Penghuni Baru

Dua minggu belakangan ini saya lumayan repot di rumah, seperti judul postingan kali ini saya harus mengurusi 2 penghuni baru di rumah kami. Bukan saudara atau teman sih yang jadi penghuni baru di sini tapi 2 ekor anak kucing yang tiba-tiba muncul di depan rumah 2 minggu yang lalu. Jadi ceritanya sabtu malam 2 minggu yang lalu, sekitar hampir tengah malam saya sedang di dapur menyiapkan makanan buat suami yang baru pulang lembur kerja. Sayup-sayup saya dengan ada suara kucing mengeong di luar. Saya sih yakin itu bukan suara kucing-kucing kami Mini dan Bailey karena selain saya hapal suara mereka, biasanya juga mereka cuma duduk di depan jendela aja kalau minta dibukakan jendela buat masuk ke rumah. Karena penasaran saya pun keluar dan mengecek, begitu pintu saya buka saya lihat dua ekor anak kucing yang masih kecil-kecil berlari mendekat. Mereka basah dan kotor. Yang satu terlihat takut dan menjaga jarak sementara yang satunya lagi langsung mendekat sambil masih tetap mengeong. Saya pun segera memberi mereka makanan dan susu kambing, kelihatan banget kalau mereka kelaparan. Suami saya yang tadinya hendak makan, jadi ikutan repot mengurusi kedua kucing tersebut. Karena sudah larut malam dan di luar masih gerimis, kamipun memutuskan untuk merawat mereka sampai esok hari. Rencananya suami saya akan telpon ke tempat penampungan hewan untuk supaya mereka bisa tinggal di sana sampai ada yang mengadopsi.

Keesokan harinya, setelah telpon sana sini suami saya pun menyerah. Ternyata semua tempat penampungan hewan sudah penuh. Suami saya juga berusaha untuk menelpon beberapa tetangga yang kemungkinan bisa membantu mencari orang yang mau mengadopsi anak-anak kucing tersebut tetapi hasilnya juga nihil. Sebenarnya sih saya nggak keberatan sama sekali buat merawat anak-anak kucing tersebut, saya pada pada dasarnya memang pecinta kucing apalagi melihat anak-anak kucing yang lucu saya pasti langsung luluh. Tapi memiliki hewan peliharaan di sini harus dipikirkan dengan baik-baik sebelumnya. Selain harus mengeluarkan biaya untuk makanan kucing, kami juga harus siap mengeluarkan biaya tambahan untuk sterilisasi dan vaksin. Biaya dokter hewan juga tidak murah, sementara kami sudah punya 2 ekor kucing dewasa. Belum lagi proses adaptasi antara kucing-kucing dewasa dengan anak-anak kucing ini pasti tidak mudah, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya butuh waktu lama sebelum Mini bisa menerima kehadiran Bailey, itupun juga tidak sepenuhnya karena setelah lebih dari setahun Mini tetap saja tidak mau berdekatan dengan Bailey meskipun mereka sudah bisa tidur di ruangan yang sama.

Akhirnya, dengan berat hati kamipun memutuskan untuk merawat anak-anak kucing tersebut. Bukan karena tidak suka tapi berdasar pertimbangan bahwa kami sudah punya 2 kucing dewasa. Jujur saja buat kami 2 ekor kucing dalam 1 rumah sudah lebih dari cukup, tapi kalau harus membuang 2 ekor anak kucing yang kami temukan tersebut juga tidak mungkin. Mereka masih sangat kecil-kecil, umurnya mungkin baru 6 atau 8 minggu waktu kami temukan. Sebenarnya aneh juga bahwa mereka bisa sampai di depan rumah kami waktu itu. Pertama-tama rumah kami cukup jauh dari rumah-rumah lain, bahkan bisa dibilang agak terpencil karena dekat dengan hutan, kedua kalau mereka adalah kucing liar pasti mereka akan lari melihat kami tapi sepertinya mereka sudah cukup terbiasa dengan keberadaan manusia sehingga kami curiga bahwa anak-anak kucing tersebut sengaja dibuang oleh seseorang di dekat rumah kami supaya kami temukan. Memang sih saya dengar juga lumayan banyak kasus seperti ini terjadi di daerah sini. Si pemilik kucing malas mensterilkan kucingnya kemudian beranak pinak tapi tidak mau merawat anak-anak kucingnya sehingga dibuang begitu saja. Kalau dipikir-pikir orang-orang seperti itu membuat susah juga bagi orang yang menemukan anak-anak kucing tersebut, karena dengan tidak adanya tempat di tempat penampungan hewan maka orang yang menemukan jadi tidak punya pilihan lain selain merawat mereka. Syukur-syukur kalau nantinya bisa menemukan orang yang mau mengadopsi mereka, kalau tidak ya harus diadopsi sendiri nantinya.

Seperti yang sudah saya duga, kami harus hati-hati dalam proses penyesuaian antara kucing lama dan kucing baru. Mini, kucing kami yang paling senior sama sekali tidak mau dekat-dekat dengan kedua anak kucing tersebut. Bahkan beberapa malam pertama dia tidak mau tidur di dalam rumah dan memilih tidur di gudang depan rumah kami. Sementara Bailey awalnya juga menolak, tapi setelah semingguan lebih ia pun mulai santai. Kalau awalnya saya harus buka tutup pintu supaya Bailey tidak seruangan dengan anak-anak kucing tersebut, sekarang mereka sudah bisa tidur di satu ruangan. Bahkan mereka sudah bisa bermain bersama, bahkan Bailey mengajari mereka buat memanjat pohon apel di belakang rumah! 😀 Tapi tetep sih, kalau mereka bermain bersama harus diawasi karena Bailey jauh lebih besar, kadang-kadang harus dipisah karena anak-anak kucing itu jadi kewalahan kalau pas Bailey terlalu bersemangat. Seru juga sih melihat mereka bermain-main, Bailey jadi seperti anak kucing lagi dan tingkah polah mereka lucu-lucu. Lumayan buat hiburan kalau pas lagi bosen hehehe…

Kittens

Meet Willow and Austin 🙂

Advertisements

Bekerja di Perancis

Banyak teman-teman saya yang sudah lebih duluan tinggal di sini mengeluhkan betapa susahnya mencari pekerjaan di Perancis. Biasanya faktor bahasalah yang menjadi kendala utama. Meskipun pekerjaan yang ada lebih banyak berhubungan dengan kemampuan fisik, tapi pihak pemberi kerja biasanya lebih memilih orang-orang yang mampu berbahasa perancis, paling tidak secara lisan supaya nantinya lebih mudah berkomunikasi tentang pekerjaan.

Saya sendiri sudah mendaftarkan diri ke Pôle Emploi, yaitu semacam kantor yang menampung para pencari kerja. Sudah sejak bulan April 2012 lalu saya mendaftar di sana dengan harapan bisa dibantu untuk mendapatkan pekerjaan atau paling tidak bisa dapat training gratis bagi para pencari kerja. Tapi memang tidak semudah yang dibayangkan, karena sewaktu bertemu dengan conseiller (konsultan) di sana lagi-lagi mereka menekankan perlunya kemampuan berbahasa perancis dengan baik dan benar sebelum bisa benar-benar bekerja. Demikian juga bila ingin mengikuti pendidikan/training yang berhubungan dengan jenis pekerjaan yang diinginkan, bahasa perancis pun lagi-lagi jadi kendala. Saya sempat putus asa karena madame conseiller nya berkali-bilang bilang begitu setiap kali saya ke sana. Akhirnya saya bilang kalau saya mau ikut training bahasa perancis saja dulu supaya kemampuan saya bisa meningkat. Untungnya saya langsung dapat kesempatan buat belajar bahasa lagi sampai sekarang.

Nah, kemarin kan saya cerita kalau saya sempat bekerja meskipun cuma sebentar. Bagaimana ceritanya? Bukannya saya masih belum fasih berbahasa perancis? Well, memang yang namanya keberuntungan itu bisa mendatangi siapa saja ya. Ya contohnya saya yang sama sekali sudah mulai memupus harapan untuk bisa bekerja secepatnya, eh ternyata malah dapat tawaran kerja. Jadi, waktu itu beberapa hari setelah kepulangan kami dari liburan ke Indo, suami saya ditelpon oleh le maire (kalo di Indo sih seperti lurah gitu) yang menanyakan apakah saya masih mencari kerja. Dulu, setahun yang lalu suami saya pernah bertemu sama pak lurah ini waktu belanja di Carrefour terus mereka ngobrol-ngobrol dan suami saya cerita kalau saya kesusahan buat cari pekerjaan di sini. Nah, tentu saja suami saya dengan mantap menjawab iya. Si pak lurah pun kemudian bilang kalau saat ini dia lagi butuh seseorang buat bekerja di sekolah, menggantikan pegawainya yang sedang mengikuti training selama 8 hari. Oh iya, di sini memang sekolah paling dasar (l’école) biasanya jadi satu dengan kantor kelurahan/balai kota (La Mairie), jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan l’école biasanya juga berada di bawah wewenang seorang le maire. Ok, balik ke masalah tawaran pekerjaan tadi le maire bilang bahwa lebih enak kalau kami bisa bertemu langsung supaya dia juga bisa menerangkan dengan lebih jelas deskripsi pekerjaannya. Kebetulan waktu itu kami ada rendez-vous siang hari di Limoges jadi sekalian jalan kamipun mampir ke la mairie.

Singkat cerita, setelah mendengar penjelasan dari le maire saya pun bilang tertarik dan mau ambil pekerjaan tersebut. Keesokan harinya kami ke la mairie lagi karena saya harus menandatangani kontrak kerja serta menyerahkan perlengkapan data sebelum mulai bekerja seperti kartu identitas dan data bank. Di sini kalau kita mau mulai bekerja biasanya akan diminta menyerahkan RIB, ini adalah data tentang rekening bank yang kita miliki karena nantinya gaji akanlangsung ditransfer ke rekening tersebut. Untungnya saya juga sudah punya rekening bank sendiri, karena saya sudah membuatnya sewaktu awal pindah ke Perancis. Nah, setelah tanda tangan kontrak sayapun bersiap untuk mulai bekerja pada hari Senin minggu berikutnya.

Awalnya saya sempat merasa sangat nervous, khawatir kalau-kalau nanti saya bikin salah, takut kalau nanti nggak paham instruksi kerja serta merasa minder karena was-was kalau orang-orang di tempat kerja nanti nggak paham bahasa saya yang masih amburadul. Saya sampai susah tidur pada minggu malamnya karena kepikiran banget, untungnya suami saya sangat sabar dan pengertian. Berkali-kali dia menenangkan saya dan berusaha mengajak saya untuk menganalisis situasi tersebut dengan logika. Yang penting kan saya mau mencoba, dan kesempatan baik kan harus diambil, lumayan buat dimasukkin ke cv dan lain sebagainya.

Akhirnya saat itupun tiba, saya mulai bekerja untuk pertama kalinya. Ternyata tidak seseram yang saya bayangkan sebelumnya, karena pekerjaan yang harus saya lakukan pun tidak terlalu ribet. Deskripsi pekerjaan saya adalah menjaga anak-anak kecil di pagi hari sebelum mereka masuk ke kelas, menyiapkan makanan di kantin (nggak masak karena makanannya diambil dari sekolah lain), membantu guru untuk ekstrakurikuler dan yang terakhir adalah bersih-bersih. Karena saya hanya bekerja selama 8 hari, beban kerjanya pun juga tidak terlalu berat karena bersih-bersih hanya dilakukan 3 kali seminggu dengan porsi terbesar di hari jumat. Memang sih ini bukan jenis pekerjaan yang saya idam-idamkan, tapi pengalaman bekerja itu sendiri sangat berkesan buat saya. Selain mendapatkan sedikit uang saku tambahan, sayapun jg bisa sedikit meningkatkan kemampuan Bahasa saya. Yang paling utama adalah saya menjadi lebih percaya diri, bahwa saya pun bisa bekerja di Perancis walaupun kemampuan bahasa saya masih sangat pas-pasan. Dan setelah kontrak kerja saya selesai, pihak la mairie mengirimkan semacam surat keterangan kerja untuk saya. Wah, rasanya bangga deh karena saya kan cuma bekerja selama 8 hari tapi tetap mendapat surat keterangan kerja. Lumayan ya bisa ikutan mejeng di CV saya nanti kalau ada lowongan pekerjaan lainnya lagi 🙂

Update

Holaaa… Saya kembali lagi 😀

Setelah pertengahan Desember sampai awal Januari kemarin mudik ke Indo, akhirnya kesampaian juga saya update blog lagi. Bukannya sok sibuk, tapi memang setelah kembali dari liburan ada beberapa hal yang harus saya urus. Beberapa janji temu (rendez-vous) dengan dokter sudah menanti, terus saya juga harus mengikuti ujian bahasa Perancis yang jadwalnya sudah saya terima sebelum kami ke Indo, rendez-vous dengan konsultan di kantor pencari kerja (pôle emploi), dan seperti biasa masuk sekolah bahasa dan sekolah menyetir (auto-école). Oh iya saya juga sempat kerja lho, meskipun cuma sebentar tapi lumayan lah buat pengalaman. Untuk pengalaman kerjanya saya ceritakan di postingan berikutnya aja ya…

Untuk liburan ke Indo, kami di sana selama kurang lebih sebulan. Puas banget karena bisa jajan sana sini sepuasnya, terus juga seneng banget karena selain bertemu keluarga, bisa menghadiri pernikahan kakak saya, kami juga sempat jalan-jalan ke Bali selama satu minggu. Selain mengunjungi beberapa objek wisata wajib di Bali seperti Tanah Lot, Uluwatu, berbagai pura dan pantai, menonton pertunjukan tari barong; kami juga menyempatkan seharian berkeliling Taman Nusa di Gianyar, serta menginap di Mara River Safari Lodge yang berada di dalam kompleks Bali safari and Marine Park. Banyak cerita ya sebenarnya yang bisa saya bagi, tapi sepertinya lebih asyik kalau saya bagi per tema saja di postingan terpisah. Until next time 🙂

Copy-Paste

Sudah lama saya nggak nulis di blog. Bukannya kekurangan ide, banyak banget malah ide-ide bertebaran di kepala saya. Saking banyaknya malah jadi bingung sendiri. Nggak tahu ya, ternyata memang berkomitmen itu tidak mudah. Niat pengen bisa rajin nulis dan rutin nge-post tulisan hanya bertahan jadi sekedar niat aja, tapi kenyataannya ya tetep aja rasa malas lah yang selalu keluar jadi pemenangnya. Guilty! 😀

Well, anyway… Kali ini saya pengen cerita tentang etika berinternet. Bukan, bukannya saya sudah menjelma jadi ahli etika IT atau pakar semacam itu. Tapi ini cerita berdasar pengalaman saja. Saya sengaja tulis di sini buat sharing aja, siapa tahu ada juga yang pernah mengalami tapi mungkin tidak menyadarinya. Jadi ceritanya nih, akhir-akhir ini saya hobinya blogwalking. Browsing sana sini, baca ini itu tapi amsih males buat nulis. Nah suatu saat saya menemukan sebuat blog yang ternyata ditulis oleh seseorang yang saya kenal lewat sebuah group di Facebook. Kami sudah beberapa kali chat, bahkan voicecall via skype tapi belum pernah bertemu secara langsung. Intinya kami ini berteman meskipun bukan teman dekat. Singkat cerita, di blognya ini seorang teman ini bercerita tentang kehidupannya semenjak pindah ke Eropa untuk belajar. Jumlah postingannya sendiri tidak terlalu banyak, karena lebih banyak postingan fotonya. Saya sih nggak kaget karena memang tahu kalau dia punya hobi fotografi. Yang bikin saya kaget adalah, ada salah satu judul postingan dia yang sama persis dengan judul sebuah dokumen yang saya posting di group FB yang kami ikuti. Waktu itu saya bikin dokumen yang isinya tentang informasi proses pengurusan dokumen resmi di Negara tempat saya tinggal sekarang. Penasaran, saya pun baca baik-baik isi postnya. Saya sih berpikir mungkin dia punya info yang lebih lengkap dari yang saya posting di group. Eh, ternyata dia mengkopi persis apa yang saya tulis di group itu. Bedanya, di dokumen yang saya posting di group itu saya cantumkan juga detil informasi tentang saya sementara di blog seorang teman itu detil tersebut dihapus. Beneran deh saya kaget. Bukan apa-apa, informasi yang saya bagi di group itu memang bersifat umum dan memang untuk konsumsi publik. Bukan suatu mahakarya pula. Tapi yang jadi fokus saya adalah etikanya. Itu kan tulisan saya, seremeh apapun itu kan hasil pemikiran saya. Niat saya memang berbagi supaya kalau ada yang membutuhkan jadi bisa tahu. Namun bukan berarti bisa dicopy-paste begitu saja kan? Saya sering baca banyak kasus dimana para blogger didzalimi karena karya mereka yang kebanyakan berupa foto dicuri dan dimanfaatkan untuk kepentingan pihak lain yang tidak bertanggung jawab. Sedikit banyak saya juga merasa hasil pemikiran saya dicuri, dalam skala yang jauhhhh lebih kecil tentunya. Apalagi ini dilakukan oleh orang yang notabene saya kenal meskipun cuma lewat FB. Saya jadi penasaran, apa tujuannya? Kalau memang dia pengen berbagi informasi di sokumen tersebut paling nggak dia bisa kan bilang dulu ke saya. Sekedar ngasih info lah kalau dokumen saya mau dia pasang di blognya. Toh kami masih chat juga kadang-kadang. Saya nggak mungkin keberatan kalau memang dia bilang duluan. Wong, malah bagus kok kalau pengalaman saya bisa dibagi dan tentunya saya berharap bisa bermanfaat juga buat orang lain. Tapi menemukan tulisan saya dipasang disana, seakan-akan itu adalah hasil pemikiran dia? Ini yang bener-bener bikin saya kecewa.

Meskipun kecewa tapi sejauh ini hal tersebut bukanlah masalah yang besar buat saya. Saya cuma berharap dia beretika dengan bilang ke saya terlebih dahulu. But well, memang banyak orang yang tidak beretika kan di dunia ini. Terlebih dunia maya. Sebenarnya saya sudah mulai agak lupa tentang copy paste ini, kalau saja kejadian itu tidak terulang lagi. Beneran lho, ada satu orang yang yang mengkopi tulisan saya dan dipasang di wall FB dia. Kali ini lengkap selengkap-lengkapnya seperti yang saya tulis di group. Bahkan tanggal pengurusan dokumen yang saya tulis di sana juga nggak diganti atau dihapus sama sekali. Oh la la! Jadi jadi mulai merasa penting deh, tulisan saya disuka ternyata! Hahaha…. Yang pasti sih mereka membaca tulisan saya di group, kemudian memutuskan untuk memasukan ke halaman pribadi mereka tanpa nyenggol saya sedikit pun. Mungkin kesannya saya berlebihan ya kalau mengeluh hanya gara-gara tulisan yang Cuma seuprit itu. Tapi gimana lagi, ya tetep saja saya kecewa. Wong meskipun Cuma kenal di FB kan kami juga sudah pernah berinteraksi. Apa susahnya sih bilang begini : ‘Eh, tulisanmu aku taruh di blog/FB ku ya’. Gampang kan ? Simpel kan ? Tapi ya lagi namanya beda kepala beda pikiran. Mungkin buat mereka itu nggak perlu, cuma tulisan nggak penting ini  Nggak tahu aja mereka waktu saya bikin tulisan itu saya sampai buka-buka lagi berkas-berkas saya supaya info yang saya bagi akurat, pakai puter otak pula supaya informasinya bisa tersusun dengan baik. Yah, balik lagi cuma bisa berharap semoga mereka sadar bahwa sekecil apapun bentuk tulisan itu, itu adalah hasil dari sebuah pemikiran yang tentunya melewati sejumlah proses dalam pembuatannya. Semoga mereka tidak lagi sekedar comot tulisan tanpa permisi lagi. Amin.

Kursus Mengemudi di Perancis

Salah satu hambatan utama buat saya semenjak hidup di Perancis adalah saya jadi amat sangat tidak independen. Yang biasanya dulu di Indo ke mana-mana tinggal ngacir naik motor atau bis sekarang hanya bisa duduk manis nunggu supir pribadi (baca: suami) nganterin pergi. Iya kalau pas suami lagi ada waktu, atau keperluannya bisa diatur jadwalnya. Kalau pas lagi mood pengen keluar tapi suami lagi kerja ya hanya bisa bengong jadinya. Inilah dampak dari lokasi rumah yang jauh dari mana-mana. Satu-satunya sarana transportasi yang bisa dijangkau ya hanya mobil. Mau naik sepeda sih bisa, tapi dijamin baru lima menit juga udah pegel-pegel semua badan karena medan genjot yang amat sangat tidak bersahabat. Jadi, satu-satunya solusi supaya saya bisa wara-wiri tanpa beban ya harus punya SIM Perancis.

Sudah hampir dua setengah bulan ini saya ikut kursus mengemudi di sini. Sebenarnya sih awalnya belum yakin banget kalau saya bisa mengikuti kursus satu ini. Maklum lah bahasa Perancis saya masih amat sangat acak adul, jangankan bisa paham penjelasan instrukturnya, buat ngerti isi buku panduannya aja saya musti empot-empotan buka kamus tiap beberapa detik! 😀 Tapi karena emang kepepet harus bisa nyetir supaya bisa bebas kalau mau pergi-pergi, plus udah niat juga supaya bisa cari kerja akhirnya nekatlah saya nurutin suami yang mendaftarkan saya ke sebuah auto-ecole di kota tetangga.

Sistem pembuatan SIM di Perancis sangat beda dengan di Indonesia tercinta. Di sini sebelum bisa ikut ujian untuk mendapatkan SIM, saya harus mengikuti semacam kelas untuk belajar rambu-rambu lalu lintas yang di sini biasa disebut Code de la Route. Jangan bayangkan seperti di Indo yang selalu saja ada celah buat yang mau cepat dan gampang ya, yang kalau ada uang pasti ada jalan. Di sini semua harus sesuai prosedur, dan peraturan juga sangat ketat. Belum lagi harganya yang mahal banget. Harga total untuk proses mendapatkan SIM tipe B (untuk mengemudi mobil) adalah sekitar €1500 bahkan bisa lebih tergantung auto-ecole nya. Kayaknya sih semakin ke kota semakin mahal. Bahkan saya dengar dari teman yang tinggal di daerah lain di sana biayanya bisa sampai €5000 an, duh ! Untung ya saya tinggal di desa jadi harganya masih lebih manusiawi meskipun buat dompet Indonesia saya itu udah mahal banget.  Tahapannya, untuk bisa memulai praktek mengemudi didampingi instruktur, saya harus benar-benar memahami semua rambu dengan baik. Nah, masalahnya adalah semua peraturan perlalu-lintasan tersebut tentunya dalam bahasa Perancis dan saya yang level bahasanya masih newbie banget ini jadinya benar-benar harus putar otak buat bisa paham. Untungnya instruktur di kelas saya orangnya cool, jadi suami diijinkan buat mendampingi saya di kelas supaya setiap instruktur memberikan penjelasan, suami bisa langsung menerjemahkan buat saya. Memang sih awalnya saya excited karena pasti lebih gampang lah kalo ada penerjemah privat yang bisa bantuin saya mencerna penjelasan intruktur. Eh, tapi ternyata sama aja loh. Si suami malah sering bikin saya bingung karena kadang dia pun nggak paham penjelasan si instruktur karena ternyata code di Perancis lumayan beda sama code sewaktu dia ujian di Denmark dulu. Belum lagi si instruktur ini cepet banget kalau ngomong, jadi suami pun juga keteteran buat nerjemahin buat saya. Pokoknya perjuangan banget deh buat saya supaya pelajaran Code de la Route ini bisa bener-bener nyantol di otak saya.

Untungnya saya sempat tanya sama instrukturnya, apakah ada semacam latihan tes yang bisa saya download di internet supaya saya bisa latihan lebih intensif ? maklum lah saya masuk kelas auto-ecole ini hanya 2 kali seminggu atau kadang 3 kali seminggu pas musim liburan, dan masing-masing sesi berlangsung kurang lebih 2 jam. Kalau nggak digenjot dengan latihan tes saya yakin pasti bakalan susah banget buat saya, jangankan tahu jawaban yang benar lha arti katanya aja saya musti cari dulu di kamus kok wkwkwk… Anyway, ternyata ada sebuah website yang khusus isinya latihan test yang isinya mendekati test sebenarnya. Memang sih nggak gratis. Untuk 61 seri test, harganya €20. Tapi lumayan lah, karena di setiap serinya selalu ada penjelasan mendetail yang bisa saya pause setiap saat buat buka kamus nyariin arti kata-kata yang saya nggak ngerti. Saya sih puas banget dengan website ini karena so far sangat membantu. Well, tinggal tunggu aja nanti hasilnya kalau saya udah dapat jatah buat ikut ujian di prefecture. Target saya sih awal tahun depan sudah bisa ikut ujiannya, kalau semua lancar ya semoga aja spring tahun depan saya sudah bisa keluyuran sendirian. Semoga ya, aminnn! J

Sekolah Lagi

     Sudah sebulan lebih nggak posting di blog, adaaaa saja yang bikin nggak sempat. Summer kemarin memang kami kebanyakan acara, mulai dari saya yang mulai masuk kursus nyetir, trus ganti sekolah bahasa Perancis sampai liburan ke Denmark yang disambung dengan menemani suami meeting di Bavaria, Jerman. Sebenarnya sih, pasti ada ya sedikit waktu luang buat nulis di blog. Sebaris dua baris lah paling nggak hihihi…. Tapi kemarinan itu saya juga lagi demen-demennya ngubek dapur, nyoba masak ini itu supaya nggak bosen dengan menu makanan sehari-hari. Hasilnya, saya pun lebih sering males kalau sudah capek di dapur. Maklum, memang sudah dari sononya bakat gede males 😀

     Kursus nyetir yang saya ikuti sebenarnya jadwalnya cuma dua kali seminggu, itupun hanya sekitar satu jam-an saja di kelasnya. Tapi yang bikin lama adalah perjalanan menuju sekolahnya yang harus ditempuh kurang lebih sejam pp. Duh, memang resiko tinggal di pinggir hutan ya jauhhhh dari mana-mana. Saya sendiri sebenarnya juga males-males gimana gitu. Membayangkan jalan ke sananya aja sudah bikin males, belum lagi belajar kode-kode jalannya yang bejibun. Jadi sistemnya adalah saya dikasih buku yang isinya semua kode-kode jalan yang berlaku secara umum di Perancis dan Eropa. Kemudian seminggu dua kali itu, di kelas kami praktek test kode untuk nanti bisa ikut ujian tertulis. Semakin sedikit kesalahan yang dibuat, semakin cepat kesempatan buat ikut testnya. Dan di sinilah masalahnya, pake bahasa Inggris aja belum tentu saya bisa hapal, lha ini semua pastinya dalam bahasa Perancis kan… Ya sudah, saya pasrah aja tetep masuk kelas padahal belum tentu bener-bener paham karena didkit-dikit musti buka kamus. Logikanya kan, kalau kata-katanya aja banyak yang nggak ngerti, pasti jadi nggak paham pertanyaannya kan? Nah, gimana bisa jawab dengan benar kalau sudah begitu. Bikin tambah males aja! tuh kan emang dasar saya ini pemalas hehehe… Fingers crossed aja deh, moga-moga saya kesambet pinter jadi bisa lancar hapalin kode-kode jalannya biar bisa cepat ikut ujian wkwkwk….
     Meskipun jadi sering spanneng gara-gara kursus nyetir, saya tetep happy karena di sisi lain sekolah bahasa Perancis saya mengalami progres. Jadi ceritanya, sekolah bahasa saya yang dulu itu sudah habis kuota jam saya untuk belajar di sana. Tapi karena gurunya baik, sebenernya saya masih bisa tetep saja datang buat belajar tanpa harus dihitung absennya. Yang bikin males adalah teman-teman sekelas saya(sebagian besar), meskipun nggak banyak, rasanya lambat banget pace-nya. Jadi kalau ada latihan soal gitu, mereka lama banget selesainya. Saya pun harus menunggu, menunggu dan terus menunggu sampai satu kelas selesai baru kemudian gurunya lanjut ke latihan berikutnya. Lama-lama kok saya jadi bosen ya, kurang tantangan deh rasanya… Anyway, berawal dari situlah saya coba-coba cari info tentant sekolah bahasa Perancis yang lain, yang saya bisa ikuti dengan gratis. Nah, sampai lah saya pada sekolah yang satu ini, yang saya dapatkan dari referensi Pôle Emploi, yaitu semacam kantor pencari kerja di Perancis sini. Akhirnya, begitu dapat surat kalau saya sudah bisa mulai di sekolah yang baru saya pun jadi semangat.
     Di sekolah yang baru ini, saya belajar dua kali seminggu: Senin pagi dan Selasa siang. Ternyata level bahasa pesertanya cukup menantang. Untuk yang hari senin saya belajar individual, banyak latihan lisan dan tulisan. Seneng deh nggak harus nunggu-nunggu wasting time lagi. Trus yang hari selasa, lebih pada conversation group. Di sini kebanyakan juga pesertanya sudah lumayan fasih berbahasa Perancis, dan urusan grammar mereka juga pada jago. Bener-bener challenging deh buat saya. Memang sih, ada kalanya bikin saya minder karena kadang-kadang saya jadi irit ngomong karena takut salah tapi karena gurunya baik-baik saya pun malah termotivasi buat bisa lebih baik lagi. Overall, saya suka deh dengan sekolah saya yang baru. Bahkan nunggu-nunggu nggak sabar mau masuk sekolah secara cuma dua kali seminggu, hehehe… 
     Sebenernya saya juga mau cerita tentang liburan ke Denmark kemarin, soalnya kami sempat mampir ke Legoland Resort di Billund. Trus sewaktu di Bavaria juga ada beberapa cerita menarik juga. Tapi next time aja ya, soalnya sekarang saya mau masak trus makan siang, habis itu siap-siap deh buat berangkat sekolah 🙂
     

My very first tumpeng!

Tumpeng ala kadarnya ^_^

     Sebenarnya saya nggak terlalu pede majang photo tumpeng di atas, maklum lah hasil kerjaan amatir jadi hasilnya jauhhhh banget dari kata cantik. Tapi nggak apa-apa lah, saya pede-pedein buat nampang sekalian aja untuk motivasi saya buat bikin yang lebih bagus ke depannya. Awalnya ketika terbersit ide buat bikin tumpeng, saya sudah minder duluan. selain pernak pernik jenis masakan yang harus dibikin, saya juga keder kalau harus mikirin tentang dekorasi tumpeng seperti yang saya lihat banyak beredar di blog-blog masak. Pengen banget bikin, tapi nggak pede. Apalagi memang belum ada momen yang tepat juga sebagai alasan buat bikin tumpeng. Maklum kami cuma berdua, kalau saya nekat bikin tumpeng lengkap dengan macam-macam masakan bisa-bisa 2 minggu baru bisa habis masakannya 😀
     Nah, weekend kemarin kami mengundang beberapa tetangga yang juga teman dekat suami untuk makan malam di rumah. Biasanya kalo bikin jamuan makan, saya selalu bikin masakan Indonesia selain karena suami saya juga cinta banget masakan Indonesia, saya juga pingin mengenalkannya kepada tamu-tamu kami. Dan kali ini saya pun bertekad bulat mau bikin tumpeng. Kebetulan memang sekitar 3 minggu sebelumnya saya juag berulang tahun, jadi hitung-hitung sekalian bikin tumpeng buat diri sendiri hihihi…
     Suami cukup mendukung ide saya, namun dia tetap mengingatkan bahwa saya nggak boleh terlalu ambisius dengan jenis masakannya karena pasti bakalan capek banget. Well, kalau tumpeng nggak pake masakan macam-macam ya bukan tumpeng ya namanya 😀 Saya pun bikin daftar lauk pelengkap buat nasi tumpeng. Selain itu saya juga harus mempersiapkan camilan untuk aperitif, makanan ringan untuk entrée dan juga dessert. Seperti biasa, saya pasti jadi kebanyakan ide yang bermunculan di kepala. Pingin masak ini itu dan semuanya! Akhirnya dari daftar panjang yang saya buat, saya harus realistis mencoret beberapa item yang tidak memungkinkan untuk dibuat karena terlalu memakan waktu.
     Jenis makanan yang saya buat adalah: Kacang goreng dan kerupuk bawang untuk aperitif, lumpia sayur dan salad tomat untuk entrée dan cheesecake dengan cherry sauce untuk dessertnya. Sementara lauk teman nasi kuningnya adalah: bakmi goreng, terik daging dan telur, bacem tempe dan tahu, sambel goreng kentang, ayam ungkep, dan acar kuning. Sepertinya sih nggak terlalu banyak ya, tapi bener deh setelah semua selesai kaki rasanya mau copot saking pegelnya berdiri seharian di dapur. Apalagi 2 hari sebelumnya saya juga sudah harus nyicil persiapan seperti goreng menggoreng serta bikin cheesecake.
     Untungnya meskipun baru kali pertama ini saya bikin nasi kuning tumpeng dan teman-temannya, rasanya tidak mengecewakan sama sekali. Para tamu kami sempat terkesan ketika saya mengeluarkan tumpeng. Meskipun jauh dari cantik, tapi cukup mewakili lah penampakannya. Oh iya, tumpengnya memang kurang padat mungkin karena kurang campuran beras ketannya atau karena saya buru-buru nyetaknya karena sudah pada nunggu kelaparan di ruang makan hehehe… Overall, saya puas dengan acara makan malam kali ini. Para tamu juga terlihat menikmati masakan saya, malah pada nambah juga. Segala pegal penat langsung hilang seketika deh 🙂
     Cheesecake nya juga juara (sayang nggak sempat photo-photo juga karena sudah ditungguin :(),  satu loyang langsung ludes oleh kami bertujuh karena pada nambah-nambah juga. Dan sebelum para tamu berpamitan pulang, mereka menyanyikan lagu Happy Birthday buat saya dalam berbagai versi. Dimulai dengan versi bahasa Inggris, kemudian bahasa Perancis, dilanjut dengan bahasa Denmark. Dan yang terakhir saya didaulat buat nyanyiin dalam bahasa Indonesia! Seru deh pokoknya. It was a very nice evening for everyone, and I was happy with my first tumpeng ^_^

Good to be back ^-^

 

Waaaa…. Sudah seabad rasanya saya tidak pernah menjamah blog ini lagi! Hehehe… lebay ya 😀 Tapi  ternyata janji untuk lebih giat posting di blog ini memang rasanya susah banget untuk ditepati. Ada saja alasannya. Yang sayanya sok sibuk ngurus rumah lah, yang kaminya mudik ke Denmark lah, yang ini, yang itu… Tapi dari semuanya alasan yang paling sering sih ya karena sayanya lagi nggak mood. Tetep ya, penyakit lama yang satu ini memang kambuhan banget. Ada nggak sih yang punya resep buat menyembuhkan penyakit kronis satu ini? Soalnya saya ini paling gampang kumat nggak moodnya. Dan kalau sudah begitu ya seperti ini, setelah 3 bulan lebih baru sekarang ini saya mulai posting lagi 😀

 

Banyak hal yang terjadi dalam kurun waktu 3 bulan ini. Salah satunya, Titre de Séjour saya yang kedua udah jadi bulan lalu. Surprise banget saya karena kali ini kartu saya langsung berlaku untuk  5 tahun. Padahal setahu saya, berdasarkan pengalaman teman-teman saya di daerah lain, Titre de Séjour ini harus 3 kali dapat baru bisa mengajukan untuk yang masa berlakunya 10 tahun. Jadi biasanya mereka tidak memberikan kartu yang validitasnya 5 tahun. Tapi saya malah baru perpanjangan pertama kali langsung dapat yang 5 tahun ini. Saya sih happy, dan bersyukur banget karena nggak perlu bolak balik ngurus perpanjangan ke préfecture sampai Juni tahun 2018 nanti 🙂

 

Masuk ke bulan Juni, cuaca di sini semakin membaik. Semakin cerah dan hangat. Pepohonan pun semakin hijau dan bunga-bunga mulai bermekaran warna-warni. Sungguh cuaca yang tepat buat saya 😀 Rasanya nyamannnnn banget deh kalau kemana-mana nggak perlu lagi dobel layer. Tinggal pake baju seadanya sama sendal jepit udah langsung jalan. Pokoknya saya bahagia banget deh summer begini. This is my favorite time of the year 🙂 Beberapa waktu lalu udaranya sempat cukup panas, bahkan mencapai 42°C. Udah gitu sempat pula nggak berangin sama sekali, jadi deh pada mateng seperti dipanggang hehehe… Tapi tetep sih sepanas-panasnya di sini masih lebih mending daripada di Indo, karena banyak pepohonan di sini jadi kalau kepanasan ya tinggal nyari pohon buat berteduh. Oh iya, bulan Juni kemarin kami juga mudik ke Denmark selama beberapa hari. Kebetulan suami ada training selama 2 hari di sana dan weekendnya kakak ipar suami berulang tahun yang ke-40. Nggak tahu kenapa tapi di Denmark udah jamak banget kalau ultah yang kelipatan 10 begitu biasanya dirayain. Dan untuk perayaan ultah kakak ipar kali ini, saya pun diserahin tugas untuk membuat dessert. Mereka minta saya untuk bikin cheesecake. Rupanya mereka terkesan dengan cheesecake yang pernah saya buat sewaktu kami di Denmark dulu. Dan nggak tanggung-tanggung, jumlah chessecake yang harus saya buat adalah 7 buah!!! Mana waktu bikinnya juga mepet karena malamnya kami baru balik dari tempat trainingnya suami. Untung saja saya punya asisten special yang benar-benar bisa diandalkan, siapa lagi kalo bukan suami tercinta hihihi… Dengan cekatan suami membantu saya dari mulai mempersiapkan bahan sampai proses membuat cakenya. Bahkan bagian bersih-bersih dapur juga diambil sama suami. Wahhh, benar-benar suami saya ini memang baikkkk banget. Love him even more and more 🙂

 

Apa lagi ya? Oh iya, 2 minggu yang lalu tanggal 14 Juli adalah La Fête Nationale Française atau hari nasional Perancis. Setiap tahun pasti ada perayaan besar-besaran untuk memperingati hari tersebut. Mirip-mirip dengan perayaan kemerdekaan di Indonesia, meskipun kalau di sini selain parade militer biasanya pada malam harinya juga ada atraksi kembang api yang spektakuler di hampir semua kota di Perancis. Dua tahun lalu saya sempat menyaksikan atraksi kembang api ini di Paris, di depan menara Eiffel. Memang luar biasa sih penampakan kembang apinya. Selain besar, berwarna warni, durasinya pun juga cukup lama. Pokoknya seru dan berkesan banget waktu itu. Nah, kalau tahun ini kami hanya melihat kembang api dari kejauhan saja jadi masih di sekitar rumah. Nggak terlalu seru sih, tapi lumayan menghibur. Lagipula hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun saya, jadi berasa aja kalau kembang apinya memang buat saya hahaha…

 

Minggu lalu saya juga sempat diajakin tetangga untuk volunteer di rumah liburan para penyandang cacat (handicap). Pada dasarnya sih saya memang pengen bisa lebih banyak mempraktekkan bahasa Perancis saya, jadi saya pun tertarik buat ikut. Lumayan seru di sana, saya bisa ngobrol-ngobrop dengan para handicap, membantu mendorong kursi roda mereka serta membantu di dapur buat bikin dessert. Di hari kedua saya datang, saya sengaja bawa lumpia sayur untuk mereka supaya mereka bisa mencoba merasakannya. Dan ternyata mereka suka banget, 25 buah lumpia sayur  berserta saus pedas manisnya ludes dalam sekejap. Bangga deh rasanya 🙂

 

Masih banyak cerita lain sih sebenarnya tapi sepertinya nggak penting-penting amat ya saya ceritain di sini. Takut malah bikin bosan nanti 😀 Yang pasti sih saya sangat menikmati summer yang super panas ini, nggak apa-apa lah saya jadi gosong karena jadi makin feels like home 🙂 And now, good to be back here ^-^

 
     
     

 

Belajar Bahasa Prancis

     Belajar bahasa asing selalu saja menjadi sebuah tantangan yang mengasyikkan buat saya. Ketertarikan saya pada bahasa asing bahkan membuat saya sempat mencoba untuk mempelajari beberapa bahasa asing dengan metode otodidak sewaktu saya duduk di bangku kuliah. Entah apa yang terjadi saat itu, semua bahasa yang saya pelajari semuanya mandeg tanpa ada hasilnya. Saya pun sempat mencoba bergabung dengan salah satu lembaga kursus bahasa asing, tetapi selalu saja tidak jadi mulai karena selalu saja waktunya tidak bisa sesuai dengan jadwal saya. Well, intinya sih meskipun suka saya terlalu malas untuk bersusah payah belajar sendiri hehehe…
     Nah, sekarang berhubung saya tinggal di Prancis maka saya pun dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa setempat. Dan saya beruntung karena hanya 2 minggu selang kedatangan saya kembali ke Prancis, saya sudah bisa langsung mengikuti kelas bahasa Prancis. Sebenarnya untuk bersekolah bahasa di Prancis bagi warga asing yang menikah dengan WN Prancis prosedurnya cukup panjang. Calon murid harus menunggu panggilan dari pihak imigrasi Prancis (OFII) sebelum bisa mulai masuk kelas. Lamanya juga beragam karena ada beberapa prosedur lain dari pihak OFII yang juga harus dijalani seperti medical check-up, seminar integrasi dll. Tapi karena saya menikah dengan WN Denmark maka ketentuan yang berlaku bagi saya adalah hukum EU, di mana prosesnya jauh lebih mudah dan cepat. Hmm, sepertinya memang dewi fortuna sedang nempel sama saya, buktinya banyak urusan saya yg dimudahkan hehehe…
     Kembali ke masalah sekolah bahasa, sudah 2 bulan ini saya mengikuti kursus yang diselenggarakan di Bourganeuf, kota kecil yang jaraknya sekitar 5 menit perjalanan menggunakan mobil. Karena di kota kecil, maka murid yang belajar di sini pun juga tidak terlalu banyak. Makanya saya lebih cenderung menyebutnya kursus, terlebih lagi saya pun hanya perlu pergi belajar 1 hari dalam seminggu dengan rentang waktu belajar 6 jam. Untuk tahap awal saya akan dapat pelajaran total 150 jam, kemudian saya harus mengikuti ujian kenaikan level pada bulan Mei tahun depan. Oh iya, sebagaimana sekolah bahasa di negara-negara lain di EU kelas bahasa ini juga gratis bagi pendatang asing yang sudah memiliki ijin tinggal di Prancis.
     Meskipun pada awal masuk kelas saya sempat stres karena kosakata bahasa Prancis saya yang sangat terbatas, namun akhirnya saya pun bisa mengikuti dengan cukup baik sekarang ini. Beruntung saya mendapatkan guru yang baik, selain ramah guru saya ini juga perhatian. Teman-teman sekelas saya pun juga cukup kondusif sehingga saya benar-benar menikmati proses belajar di kelas. Di kelas, saya adalah satu-satunya yang berasal dari Asia. Dua orang berasal dari Rumania dan selebihnya, sekitar 6 orang lain berasal dari Turki.
     Sebenarnya kemampuan berbahasa Prancis ini, terutama untuk parler (berbicara) dan ecouter (mendengar) akan lebih terasah bila banyak berkomunikasi dengan native speaker. Idealnya sih prakteknya bisa dengan keluarga maupun tetangga. Namun karena kami berdua adalah perantauan, maka tidak ada keluarga lain yang bisa saya ajak berlatih bahasa. Dan kami juga tinggal di desa kecil yang jarak antar tetangga sangat jauh, sekitar 2 km jadi nggak bisa sering-sering ngobrol juga. Lagipula tetangga terdekat kami adalah sepasang pensiunan WN Inggris. Jadi kalaupun ngobrol dengan mereka pasti juga dengan bahasa Inggris, hahaha… sama aja bohong ya? 😀
     Akhirnya saya pun hanya memperbanyak latihan di  rumah, selain berlatih dengan program belajar bahasa Prancis di komputer serta mengerjakan latihan yang saya dapat dari kursus, saya pun juga mulai menonton televisi berbahasa Prancis serta berkomunikasi dengan suami menggunakan bahasa Prancis. Bahasa itu kan memang erat kaitannya dengan komunikasi, kalau tidak pernah dipraktekkan kapan bisa menguasainya? 🙂 Dan rasanya saya pun telah jatuh cinta pada bahasa yang satu ini, karena terdengar indah ketika diucapkan. Francais est une belle langue ^_^

    

Aller au Cinéma!

The tickets


     Sebenarnya sudah lama banget saya dan suami pengen nonton di bioskop. Sejak pertama kali datang ke Prancis buat liburan tahun lalu, kami sudah berencana untuk sesekali ber-weekend dengan pergi ke bioskop supaya tidak bosan. Maklum kami tinggal di pedesaan yang cukup jauh dari kota. Perlu waktu sekitar 40-50 menit kalo kami mau pergi ke tempat yang cukup happening buat refreshing. Nah, masalahnya adalah setiap kali kami mencoba mencari informasi tentang bisokop di daerah kami  yang kami dapat adalah film-film yang ditayangkan kebanyakan berbahasa Prancis. Padahal kami maunya ya yang berbahasa Inggris saja supaya lebih mudah buat ngikutin jalan ceritanya. Sampai saya kembali ke Indo kemudian balik lagi ke Prancis tetap saja belum sempat buat ke cinema. Seiring waktu keinginan itu pun mulai terlupakan.
     Sampai suatu saat ketika saya sedang browsing-browsing internet saya menemukan sebuah forum perkumpulan orang-orang dari Inggris yang tinggal di daerah kami. Di sana banyak sekali info tentang bagaimana kehidupann di sini termasuk jadwal cinema yang berbahasa Inggris. Wah, bagaikan dapat durian runtuh saya pun langsung laporan ke suami. Setelah mengecek jadwal yang ada kamipun sepakat untuk pergi, kebetulan film yang tayang adalah James Bond : Skyfall. Horeee!
     Nah, ternyata prosedur (hihihi… bahasanya) nonton cinema di sini beda dengan di Indo. Pertama dari segi fisik tiket, seingat saya sih masih bagusan di Indo ya karena di sini tiketnya hanya seperti gambar di atas. Kedua harganya, kalau di Indo dengan harga segini bisa dapat yang VIP di sini ternyata semua sama tidak ada perbedaan kelas. Dan yang paling surprise buat saya adalah ternyata tidak ada pilihan seat, jadi begitu beli tiket harus segera berbaris antri supaya bisa dapat tempat duduk yang ideal karena di dalam juga tidak ada petugas yang mengatur. Well, beda banget ya sama di Indo di mana kita selalu bisa memilih seat yang kita inginkan, dan di dalam ruang cinemanya selalu ada petugas yang membantu kita mencari tempat duduk sesuai nomor.
     Meskipun berbeda dengan cinema di Indo, overall saya cukup puas dengan pengalaman pertama kali menonton film di cinema ini. Karena kualitas filmnya memang benar-benar bagus, audio dan visualnya cukup memuaskan. Saya kurang tahu ya bagaimana dengan cinema di kota lain yang lebih besar seperti Paris, Bordeaux, Lyon dll karena saya belum pernah mencobanya. Barangkali lebih baik, atau bisa jadi juga sama saja. Yang pasti sih, ini tidak akan jadi yang terakhir kali kami menonton cinema di sini 🙂