tetep aja rasa malas lah yang selalu keluar jadi pemenangnya. Guilty! 😀

Well, anyway… Kali ini saya pengen cerita tentang etika berinternet. Bukan, bukannya saya sudah menjelma jadi ahli etika IT atau pakar semacam itu. Tapi ini cerita berdasar pengalaman saja. Saya sengaja tulis di sini buat sharing aja, siapa tahu ada juga yang pernah mengalami tapi mungkin tidak menyadarinya. Jadi ceritanya nih, akhir-akhir ini saya hobinya blogwalking. Browsing sana sini, baca ini itu tapi amsih males buat nulis. Nah suatu saat saya menemukan sebuat blog yang ternyata ditulis oleh seseorang yang saya kenal lewat sebuah group di Facebook. Kami sudah beberapa kali chat, bahkan voicecall via skype tapi belum pernah bertemu secara langsung. Intinya kami ini berteman meskipun bukan teman dekat. Singkat cerita, di blognya ini seorang teman ini bercerita tentang kehidupannya semenjak pindah ke Eropa untuk belajar. Jumlah postingannya sendiri tidak terlalu banyak, karena lebih banyak postingan fotonya. Saya sih nggak kaget karena memang tahu kalau dia punya hobi fotografi. Yang bikin saya kaget adalah, ada salah satu judul postingan dia yang sama persis dengan judul sebuah dokumen yang saya posting di group FB yang kami ikuti. Waktu itu saya bikin dokumen yang isinya tentang informasi proses pengurusan dokumen resmi di Negara tempat saya tinggal sekarang. Penasaran, saya pun baca baik-baik isi postnya. Saya sih berpikir mungkin dia punya info yang lebih lengkap dari yang saya posting di group. Eh, ternyata dia mengkopi persis apa yang saya tulis di group itu. Bedanya, di dokumen yang saya posting di group itu saya cantumkan juga detil informasi tentang saya sementara di blog seorang teman itu detil tersebut dihapus. Beneran deh saya kaget. Bukan apa-apa, informasi yang saya bagi di group itu memang bersifat umum dan memang untuk konsumsi publik. Bukan suatu mahakarya pula. Tapi yang jadi fokus saya adalah etikanya. Itu kan tulisan saya, seremeh apapun itu kan hasil pemikiran saya. Niat saya memang berbagi supaya kalau ada yang membutuhkan jadi bisa tahu. Namun bukan berarti bisa dicopy-paste begitu saja kan? Saya sering baca banyak kasus dimana para blogger didzalimi karena karya mereka yang kebanyakan berupa foto dicuri dan dimanfaatkan untuk kepentingan pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Sedikit banyak saya juga merasa hasil pemikiran saya dicuri, dalam skala yang jauhhhh lebih kecil tentunya. Apalagi ini dilakukan oleh orang yang notabene saya kenal meskipun cuma lewat FB. Saya jadi penasaran, apa tujuannya? Kalau memang dia pengen berbagi informasi di sokumen tersebut paling nggak dia bisa kan bilang dulu ke saya. Sekedar ngasih info lah kalau dokumen saya mau dia pasang di blognya. Toh kami masih chat juga kadang-kadang. Saya nggak mungkin keberatan kalau memang dia bilang duluan. Wong, malah bagus kok kalau pengalaman saya bisa dibagi dan tentunya saya berharap bisa bermanfaat juga buat orang lain. Tapi menemukan tulisan saya dipasang disana, seakan-akan itu adalah hasil pemikiran dia? Ini yang bener-bener bikin saya kecewa.

Meskipun kecewa tapi sejauh ini hal tersebut bukanlah masalah yang besar buat saya. Saya cuma berharap dia beretika dengan bilang ke saya terlebih dahulu. But well, memang banyak orang yang tidak beretika kan di dunia ini. Terlebih dunia maya. Sebenarnya saya sudah mulai agak lupa tentang copy paste ini, kalau saja kejadian itu tidak terulang lagi. Beneran lho, ada satu orang yang yang mengkopi tulisan saya dan dipasang di wall FB dia. Kali ini lengkap selengkap-lengkapnya seperti yang saya tulis di group. Bahkan tanggal pengurusan dokumen yang saya tulis di sana juga nggak diganti atau dihapus sama sekali. Oh la la! Jadi jadi mulai merasa penting deh, tulisan saya disuka ternyata! Hahaha…. Yang pasti sih mereka membaca tulisan saya di group, kemudian memutuskan untuk memasukan ke halaman pribadi mereka tanpa nyenggol saya sedikit pun. Mungkin kesannya saya berlebihan ya kalau mengeluh hanya gara-gara tulisan yang Cuma seuprit itu. Tapi gimana lagi, ya tetep saja saya kecewa. Wong meskipun Cuma kenal di FB kan kami juga sudah pernah berinteraksi. Apa susahnya sih bilang begini : ‘Eh, tulisanmu aku taruh di blog/FB ku ya’. Gampang kan ? Simpel kan ? Tapi ya lagi namanya beda kepala beda pikiran. Mungkin buat mereka itu nggak perlu, cuma tulisan nggak penting ini  Nggak tahu aja mereka waktu saya bikin tulisan itu saya sampai buka-buka lagi berkas-berkas saya supaya info yang saya bagi akurat, pakai puter otak pula supaya informasinya bisa tersusun dengan baik. Yah, balik lagi cuma bisa berharap semoga mereka sadar bahwa sekecil apapun bentuk tulisan itu, itu adalah hasil dari sebuah pemikiran yang tentunya melewati sejumlah proses dalam pembuatannya. Semoga mereka tidak lagi sekedar comot tulisan tanpa permisi lagi. Amin.

Kursus Mengemudi di Perancis

Salah satu hambatan utama buat saya semenjak hidup di Perancis adalah saya jadi amat sangat tidak independen. Yang biasanya dulu di Indo ke mana-mana tinggal ngacir naik motor atau bis sekarang hanya bisa duduk manis nunggu supir pribadi (baca: suami) nganterin pergi. Iya kalau pas suami lagi ada waktu, atau keperluannya bisa diatur jadwalnya. Kalau pas lagi mood pengen keluar tapi suami lagi kerja ya hanya bisa bengong jadinya. Inilah dampak dari lokasi rumah yang jauh dari mana-mana. Satu-satunya sarana transportasi yang bisa dijangkau ya hanya mobil. Mau naik sepeda sih bisa, tapi dijamin baru lima menit juga udah pegel-pegel semua badan karena medan genjot yang amat sangat tidak bersahabat. Jadi, satu-satunya solusi supaya saya bisa wara-wiri tanpa beban ya harus punya SIM Perancis.

Sudah hampir dua setengah bulan ini saya ikut kursus mengemudi di sini. Sebenarnya sih awalnya belum yakin banget kalau saya bisa mengikuti kursus satu ini. Maklum lah bahasa Perancis saya masih amat sangat acak adul, jangankan bisa paham penjelasan instrukturnya, buat ngerti isi buku panduannya aja saya musti empot-empotan buka kamus tiap beberapa detik! 😀 Tapi karena emang kepepet harus bisa nyetir supaya bisa bebas kalau mau pergi-pergi, plus udah niat juga supaya bisa cari kerja akhirnya nekatlah saya nurutin suami yang mendaftarkan saya ke sebuah auto-ecole di kota tetangga.

Sistem pembuatan SIM di Perancis sangat beda dengan di Indonesia tercinta. Di sini sebelum bisa ikut ujian untuk mendapatkan SIM, saya harus mengikuti semacam kelas untuk belajar rambu-rambu lalu lintas yang di sini biasa disebut Code de la Route. Jangan bayangkan seperti di Indo yang selalu saja ada celah buat yang mau cepat dan gampang ya, yang kalau ada uang pasti ada jalan. Di sini semua harus sesuai prosedur, dan peraturan juga sangat ketat. Belum lagi harganya yang mahal banget. Harga total untuk proses mendapatkan SIM tipe B (untuk mengemudi mobil) adalah sekitar €1500 bahkan bisa lebih tergantung auto-ecole nya. Kayaknya sih semakin ke kota semakin mahal. Bahkan saya dengar dari teman yang tinggal di daerah lain di sana biayanya bisa sampai €5000 an, duh ! Untung ya saya tinggal di desa jadi harganya masih lebih manusiawi meskipun buat dompet Indonesia saya itu udah mahal banget.  Tahapannya, untuk bisa memulai praktek mengemudi didampingi instruktur, saya harus benar-benar memahami semua rambu dengan baik. Nah, masalahnya adalah semua peraturan perlalu-lintasan tersebut tentunya dalam bahasa Perancis dan saya yang level bahasanya masih newbie banget ini jadinya benar-benar harus putar otak buat bisa paham. Untungnya instruktur di kelas saya orangnya cool, jadi suami diijinkan buat mendampingi saya di kelas supaya setiap instruktur memberikan penjelasan, suami bisa langsung menerjemahkan buat saya. Memang sih awalnya saya excited karena pasti lebih gampang lah kalo ada penerjemah privat yang bisa bantuin saya mencerna penjelasan intruktur. Eh, tapi ternyata sama aja loh. Si suami malah sering bikin saya bingung karena kadang dia pun nggak paham penjelasan si instruktur karena ternyata code di Perancis lumayan beda sama code sewaktu dia ujian di Denmark dulu. Belum lagi si instruktur ini cepet banget kalau ngomong, jadi suami pun juga keteteran buat nerjemahin buat saya. Pokoknya perjuangan banget deh buat saya supaya pelajaran Code de la Route ini bisa bener-bener nyantol di otak saya.

Untungnya saya sempat tanya sama instrukturnya, apakah ada semacam latihan tes yang bisa saya download di internet supaya saya bisa latihan lebih intensif ? maklum lah saya masuk kelas auto-ecole ini hanya 2 kali seminggu atau kadang 3 kali seminggu pas musim liburan, dan masing-masing sesi berlangsung kurang lebih 2 jam. Kalau nggak digenjot dengan latihan tes saya yakin pasti bakalan susah banget buat saya, jangankan tahu jawaban yang benar lha arti katanya aja saya musti cari dulu di kamus kok wkwkwk… Anyway, ternyata ada sebuah website yang khusus isinya latihan test yang isinya mendekati test sebenarnya. Memang sih nggak gratis. Untuk 61 seri test, harganya €20. Tapi lumayan lah, karena di setiap serinya selalu ada penjelasan mendetail yang bisa saya pause setiap saat buat buka kamus nyariin arti kata-kata yang saya nggak ngerti. Saya sih puas banget dengan website ini karena so far sangat membantu. Well, tinggal tunggu aja nanti hasilnya kalau saya udah dapat jatah buat ikut ujian di prefecture. Target saya sih awal tahun depan sudah bisa ikut ujiannya, kalau semua lancar ya semoga aja spring tahun depan saya sudah bisa keluyuran sendirian. Semoga ya, aminnn! J

Bakso Ikan Homemade

Hari minggu kemarin suami dimintain tolong sama tetangga buat bantuin nguras kolam ikan. Jadi ceritanya mereka punya dua kolam ikan yang besar banget, bahkan mirim-mirip danau kecil gitu. Beberapa tahun sekali mereka menguras kolam tersebut buat ngambilin ikan-ikan yang sudah gede, sementara yang kecil-kecil nantinya bakal dilepas lagi. Namanya juga tinggal di kampung ya, mirip-mirip sama di Indo di sini pun antar tetangga juga sering saling minta tolong. Dan biasanya juga setelah ditolong para tetangga akan ngasih sesuatu sebagai imbalan. Seperti hari minggu itu, setelah seharian bantuin tetangga, pulang-pulang suami udah nenteng ember berisi ikan. Cuma seekor sih, tapi gede dan baunya amis banget. Saya langsung putar otak, musti saya apakan itu ikan. Saya sebenarnya pecinta ikan goreng. Apapun jenisnya, asal digoreng garing trus dimakan pake nasi anget dan sambal beserta lalapannya sudah pasti sedap banget buat saya. Tapi begitu melihat ikan yang kemarin itu, saya malah nggak kepikiran sama sekali buat menggorengnya. Ngebayangin berapa banyak minyak goreng yang harus saya gunakan untuk deep-fried, bikin saya yakin buat cari cara lain buat mengolah ikan itu. Oh iya, saya bahkan nggak tahu jenis ikan apa yang dibawa pulang sama suami itu. Yang jelas sih ikan air tawar berdaging putih. Setelah ditimbang ternyata beratnya hampir 2 kilo sendiri ! Wah, bakal jadi pekerjaan berat nih buat membersihkannya. Untung saja suami mau ambil alih buat membersihkan isi perut ikan dan memisahkan kepalanya. Selanjutnya ikan saya simpan dulu di kulkas buat diolah keesokan harinya.

Keesokan harinya saya putuskan bahwa ikan akan saya bikin bakso ikan aja. Lumayan kan daripada beli di toko asia yang lumayan mahal harganya. Satu bungkus bakso ikan yang isinya sekitar sepuluh butir kecil harganya hampir 3€. Itupun rasanya juga biasa aja, cenderung hambar. Meskipun belum pernah nyoba bikin bakso sebelumnya (bahkan bakso daging juga belum), saya nekat aja uji coba berbekal resep hasil browsing sana sini. Kalaupun nanti gagal, toh ikan gratisan juga ini hehehe…

Dengan niat sepenuh hati (hahaha lebay!) saya pun memulai proses pembuatan bakso ikan untuk yang pertama kalinya.Pertama-tama tentunya saya harus mengubah wujud si ikan menjadi filet biar mudah diolah. Waduh, tertanya nggak gampang bin susah ya. Saya sama sekali nggak ada ide gimana teknik yang jitu buat menguliti ikan yang sisiknya lumayan tajam itu. Akhirnya setelah bergulat dengan si ikan beberapa lama, tumpukan filet sudah berhasil saya kumpulkan di mangkuk.  Setelah saya timbang ternyata total daging ikannya adalah 1,5 kg. Banyak juga ya, saya jadi merasa sayang kalau semua dibikin bakso. Akhirnya setengah bagiannya saya masukkan ke freezer, kali aja besok-besok saya kumat rajin dan pengen bikin olahan ikan yang lain 🙂

Begitu filet ikan siap, saya pun mengikuti step by step cara pembuatan bakso ikan yang saya temukan di http://banbancute.blogspot.fr/2013/10/resep-bakso-ikan-hiwan.html  .Resep sengaja saya contek persis, hanya takarannya saja yang saya sesuaikan dengan jumlah daging ikan yang saya gunakan. Ternyata prosesnya nggak seribet yang saya bayangkan sebelumnya. Kurang lebih 2,5 jam saya di dapur dan bakso ikan yang aromanya luar biasa menggoda sudah siap buat digunakan.

IMG_3039

Yeyyy! Bisa bikin bakso juga ternyata 😀

Kali ini lagi-lagi sebagian bakso ikannya saya masukkan freezer juga, buat persediaan kalau sewaktu-waktu butuh buat campuran capcay kuah atau masakan lain. Dan sebagian lagi saya bikin sup bakso ikan, dengan memanfaatkan air bekas merebus bakso. Well, nggak sempat bikin foto step by step karena udah ribet dengan tangan yang berlepotan sisik ikan dan bau amis. Tapi masih sempat dong fotoin sup baksonya 🙂 Lumayan, meskipun masih harus dikoreksi lagi tingkat kekenyalan dan rasanya buat next time, tapi suami suka banget sampai nambah-nambah. Jadi pengen bikin bakso daging homemade nih, next project deh !

IMG_3042

Sup bakso ikan homemade 🙂