Antara Perancis Tengah – Solo – Denmark Selatan

WhatsApp Image 2017-06-21 at 15.51.44

Holaaaa…

Akhirnya bisa juga memaksa diri untuk menulis lagi di blog. Ada banyak peristiwa yang terjadi selama kurun waktu lebih dari 1 tahun saya berhibernasi.  Pengennya sih semua  saya ceritain, tapi kayaknya lebih afdol kalo saya bikin bersambung aja yaa

Nah, sekarang saya mau cerita dulu tentang judul postingan kali ini. Ada apa sih antara Perancis Tengah – Solo – Denmark Selatan? Jadi ini adalah kisah perjalanan keluarga kami selama kurang lebih setahun ini. Bulan Januari tahun 2016 sepulang dari liburan di Indo akhir tahun 2015, ternyata suami saya iseng-iseng ngelamar lowongan kerja yang ditemukannya di internet. Nggak tanggung-tanggung lokasinya di Indonesia. Awalnya sih iseng, eh ternyata malah diterima. Setelah diskusi cukup lama kami pun memutuskan untuk boyongan pindah ke Indonesia. Kami memilih tinggal di Solo supaya bisa dekat dengan keluarga.

Saya yang sedang hamil 5 bulan waktu itu sebenarnya agak galau juga. Masalahnya di Perancis bisa dibilang kehidupan kami sudah lumayan stabil. Pendapatan suami sudah tetap, saya pun sudah punya SIM dan ijazah formal yang bisa dipakai sebagai modal untuk mencari kerja nantinya. Apalagi sistem kesehatan yang bagus banget, hampir semua ditanggung pemerintah dan kalaupun banyak hanya sedikit banget. Belum lagi nantinya bisa dapat tunjangan anak yang nominalnya juga lumayan banget. Sayang kan ya sudah bertahun-tahun bayar pajak tapi nggak bisa dapat manfaatnya untuk lahiran dan tunjangan anak.

Tapi di sisi lain, pekerjaan yang di Indonesia ini juga menarik. Selain bisa sebagai batu loncatan untuk karir suami, bisa berada dekat dengan keluarga saya juga sesuatu yang tidak bisa digantikan dengan uang. Belum lagi suami yang udah pengen banget dari dulu buat nyobain hidup di Indo. Biasanya kan cuma buat liburan, itupun hanya maksimal sebulan aja.

Singkat cerita, setelah melewati proses pindahan yang lumayan bikin stres kamipun memulai hidup baru di Solo. Awalnya kami tinggal di apartemen selama sebulan, tapi kemudian pindah ke rumah kontrakan yang berada di kompleks perumahan. Bulan September tanggal 25, saya pun melahirkan di sebuah rumah sakit swasta di kota Solo.

Jujur, masih agak menyesal meninggalkan Perancis. Biaya lahiran di Solo sudah mahal, belum lagi perlengkapan bayi juga butuh dana yang tidak sedikit. Masih kebayang-bayang deh kalo misalnya dapat tunjangan anak di Perancis pasti bisa lebih tenang belanja segala keperluan si kecil. Belum lagi pekerjaan suami yang membutuhkan traveling. Sering saya harus berjibaku mengurus bayi sendirian tanpa asisten sama sekali kalau suami harus dinas luar kota. Waktunya bisa dari 3 hari sampai 2 minggu. Bahkan ketika si bayi baru berumur 1 minggu, sudah ditinggal suami kerja selama 10 hari.

Tapi yang namanya sudah memilih yang harus berani menerima konsekuensinya. Dan dari awal saya juga sudah paham resiko ditinggal-tinggal seperti ini. Lama-lama ternyata jadi terbiasa juga kok, apalagi sejak Bumi umur 2 bulan saya dapat ART yang datang seminggu 3 kali buat bantu bersih-bersih dan gosok baju. Lumayan lah saya bisa fokus ngurus bayi tanpa harus pusing mikir soal kerjaan rumah yang notabene emang bukan favorit saya hehehe

Sampai akhirnya sekitar akhir April kemarin, suami dapat pemberitahuan kalau kontrak kerjanya tidak diperpanjang. Jadi ceritanya, bos suami meninggal dunia mendadak karena serangan jantung. Perusahaan kemudian diambil alih oleh anaknya. Dan tanpa ada diskusi apa-apa tiba-tiba aja diputus kontrak kerjanya. padahal bulan Mei itu jadwalnya suami diskusi dengan bosnya untuk masalah kenaikan gaji, jatah liburan ke Denmark untuk summer holiday dll. Sempat shock sih karena nggak nyangka kalau kejadiannya malah seperti itu.

Akhirnya kami pun memutuskan bahwa inilah saatnya untuk kembali ke Eropa, tepatnya ke Denmark. Pertimbangannya adalah lapangan kerja terbuka lebih lebar dan lebih sesuai dengan profil suami. Kamipun juga bisa lebih dekat dengan keluarga suami. Keputusan sudah diambil, kamipun mempersiapkan semuanya dalam waktu kurang dari sebulan.

Bisa dibayangin ya stresnya kayak apa, super deh pokoknya. Barang-barang yang dikumpulin selama setahun harus dipacking dalam 2 koper besar, 2 koper kecil dan 1 box ukuran 29 kg untuk dikirim via pos. Belum lagi harus menjual mobil dan barang-barang lain yang ukurannya terlalu besar untuk dititipkan ke keluarga. Untungnya semua bisa beres sebelum kami harus berangkat ke Denmark. Yang paling susah sih harus meninggalkan keluarga di Indo lagi untuk waktu yang belum pasti. Semoga bisa secepatnya menabung, biar bisa secepatnya mudik lagi dan bertemu dengan keluarga. Aminn.

Jadiii itulah kenapa postingan kali ini saya kasih judul nan panjang seperti di atas. Karena memang begitulah perjalanannya, dari merantau di Perancis Tengah kemudian pulang kandang ke Solo dan sekarang gantian pulang kandangnya ke Denmark Selatan 😀

Update

Sudah berbulan-bulan nggak ngeblog rasanya kangen juga ya. Saya sebenarnya udah lama pengen nulis lagi di blog tapi entah mengapa kok rasanya susah banget buat memulai. Padahal ide buat menulis ada banyak banget sampai menuh-menuhin kepala. Tapi memang sejak saya mengikuti pendidikan bulan mei tahun kemarin, waktu saya sudah sangat tersita buat sekolah. Setiap hari saya harus berjibaku untuk bisa tiba di sekolah tepat waktu. Maklum ya, jarak yang harus saya tempuh kurang lebih 100 km pp. Setiap pagi saya sudah harus berangkat paling tidak jam 7.15, kalau lebih dari itu sudah pasti saya akan telat. Belum lagi begitu memasuki musim gugur kemudian musim dingin, cuaca semakin tidak bersahabat. Sering saya harus nekat menembut pekatnya pagi yang sangat berkabut, atau kadang berjuang menembus jalanan yang diguyur hujan ataupun salju. Untungnya sih meskipun terasa cukup berat, pendidikan itu berhasil juga saya selesaikan. Pertengahan bulan Desember 2015 kemarin saya menempuh ujian nasional untuk mendapatkan titel profesional, dan bersyukur saya lulus dengan komentar yang sangat memuaskan.

Tidak cukup hanya berhasil mendapat titel setelah berjuang selama beberapa bulan, sehari setelah ujian akhir saya dan suami langsung berangkat liburan akhir tahun ke Indonesia. Pokoknya bener-bener kado akhir tahun yang tidak ada bandingannya deh. Apalagi waktu itu kami dapat kesempatan untuk mencoba penerbangan kelas bisnis dari maskapai nasional kebanggaan Indonesia yaitu Garuda Indonesia. Sebenarnya awalnya sih tidak ada rencana untuk bepergian dengan kelas bisnis, tapi sewaktu mengecek harga tiket sebulan sebelumnya, kami melihat bahwa harga kelas ekonomi dan bisnis terpaut tidak terlalu jauh. Biasanya kan kelas bisnis harganya paling tidak dua kali lipat harga kelas ekonomi atau bahkan bisa lebih. dan waktu itu kami lihat ternyata selisihnya tidak banyak dan mengingat lamanya perjalanan maka kamipun sepakat untuk membeli tiket kelas bisnis. Keputusan yang sama sekali tidak kami sesali, bahkan bikin pengen lagi untuk bepergian dengan kelas bisnis. Tapi sepertinya harus banyak-banyak menabung lagi dulu ya karena beberapa kali saya iseng mengecek, saya tidak menemukan lagi harga semenarik yang dulu.

Kami tinggal di Indonesia sekitar kurang lebih 3 minggu. Cukup lama sebenarnya, tapi nggak tahu kenapa bagi saya rasanya masih terlalu singkat. mungkin memang dasarnya saya yang lapar mata pengen jajan macam-macam tapi belum semua kesampaian kali ya hehehe… Apalagi kebetulan juga ada beberapa agenda kunjung mengunjungi yang harus kami tepati sehingga meskipun liburan saya waktu itu juga harus memilah-milah waktu supaya bisa menyusun kegiatan yang sesuai. Dan hasilnya bisa ditebak, saya sampai di Indonesia langsung tepar, karena perjalanan yang memakan waktu belasan jam plus kondisi saya yang kecapekan setelah ujian final. Selama di Indonesia pun saya juga sempat jatuh sakit karena nggak tahan panas. Duh, manja banget ya, baru juga 2 tahun nggak mudik kena panas dikit langsung sakit 😀

Balik ke Perancis langsung disambut salju. Duh, beneran langsung terkaget-kaget deh ini body. Dari yang dingin ke panas, yang panas banget ke dingin menggigit. Jadi waktu itu ketika masih di mobil dalam perjalanan ke rumah dari stasiun kereta, kebetulan ada tetangga yang baik hati mau menjemput kami, tiba-tiba saja turun salju. Ya sudah, alamat saya pun harus rela menggigil kedinginan begitu sampai di rumah. Maklum lah pemanas di rumah butuh waktu buat bekerja, dan perapian juga belum bisa langsung berfungsi dengan baik karena nggak dipakai selama hampir sebulan. Dan bisa ditebak lagi-lagi saya sakit, lemes dan muntah-muntah nggak karuan. menderita banget deh pokoknya.

Eh tapi setelah iseng-iseng dicek, sakitnya saya ternyata karena saya hamil! Hahaha meskipun sebenarnya memang direncanakan, tetep sempat kaget juga karena cepet banget. Nggak nyangka aja begitu bilang : let’s have a baby … dan boom! beberapa minggu kemudian saya pun langsung hamil. Mungkin efek kebanyakan makan toge ya jadinya langsung tokcer  hahaha…

Jadi, akhirnya selama hampir 3 bulan sekembalinya dari Indo, sayapun nggak bisa terlalu banyak ngapa-ngapain karena benar-benar teler. Bahkan ada tawaran kerja buat ngegantiin orang yang cuti hamil pun terpaksa saya lewatkan. Sayang sih, tapi tetep lebih sayang kalau saya nggak jaga diri buat si baby, kan rejeki juga ini. Terlebih kondisi saya yang sangat tidak fit sama sekali tidak mendukung buat bisa bekerja. Mungkin karena faktor usia juga ya, namanya juga udah masuk pertengahan kepala tiga…

So, gitu deh yang bisa saya ceritain kali ini. Pengennya sih nanti bisa lebih banyak nulis juga. Selain untuk mengisi waktu, saya juga pengen update resep masakan yang sudah saya coba biar nanti kalau mau bikin lagi nggak perlu repot nyariin sumber resepnya. Terus pengen cerita-cerita lebih banyak tentang kehamilan juga deh. Semoga bisa konsisten ya nantinya, mohon doanya ya hehehe…

Kado Tahun Baru

Mumpung masih bulan januari, masih boleh ya cerita yang berbau tahun baruan 😀 Sebenarnya saya sih nggak pernah merayakan tahun baru, apalagi sampai harus ada kado-kadoan segala. Sejak dulu tahun baruan saya paling banter ya di rumah aja sambil liat tivi atau sekedar ngobrol sama keluarga. Pernah sih keluar sekali buat tahun baruan waktu jaman kuliah dulu, tapi langsung kapok karena terlalu ramai. Akhirnya tahun baru ya jadinya sama saja dengan hari-hari lain, tidak ada yang spesial.

Tapi tahun 2015 ini, adalah tahun baru yang spesial buat saya. Meskipun tetap bertahun baruan tanpa ada perayaan apa-apa seperti biasanya, saya dapat kado yang luar biasa bikin hati gembira. Yang spesial lagi kadonya juga bukan dari orang lain, tapi dari diri saya sendiri ! Hihihi bikin bingung ya ?! Well, awal tahun 2015 akhirnya cita-cita saya terwujud, saya berhasil mendapatkan SIM Perancis, yeyyyy ! Kalau kesannya saya lebay banget ada alasannya lho…. Maklum proses bikin SIM ini sudah saya lakonin sejak sekitar 1,5 tahun yang lalu. Berat banget perjalanannya dan sempat pula saya dihinggapi rasa putus asa. Belum lagi harganya yang mahal sempat bikin saya merasa terbebani kalau nggak lulus-lulus ujian. Tapi memang ya segala sesuatu ada waktunya, semua butuh proses seperti kata bijak dalam bahasa perancis : « chaque chose en son temps, un temps pour chaque chose ». Waktu 1,5 tahun memang lama, tapi melihat ke belakang saya sangat bersyukur karena akhirnya berhasil juga.

Dulu saya pernah menulis di blog ini ketika awal saya masuk sekolah menyetir atau di sini disebut auto-école (AE). Saat itu saya sempat menargetkan bahwa dalam waktu kurang dari 10 bulan saya sudah bisa mengantongi SIM Perancis. Memang ya namanya juga berusaha, ada yang langsung bisa kena sasaran ada juga yang harus pake meleset, dan saya adalah salah satu contoh kasus yang meleset. Waktu itu memang saya belum punya gambaran yang jelas tentang bagaimana proses mendapatkan SIM di sini. Saya sih waktu itu optimis saja bahwa saya bisa cepat dapat asal saya berusaha keras. Tapi pada kenyataannya banyak hambatan yang harus saya hadapi dalam setiap tahapannya.

Hambatan yang paling utama tentu saja masalah bahasa. Kemampuan bahasa perancis saya masih sangat cethek, apalagi yang berhubungan dengan istilah teknik kendaraan dan rambu-rambu lalu lintas. Saya harus berusaha ekstra keras dengan belajar latihan soal lewat internet supaya bisa memahami semuanya dengan baik. Untuk mendapatkan SIM ada 2 tahapan ujian yang harus dilalui : ujian teori dan ujian praktik. Untuk ujian teori code de la route peserta ujian harus menjawab 40 pertanyaan tentang rambu-rambu lalu lintas dan segala macam peraturan yang berhubungan dengan keselamatan berkendara di jalan. Untuk lulus ujian ini, peserta harus menjawab dengan benar minimal 35 soal. Saat itu saya harus mengulang sekali untuk ujian teori ini karena pada ujian yang pertama saya hanya menjawab dengan benar 34 soal. Sempat nyesel banget sih waktu itu karena di dalam ruang ujian saya sempat sadar bahwa ada 1 soal yang saya salah jawab tapi tidak mungkin saya koreksi karena saya sudah terlajur memvalidasi jawaban saya. Oh iya, di sini sistem ujiannya bukan ujian tertulis tapi menggunakan semacam remote untuk menjawab soal. Jadi begitu soal ditayangkan di layar proyektor, kami harus memencet jawaban yang benar dari beberapa pilihan jawaban yang disediakan, kemudian memvalidasinya menggunakan tombol yang ada di remote tersebut. Kalau kita lupa memvalidasi otomatis dianggap kita tidak menjawab soal dan kehilangan 1 poin. Untungnya saya berhasil di ujian yang kedua, meskipun harus menunggu sekitar sebulan sebelum mendapatkan kesempatan untuk ikut ujian lagi.

Beres dengan ujian teori, saatnya saya mulai praktik menyetir. Awalnya saya benar-benar grogi. Bagaimana tidak kalo itu adalah pertama kalinya saya pegang setir mobil. Di Indonesia dulu saya kemana-mana pakai motor kesayangan saya dan memang nggak pernah belajar setir mobil. Bisa dibayangkan betapa kakunya saya, stress dan gugup takut kalau nabrak atau nyetir kecepetan, dsb. Apalagi di sini praktik nyetir meskipun untuk yang pertama kali dilakukan langsung di jalan. Meskipun guru nyetir saya ngajarinnya bukan di jalan raya yang besar tetap saya saya was-was. Untuk bisa mengikuti ujian praktik SIM, seseorang harus sudah melalui minimal 20 jam praktik menyetir. Untuk yang belum terlalu mahir, 20 jam ini bisa ditambah yang tentu saja berarti tambah biaya juga. Untungnya di sini ada sebuah sistem yang sangat membantu memperlancar kemampuan menyetir yang disebut l’apprentissage anticipé de la conduite  (AAC)  atau disebut juga conduite accompagnée. Jadi dengan sistem ini murid sekolah menyetir diijinkan untuk menyetir mobil pribadi asal didampingi oleh seseorang yang sudah memiliki SIM minimal 5 tahun. Persyaratannya pun cukup mudah karena biasanya sudah diurus oleh AE masing-masing. Saya pun juga menggunakan sistem ini. Setelah mengurus administrasi untuk asuransi, saya pun sudah bisa menyetir sendiri didampingi suami saya. Buat saya terasa banget manfaat dari sistem AAC ini, karena saya jadi lebih terbiasa untuk menyetir di jalan umum. Meskipun kadang masih juga grogi tapi saya merasakan perkembangan dalam kemampuan menyetir saya. Selain memperlancar kemampuan menyetir, sistem AAC ini juga menguntungkan dari segi ekonomi, pasalnya kita tidak harus terpaku dengan jadwal latihan menyetir dari AE yang berarti juga mengurangi biaya yang kita keluarkan untuk membayar guru AE. Maklum biaya per jam nya lumayan mahal yaitu 35€, dan di daerah lain bisa lebih mahal lagi. Oh iya dengan sistem AAC ini saya hanya boleh menyetir di wilayah Perancis saja dan di bagian kaca belakang mobil harus ditempel stiker AAC.

Stiker AAC. Gambar diambil dari wikipedia.

Setelah beberapa bulan menjalani sistem AAC bersama suami saya pun merasa siap untuk mengikuti ujian praktik. Kami pun meminta jadwal ujian ke AE. Sayangnya kami tidak langsung dapat karena banyaknya antrian peserta ujian praktik. Mungkin karena waktu itu musim panas di mana anak-anak sekolah sudah mulai liburan dan mereka yang sudah cukup umur biasanya juga berbondong-bondong mengikuti ujian SIM. Setelah menunggu cukup lama, enam bulan sejak saya memulai AAC, saya pun mendapatkan jadwal ujian. Saya ingat waktu itu bulan november dan cuaca sudah mulai agak dingin. Meskipun saya sudah pede sewaktu praktik menyetir dengan suami, begitu dihadapkan pada ujian saya langsung gugup setengah mati. Entahlah, dada berdebar kencang dan tangan berkeringat dingin. Saya sempat praktik menyetir selama setengah jam dengan guru AE untuk menyesuaikan dengan mobil yang akan digunakan untuk ujian. Semua berjalan lancar, dan saya pun mulai bisa tenang dan optimis kalau saya bisa. Waktu ujian pun tiba, penguji saya adalah seorang perempuan yang sebenarnya cukup ramah. Sebelum berangkat ia mengecek kartu identitas saya dan menjelaskan tentang bagaimana ujian akan dilakukan. Dan ujian pun dimulai. Awalnya saya cukup tenang karena jalan yang kami lalui adalah jalan yang saya kenal. Tapi begitu memasuki tengah kota, sang penguji menyuruh saya belok kanan ke jalan yang saya sama sekali tidak kenal. Dari situlah semua bermula, saya langsung stress tingkat dewa, gugup luar biasa sampai-sampai ibu penguji ini harus menegur saya beberapa kali karena dianggap tidak menyetir dengan benar. Saya pun semakin stres karena ditegur. Luluh sudah rasa percaya diri saya, dan meskipun pertanyaan teknik bisa saya jawab dengan benar, saya tidak lulus ujian karena ada kesalahan fatal yang saya lakukan yang membuat nilai saya gugur atau éliminatoire. Parahnya untuk tahu apakah saya lulus atau tidak saya harus menunggu 2 hari karena hasilnya tidak saya dapatkan hari itu juga tetapi dikirim ke rumah lewat pos. Saya pun pasrah, sedih dan hampir putus asa…

Untuk mendapatkan jadwal ujian berikutnya saya pun harus menunggu lagi. Kali ini juga cukup lama karena bertepatan dengan libur natal dan tahun baru. Saya sih hanya berharap supaya ketika akhirnya saya bisa ikut ujian lagi cuaca bisa cukup bersahabat. Maklum bulan januari cuaca sudah semakin dingin dan di beberapa tempat bahkan turun salju. Setelah 2 bulan, akhirnya saya bisa ikut ujian lagi. Kali ini saya lebih rileks, suami juga meyakinkan kalaupun harus mengulang lagi ya tidak apa-apa. Toh orang-orang perancis juga rata-rata harus mengulang beberapa kali sebelum lulus ujian SIM. Hari itu, tanggal 13 januari 2015, sepertinya memang hari keberuntungan saya. Meskipun pengujinya sama dengan yang menguji saya sebelumnya, kali ini semuanya berjalan sangat lancar. Terlepas dari udara yang sangat dingin, hari itu cuaca cerah bahkan matahari bersinar terik jadi saya tidak perlu khawatir akan jalanan yang licin atau salju. Rute yang diambil pun juga sudah saya kenal dengan baik, sehingga saya tidak ada masalah sama sekali. Semua pertanyaan bisa saya jawab dengan baik, dan ibu penguji juga malah keasyikan ngobrol dengan guru AE sehingga sempat kelupaan buat nyuruh saya bikin manuver parkir 😀 Leganya saya semua berjalan dengan lancar. Bahkan guru AE saya juga sempat menelpon saya setelah ujian dan bilang bahwa saya menyetir dengan sangat baik sewaktu ujian. Dia sangat yakin kalau saya bakalan dapat SIM, dan saya bilang kita tunggu saja hasilnya dalam 2 hari. Maklum ya, sempat gagal ujian sebelumnya bikin saya waspada supaya siap dengan apapun hasilnya. Dan benar saja begitu surat pemberitahuan hasil ujian praktik saya sampai di rumah, saya langsung melompat kegirangan. Tidak saja saya lulus ujian, tetapi poin yang saya dapat pun sangat memuaskan. Dari total 31 poin, saya mendapatkan 28 poin. Syarat kelulusan ujian SIM tipe B ini adalah 20 poin tanpa ada nilai E (éliminatoire). Kini saya sudah bisa menyetir sendirian berbekal surat kelulusan ujian serta kartu identitas perancis saya.Untuk SIM permanennya masih dalam proses, dan saya harus menunggu kurang lebih empat bulan lagi untuk mendapatkannya. Oh iya, stiker di kaca belakang mobil saya juga harus diganti dengan lambang huruf “A” yang menandakan bahwa saya adalah pengemudi pemula.

Stiker pengemudi pemula, bisa ditempel di kaca belakang atau di bodi belakang mobil. Gambar diambil dari wikipedia.

Akhirnya, bisa bernafas lega dan tersenyum lebar. Jujur saya memang sempat khawatir tentang SIM ini, bahkan sempat enggan buat praktik menyetir dengan suami karena merasa down dan takut harus mengulang dan mengulang lagi ujian praktiknya. Selain bakalan lebih mahal, tentu saja pede saya bisa terkikis habis kalau harus gagal lagi. Belum lagi kesempatan buat cari kerja juga bakalan lebih susah kalau belum juga punya SIM. Maklum saja seperti yang sering saya bilang saya tinggal di desa yang nggak ada sarana transportasi umum, jadi buat bisa kemana-mana ya harus punya SIM. Dan benar saja begitu saya lulus ujian dan boleh nyetir sendiri saya merasa tenang. Rasanya saya mendapatkan kebebasan seperti sewaktu saya masih di Indonesia, bisa kemana-mana sendiri tanpa harus nungguin buat diantar suami. Belum lagi kini saya bisa mencantumkan di CV kalau saya sudah memiliki SIM.

So, tahun 2015 saya awali dengan kado menyenangkan untuk diri saya sendiri, yipppiiieee!!! 😀