Pendidikan Profesional Gratis di Perancis

Sudah lumayan lama nih nggak nulis di blog, ngapain aja? Sebenarnya sih nggak terlalu sibuk-sibuk banget, tapi seperti biasanya saya memang sok sibuk ngurusin ini itu hehehe… Saking sok sibuknya, jadi nggak berasa ya kalau sekarang udah masuk ke pertengahan bulan April 2015. Dan sepertinya memang tahun 2015 adalah tahun keberuntungan buat saya karena sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Akhir tahun 2014 kemarin target saya adalah mendapatkan SIM setelah hampir 1,5 tahun menjalani semua prosesnya yang tidak mudah. Syukur alhamdulillah, saya akhirnya lulus ujian dan mendapatkan SIM meskipun harus mengulang beberapa kali. Target lainnya adalah mengikuti ujian bahasa Perancis di level yang lebih tinggi, dan setelah mengikuti kursus di Université de Limoges, pada bulan Januari kemarin saya berhasil mengikuti ujian DELF B2 dan hasilnya adalah saya lulus. Keberuntungan saya tidak berhenti di situ saja karena pada akhir tahun kemarin juga saya mengajukan permohonan untuk mendapatkan pendidikan profesional gratis dari kantor tenaga kerja, Pôle Emploi (PE) setelah sebelumnya permohonan saya menthok di permasalahan bahasa Perancis saya yang masih belum cukup level. Tanpa diduga ternyata permohonan saya mendapat respon positif dan bahkan minggu depan saya sudah mulai bisa mengikuti pendidikan (di sini biasa disebut formation) profesional di bidang sekretaris administrasi. Wuih, bener-bener deh sepertinya memang dewi fortuna lagi demen banget sama saya, nemplok terus sejak awal tahun hehehe…

Jadi pengen cerita nih soal proses untuk mendapatkan pendidikan gratis di Perancis, siapa tahu ya kali aja bisa berguna atau paling tidak bisa jadi catatan pribadi saya juga. Sejak awal saya sadar dengan bekal pendidikan dan pengalaman kerja yang saya dapat di Indonesia tidak cukup untuk mencari kerja sesuai dengan minat dan keinginan saya di sini karena penerapan sistem yang berbeda. Saya sih maunya bisa bekerja di bidang sekretariat atau administrasi seperti yang sudah saya lakukan di Indonesia dulu, tapi setiap kali saya mencoba mencari lowongan kerja di sini selalu saja terbentur pada masalah diplôme (ijasah) dan pengalaman kerja. Seperti pekerjaan yang saya lakonin tahun lalu, meskipun cuma sebagai tenaga bersih-bersih dibutuhkan juga kompetensi pengalaman kerja untuk melamar, kebetulan saja waktu itu yang dibutuhkan adalah sekedar tenaga pengganti dan suami saya kenal dengan pimpinan instansinya jadi saya bisa kerja tanpa proses yang sulit. Kembali ke masalah pendidikan profesional, saya pun mulai menyusun strategi supaya kelak saya bisa laku di pasar kerja Perancis yaitu dengan cara membekali diri saya dengan pendidikan yang diakui di Perancis.

Awal saya mendaftar di PE saya sudah dengan pedenya minta pendidikan profesional gratis. Alhasil diketawain lah saya waktu itu, wong bahasanya aja masih gagu kok minta pendidikan, mungkin gitu kali ya yang ada di pikiran conseiller saya waktu itu. Tapi saya tidak patah semangat, saya bilang kalau memang level bahasa saya belum cukup, ya saya minta dikasih formation bahasa dulu aja. Untungnya untuk yang ini saya nggak diketawain, saya kemudian diarahkan buat mendapatkan kursus bahasa Perancis lanjutan yang disebut Pass Linguistique. Inilah kursus bahasa Perancis yang saya ikuti 2x seminggu selama ini. Merasa bahwa kursus yang hanya 5,5 jam per minggu ini masih belum cukup, sayapun atas dorongan (dan biaya :D) dari suami mengambil 1 semester kursus Français Langue Etrangerè (FLE) di Université de Limoges. Tujuan saya sih jelas ya, supaya kemampuan bahasa saya bisa terdorong dengan lebih optimal. Maklum saja kalau di rumah saya merasa kesulitan untuk mempraktekkan  bahasa Perancis dengan suami karena bahasa Perancis adalah sama-sama bahasa asing kedua kami. Daripada sama-sama sakit kepala kamipun memilih untuk tetap berkomunikasi dengan bahasa Inggris saja yang terasa lebih nyaman buat kami. Dan kursus FLE ini ternyata memang sangat bermanfaat, saya pun merasakan kemajuan yang signifikan dalam kemampuan berbahasa saya.

Setelah pede bahwa kemampuan bahasa saya sudah lebih baik, saya pun kembali ke PE buat lagi-lagi minta pendidikan profesional gratis. Kali ini respon yang saya dapat cukup bagus. Setelah bertemu dengan konsultan PE saya pun direkomendasikan buat bertemu dengan Psychologue du Travail (PT), petugas yang khusus berurusan dengan pendidikan gratis. Hasil wawancara dengan PT adalah ada satu formation yang sesuai dengan minat saya, yang saat itu sedang membuka pendaftaran, yaitu formation Assistant de Direction atau sebutan umumnya Personal Assistant (PA). Saya kemudian diminta mengikuti serangkaian tes yang terdiri dari tes logika, matematika dan bahasa Perancis untuk melihat apakah saya memiliki kemampuan sesuai yang dibutuhkan untuk mengikuti formation tersebut. Di Perancis, formation professionnel ini dibagi dalam 5 level (niveau), dimana niveau I adalah level tertinggi. Sebelum bisa mengikuti formation, kandidat harus lulus ujian yang disesuaikan dengan level formation yang akan diikuti.  Fomation yang saya ikuti adalah niveau III.  Saya pun kemudian mengikuti tes di PE yang berdurasi kurang lebih 3 jam. Tesnya cukup sulit karena jumlahnya banyak (saya lupa jumlah pastinya tapi yang jelas lebih dari 100 soal) dan tentu saja semuanya dalam bahasa Perancis. Saya juga diminta untuk mengisi semacam kuesioner tentang motivasi saya mengikuti formation. Begitu selesai, pekerjaan saya langsung dikoreksi oleh PT dan saya diberitahu saat itu juga hasilnya. Untuk tes logika dan matematika hasilnya cukup bagus, sesuai dengan level yang dibutuhkan. Sementara untuk bahasa Perancis hasilnya masih agak di bawah level, meskipun poinnya cuma selisih sedikit. Sudah melangkah sejauh ini saya pun berusaha meyakinkan PT bahwa saya memiliki motivasi tinggi untuk belajar dan akan bekerja keras supaya bisa berhasil. Sepertinya argumen saya berhasil, PT bilang akan menghubungi guru bahasa Perancis saya dulu untuk berdiskusi kemudian akan menginformasikan kepada saya keputusannya. Seminggu kemudian saya mendapat surat yang menyatakan bahwa saya sudah dimasukkan ke pendaftaran awal formation di L’Association national pour la formation professionnelle des adultes (AFPA), sebuah organisasi penyedia pendidikan profesional untuk orang dewasa. Tahap selanjutnya adalah saya harus menunggu panggilan dari AFPA untuk menjalani serangkain tes berikutnya.

Setelah harap-harap cemas menunggu, hampir 3 bulan setelah mendapat keputusan dari PE saya pun menerima surat dari AFPA yang isinya saya diminta datang tanggal 18 Mei 2015 untuk memulai formation. Di sini lah saya mulai bingung campur senang, karena kalau saya langsung mulai formation berarti nggak perlu ikut tes lagi dong. Kalau nggak harus ikut tes lagi bahagia banget lah soalnya info yang saya dapat dari PE, sebelum bisa ikut formation saya harus melalui tes kemampuan komputer, pengetahuan dasar sekretaris dan tes bahasa Inggris. Untuk tes bahasa Inggris sih saya sudah pede aja, tapi 2 tes yang lain itu yang bikin saya was-was karena sama sekali nggak ada gambaran gimana tesnya nanti. Tapi ternyata saya salah, karena beberapa hari kemudian saya dapat telpon dari AFPA yang meminta saya datang untuk mengkuti tes seleksi. Duh, langsung deh panas dingin karena merasa belum siap dan bener-bener nervous…

Tahap selanjutnya pun dimulai, saya mengikuti tes di AFPA tanggal 16 April 2015. Durasi tes kali ini lebih lama dari di PE, saya mulai jam 9 pagi dan selesai sekitar jam 1 siang. Petugas yang memberikan tes adalah orang yang sama yang nantinya akan mengajar, di sini biasa disebut formateur (pria) dan formatrice (wanita). Formatrice yang memberikan tes cukup ramah, beliau sangat informatif dalam menjelaskan semua prosedur dan gambaran umum tentang formation Assistant de Direction. Setelah itu masing-masing peserta menghadap satu komputer sendiri-sendiri dan harus mengerjakan soal-soal yang sudah disiapkan di komputer tersebut. Waktu itu hanya ada 4 peserta termasuk saya. Kami harus menjawab sekitar lebih dari 100 pertanyaan pilihan ganda dan ada 2 soal yang berhubungan dengan Excel dan MS. Word. Setelah selesai, kami diwawancara satu per satu di kantor madame formatrice.

Jujur ya, saat itu saya sudah mulai hilang harapan. Buat saya soal-soalnya cukup susah karena beberapa bagian berupa pengetahuan umum ekonomi Perancis serta sistem bekerja di Perancis. Meskipun untuk tes bahasa Inggris tidak ada masalah, tapi saya merasa kesempatan saya untuk lolos seleksi adalah kecil. Begitu masuk ke ruangan wawancara, madame formatrice membuka pekerjaan saya dan menunjukkan hasilnya. Secara umum beliau langsung bisa melihat bahwa kemampuan bahasa Perancis saya masih belum mencukupi. Lumayan banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab yang berhubungan dengan pengetahuan umum ekonomi Perancis serta sistem bekerja di Perancis . Tapi untungnya level bahasa Inggris saya cukup bagus, dan madame yang baik hati ini kemudian malah mengajak saya untuk bicara dalam bahasa Inggris karena ternyata beliau ini adalah WN Inggris (saya sih sudah menduga dari awal karena nama beliau yang inggris banget hihihi). Wah, saya yang tadinya bener-bener tegang jadi mulai agak rileks. Kami berdiskusi cukup lama, saya jelaskan ke beliau situasi saya (bahasa Perancis adalah bahasa asing kedua, saya tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman yang membuat saya jarang berkomunikasi dengan bahasa Perancis, dll) dan berusaha meyakinkannya bahwa saya memiliki motivasi yang tinggi untuk mengkuti formation ini. Beliau sepertinya cukup paham dan bilang akan berusaha mencarikan solusi buat saya. Idenya adalah saya harus mengikuti formation bahasa Perancis yang intesif, lebih daripada peserta lainnya tapi tidak perlu mengikuti formation bahasa Inggris karena level saya lebih dari cukup. Namun beliau belum bisa memberi keputusan saat itu juga karena harus berdiskusi terlebih dulu dengan koleganya. Meskipun cukup lega karena beliau mau berusaha mencarikan solusi buat saya supaya bisa mengkuti formation, saya tetap merasa was-was dalam hati. Bagaimana pun juga kalau belum ada surat resmi yang menyatakan bahwa saya bisa ikut formation, tentunya masih banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi kan…

Setelah menunggu sekitar 2 hari saya dapat email dari madame formatrice yang  memberitahukan bahwa beliau akan menyiapkan formation khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan saya. Jadi seperti yang sudah beliau bilang sebelumnya, tidak ada formation bahasa Inggris tetapi lebih banyak formation bahasa Perancis. Saya pun langsung balas emailnya dengan BIG YES! Pokoknya kesempatan harus diambil, karena belum tentu datang 2 kali 🙂

Akhirnya 2 minggu yang lalu saya menerima dokumen-dokumen yang berhubungan dengan formation yang harus saya isi, dan kemudian dikirim balik. Duh, senangnya… Lega deh saya akhirnya positif bisa mulai proses pendidikan gratis ini. Oh iya, selain pendidikan ini gratis, saya nantinya juga akan menerima remuneration. Besarannya sih saya belum tahu pasti, tapi yang jelas lumayan lah buat uang saku sama buat ongkos jalan. Jadi lumayan banget kan, dapat pendidikan gratis, dibayar pula hehehe…

Ok, saya mau bikin kesimpulan sedikit nih tips untuk mendapatkan formation professionnelle ini.

  1. Harus aktif. Hubungi PE setempat, diskusikan dengan conseiller PE tentang kemungkinan mendapatkan formation professionnelle. Bila masih ada kendala dalam bahasa Perancis mintalah formation linguistique. Kalau kita tidak berusaha proaktif, PE biasanya juga nggak mau bersusah payah mencarikan.
  2. Kalau perlu ambil juga kursus bahasa dengan biaya sendiri, untuk menunjukkan ke PE bahwa kita serius mau berusaha.
  3. Cari juga informasi di internet tentang formation yang diminati, bisa lihat di situs AFPA juga. Konsultasikan ke PE apakah memungkinan untuk mendapatkan formation tersebut.
  4. Bila formation tersedia,dan PE menyetujui, tahap berikutnya adalah mengikuti tes (logika, matematika dan bahasa Perancis) di PE dan rangkaian tes masuk lainnya sesuai dengan organisasi yang bersangkutan. Ketika wawancara coba yakinkan PE (atau organisasi pewawancara lainnya) bahwa kita adalah kandidat yang tepat untuk formation ini , namun harus tetap jujur sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
  5. Perdalam pengetahuan umum di bidang yang kita minati supaya lebih pede menghadapi tes.

Well, kayaknya itu saja ya yang tips yang bisa saya rangkum. Intinya sih kita emang harus berusaha keras dan proaktif supaya bisa mencapai tujuan. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah faktor keberuntungan, jadi kalau sempat gagal dalam satu usaha jangan langsung menyerah. Upgrade kemampuan dan coba lagi, siapa tahu kemudian beruntung, seperti saya 😉

 

 

 

 

Advertisements

Pengalaman Baru: Operasi Gigi

OK, saya masih punya hutang satu cerita tentang pengalaman liburan di Bali kemarin. Tapi kali saya skip dulu ya ceritanya karena saya lagi pingin cerita tentang operasi gigi yang saya jalani hari selasa kemarin. Well, sebenarnya operasi ini sudah direncanakan sejak beberapa bulan sebelumnya. Saya ingat semua berawal dari kunjungan ke dokter gigi pada musim panas lalu. Saat itu saya hanya berniat untuk general check-up sekalian cari informasi tentang prosedur dan pemasangan brace di sini. Mumpung saya sudah punya carte-vitale (semacam kartu jaminan kesehatan di sini) sehingga konsultasi ke semua jenis dokter beserta pengobatannya akan di-reimbourse oleh pemerintah dengan potongan hanya beberapa euro. Bisa dibilang sih hampir gratis, meskipun tidak benar-benar gratis karena kami juga harus bayar pajak per tahunnya 😀

Setelah sang dokter gigi memeriksa dan membersihkan karang gigi, saya sempat bilang ke dokternya kalau saya ada niatan untuk pasang kawat gigi karena gigi bawah saya sangat tidak rapi. Saya juga sempat cerita soal sakit gigi yang kadang-kadang muncul tanpa sebab. Bu dokter kemudian menyarankan saya untuk photo radiologi gigi ke lantai atas supaya bisa dilihat dengan lebih jelas posisi gigi saya. Setelah melihat hasilnya, kami semua terkejut. Betapa tidak, ternyata ada 4 buah gigi geraham akhir yang selama ini tumbuh dengan subur di dalam gusi. Yang mengejutkan juga keempat gigi tersebut tumbuh miring ke dalam, mendesak gigi-gigi yang lain. Pantas saja bentuk deretan gigi saya nggak karuan, selama ini ternyata mereka memang berdesak-desakan di dalam sana. Mohon maklum kalau selama ini saya tidak tahu, karena selama tinggal di Indonesia saya ke dokter gigi hanya untuk membersihkan karang gigi, itupun juga tidak terlalu rutin 😀

Setelah mendapati hasil photo radiologi yang mengejutkan tersebut, bu dokter gigi pun langsung memvonis bahwa keempat gigi geraham tersebut harus diangkat. Selain tidak bisa berfungsi, mereka juga berpotensi mengganggu fungsi gigi lainnya serta menimbulkan rasa sakit berkala yang selama ini saya alami. Beliau memberikan rekomendasi dokter spesialis bedah gigi yang berlokasi di sebuah rumah sakit di Limoges, kota besar yang berjarak sekitar 50 km dari tempat tinggal kami. Sebenarnya ada sih satu rumah sakit di kota lain yang lebih dekat, tapi bu dokter gigi menyarankan ke Limoges karena anak perempuannya pernah mengalami hal yang sama dengan saya dan bu dokter puas dengan penanganannya.

Cerita yang sesungguhnya pun dimulai ketika kami harus membuat janji temu untuk berkonsultasi dengan dokter bedah gigi di Limoges. Pertama-tama butuh waktu yang lama untuk mendapatkan waktu konsultasi. Suami saya menelpon sekitar bulan Agustus 2013, dan rendez-vous yang kami dapat adalah untuk tanggal 15 Januari 2014. Lama banget ya, kami harus nunggu 5 bulan sebelum bisa mulai berkonsultasi. Tapi memang seperti itulah di Perancis, bila ingin mendapatkan pelayanan kesehatan apapun harus membuat janji temu terlebih dahulu. Kecuali untuk kasus darurat yang membahayakan jiwa seseorang, maka waktu normal untuk mendapatkan janji temu dengan dokter spesialis adalah 3 bulan, dan tentu saja bisa lebih lama kalau dokter yang bersangkutan memiliki banyak pasien. Dan karena belum pernah punya pengalaman berhubungan dengan rumah sakit di Perancis kamipun sama sekali blank tentang segala prosedurnya.

Long story short, setelah akhirnya kami berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah gigi , saya dapat jadwal tanggal 25 Maret 2014 jam 7.30 pagi untuk operasinya. Sebelum operasi dilaksanakan, saya harus terlebih dahulu melalui beberapa tahapan. Yang pertama adalah konsultasi dengan dokter anestesi, karena nanti saya akan dibius total. Yang kedua, saya harus mendaftarkan diri di rumah sakit sebelum hari operasi dan mengisi beberapa formulir data yang harus dilengkapi. Setelah itu saya harus melakukan photo radiologi lagi di rumah sakit, selain itu juga harus menjalani scanner di rumah sakit yang lain karena di rumah sakit tempat dokter spesialis ini praktek mereka tidak punya sarananya. Dan yang terakhir adalah konsultasi lagi dengan dokter spesialis sebelum jadwal operasi dengan membawa semua hasil radiologi dan scanner.

Yang jadi masalah utama bagi kami adalah semuanya harus dilakukan di Limoges, sementara tempat tinggal kami jauh. Jadilah suami yang harus ribet menelpon mencoba membuat janji temu yang kesemuanya bisa dilakukan dalam 1 hari. Kami beruntung, untuk dokter anestesi, radiologi dan scanner bisa dilakukan dalam 1 hari meskipun kami tetap harus bolak balik antara 2 rumah sakit yang berbeda. Semuanya berjalan lancar, dan kamipun mendapatkan semua dokumen yang dibutuhkan. Tapi kami tetap harus datang lagi di lain hari untuk konsultasi dengan dokter spesialis bedah sebelum pelaksanaan operasi.

Hari yang ditunggu pun tiba, saya nggak sabar bukannya karena senang ya tapi lebih karena saya ingin semua cepat berlalu, cepat bisa pulih dan kembali ke aktivitas semula. Pokoknya saking nervous-nya saya hanya ingin cepat selesai, titik. Maklum seumur-umur baru sekali ini saya harus masuk ruang operasi 😀

Kami sampai di rumah sakit jam setengah tujuh pagi, langsung ke bagian administrasi rumah sakit yang hanya menanyakan nama, memberikan selembar kertas yang berisi banyak sticker yang bertuliskan data-data saya, kemudian mengarahkan kami untuk langsung ke lantai 1. Sesampainya di bagian perawat lantai 1, kami harus menyerahkan stiker tadi dan melengkapi beberapa dokumen lain. Seorang perawat memberikan sebuah baju ganti yang harus saya pakai sebelum operasi, dan memberi tahu nomor kamar untuk saya. Meskipun tidak akan menginap, tapi rumah sakit menyediakan kamar untuk persiapan sebelum operasi dan pemulihan setelah operasi. Begitu memasuki kamar kamipun cukup terkesan, karena di formulir yang saya isi sebelumnya saya pilih kamar yang murah yaitu untuk 2 bed dan tanpa TV. Yang kami dapat adalah sebuah kamar yang cukup luas, hanya ada 1 bed lengkap dengan kamar mandi privat, lemari baju serta sebuah TV. Well, mungkin karena asuransi saya yang meng-cover biaya kamar sehingga saya dapat upgrade, entahlah. Yang jelas sih saya lebih nyaman hanya berdua dengan suami 🙂

Setelah berganti baju rumah sakit, saya pun berbaring di bed sambil menunggu staff medis yang akan membawa saya ke ruang operasi. Seorang perawat datang untuk cross-check dokumen serta memasangkan gelang identitas untuk saya. Sekitar pukul 8.30 saya dipindahkan ke ruang operasi, rasanya gugup nggak ketulungan. Untungnya dokter anestesi yang menangani saya ramah sekali, bahkan bisa berbahasa Indonesia karena katanya sempat berlibur keliling Indonesia 12 tahun yang lalu. Saya pun mulai rileks begitu si dokter mengajak saya ngobrol sambil memasang jarum untuk injeksi di tangan saya. Sesaat setelah si dokter menyuntikkan obat bius saya pun langsung hilang kesadaran, semua sama sekali gelap.

Kemudian, antara sadar dan tidak, saya ingat ketika didorong kembali ke kamar saya. Saat itu saya mulai merasakan sakit di dalam mulut, dan ada sensasi aneh di antara gigi-gigi saya. Saya pun mulai merasakan lapar karena saya harus puasa dari tengah malam sebelum hari operasi. Tapi perawat bilang saya harus menunggu beberapa saat sebelum bisa makan ataupun minum. Rasa sakit yang saya rasakan semakin menjadi-jadi sehingga perawat memberikan suntikan painkiller serta satu blok es dilapis handuk untuk mengkompres pipi saya. Setelah menunggu beberapa saat, saya mendapatkan jatah makan berupa compote (bubur apel), pudding, jus buah dan air putih. Waduh, nggak nampol banget deh karena porsinya selain kecil rasanya jg hambar banget. Tapi mending lah daripada kelaparan 😀

Setelah itu kami harus menunggu sampai dokter spesialis datang mengecek. Saya pun menghabiskan waktu dengan tidur dan sesekali nonton TV. Akhirnya sekitar pukul 5 sore sang dokter datang. Setelah mengecek keadaan mulut saya, beliau pun menjelaskan langkah perawatan lanjutan di rumah. Antara lain obat-obatan yang harus saya konsumsi, jenis makanan yang boleh dikonsumsi dan kapan jahitan di dalam mulut saya bisa dilepas. Setelah semua jelas kamipun boleh pulang.

Untuk operasi ini kami tidak dikenakan biaya apapun. Kami hanya harus membayar biaya kamar yang hanya sebesar €30 yang nantinya juga akan di-reimbourse oleh pihak asuransi. Meskipun harus menanggung sakit dan bengkak selama kurang lebih seminggu, saya merasa lega banget operasi sudah berjalan lancar dan kamipun tidak harus mengeluarkan uang lagi untuk biayanya. Dan sekarang, setelah hampir seminggu berlalu saya pun sudah mulai pulih, pipi saya sudah tidak bengkak, rasa nyeri juga sudah jarang saya rasakan dan yang pasti saya sudah bisa mulai makan lebih banyak. Tinggal pergi ke dokter gigi hari rabu nanti untuk melepas jahitan. Next step: pasang kawat gigi! 😀

Ijin Tinggal Sementara (Titre de Sejour)

     Tidak terasa sudah hampir 2 bulan saya kembali ke Perancis untuk menetap. Berarti 2 bulan sudah saya memegang ijin tinggal CDS sementara (Titre de Sejour) yang juga berlaku sebagai ijin perjalanan untuk memasuki wilayah negara-negara Schengen.
     Dulu, saya membayangkan bahwa proses pengajuan ijin tinggal ini akan sulit, rumit dan memakan waktu yang lama. Hal itu karena saya sempat mendengar pengalaman beberapa teman yang sudah duluan mengajukannya. Namun kenyataannya, proses yang saya lalui ternyata sangat simple dan cepat. Karena ternyata bagi mereka yang menikah dengan WN EU dan hendak mengajukan ijin tinggal (Carte de Sejour) di Perancis ternyata prosedurnya tidak terlalu rumit. Bahkan petugas Prefecture (kantor tempat pengurusan ijin tinggal bagi pendatang asing) bilang bahwa proses ijin tinggal bagi mereka yang menikah dengan WN Prancis malah lebih ribet dan lama. Well, kami juga tidak mendapat penjelasan kenapa malah seperti itu kebijakannya. Yang jelas begitu semua dokumen sudah lengkap kamipun langsung mengajukan.  Dokumen yang harus disiapkan adalah:

  1. Fotocopy akte nikah international (sudah ada bahasa Perancisnya, jadi tidak perlu diterjemahkan lagi)
  2. Fotocopy paspor istri
  3. Fotocopy paspor suami
  4. Fotocopy Carte Vitale suami
  5. Attestation Carte Vitale suami
  6. Bukti keuangan/slip gaji suami
  7. Fotocopy tagihan listrik/telepon suami
  8. Fotocopy bukti pembayaran pajak suami
  9. Surat keterangan kontrak kerja suami atau bukti kepemilikan rumah/apartemen di Perancis.
  10. Photo ukuran 3.5 x 4.5 dengan latar belakang putih sebanyak 2 buah

     Setelah semua dokumen dilengkapi dan diserahkan, maka tinggal menunggu panggilan dari La Mairie (municipality) setempat karena apabila Recepisse de Demande de Carte de Sejour (bukti tanda terima pengajuan CDS) jadi maka akan dikirim ke sana. Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan recepisse tersebut  kurang lebih 2 minggu.
     Nah, ada cerita seru nih di bagian ini. Setelah 2 minggu berlalu semuanya adem ayem saja. Tidak ada pemberitahuan apapun dari Le Mairie tentang recepisse CDS saya. Padahal sewaktu kami menyerahkan semua dokumen ke Prefecture, suami sudah menjelaskan bahwa saya harus kembali ke Indo dalam waktu dekat dan meminta supaya recepisse sudah saya terima sebelum tanggal keberangkatan. Daripada was was, akhirnya kami ke Le Mairie untuk menanyakan tentang hal ini. Di sana ternyata petugasnya juga belum menerima apapun dari Prefecture. Untungnya madame ini baik hati, beliau menelpon Prefecture untuk menanyakan tentang recepisse saya. Dan ternyata seperti semua hal yang berhubungan dengan perdokumenan di Prancis, prosesnya memang termasuk lama dan kadang ada saja dokumen-dokumen tambahan yang diminta. Madame di Le Mairie juga bilang bahwa ada 1 dokumen yang juga harus kami susulkan ke Prefecture. Tanpa buang waktu kami pun kembali ke rumah, mengambil dokumen dan langsung menuju Prefecture yang jaraknya kira-kira 30 km! Untung saja semua berakhir dengan happy ending. Ternyata recepisse saya sudah siap di Prefecture dan tinggal dikirim ke Le mairie. Kami pun langsung meminta recepisse untuk kami bawa pulang saat itu juga.
     Proses pembuatan CDS nya sendiri memakan waktu kurang lebih 3 bulan. Dan lagi-lagi kali ini saya beruntung karena kartu saya jadinya lebih cepat dari yang dijanjikan. Hanya sekitar 2 bulan dari tanggal pengajuan, suami mendapatkan telpon dari Le mairie bahwa CDS saya sudah jadi dan bisa segera diambil. pengambilan CDS ini harus dilakukan oleh yang bersangkutan langsung karena membutuhkan tanda tangan si pemegang kartu. Maka, beberapa hari setelah saya kembali ke Prancis kami pun pergi ke Le Mairie untuk mengambil kartu ijin tinggal perdana saya. Syukurlah, sekarang saya tidak perlu lagi memikirkan visa karena ijin tinggal ini berlaku untuk 1 tahun. Setelah 3 kali memperbaruinya nanti maka saya pun bisa mengajukan ijin tinggal untuk 10 tahun. Well, saya belum tahu apakah saya perlu melakukan itu. Kita lihat saja nanti, barangkali kami sudah pindah ke negara lain hehehe…

Bienvenue en France!

          Akhirnya sampai juga saya dan suami kembali di Perancis. Begitu mendarat di Charles de Gaulle airport, kami langsung menuju ke Ibis hotel yang terletak di Terminal 3 menggunakan shuttle metro dari Terminal 2. Kami sengaja menginap karena memang berencana untuk pergi ke KBRI Paris keesokan harinya untuk lapor diri. Maklum rumah kami lumayan jauh dari Paris, jaraknya bisa mencapai sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kereta atau mobil. Jadi mumpung kami ada di Paris maka sekalian saja kami ke sana.
          Ternyata proses lapor diri itu sangat mudah, bahkan prosesnya bisa ditunggu. Di website KBRI paris pun juga disebutkan demikian. Tapiiii… sayangnya tidak disebutkan berapa lama waktu untuk menunggunya, hehehe… Kebetulan saat itu saya juga janjian ketemu dengan teman yang tinggal di Paris jadi selama menunggu cap lapor dirinya jadi, kami pun mengobrol di kantin. Syarat-syarat untuk lapor diri hanya menyerahkan foto dengan background putih, mengisi formulir yang disediakan oleh KBRI dan tentu saja paspor asli. Nah, sewaktu mengambil paspor yang sudah dicap lapor diri saya iseng-iseng tanya ke petugasnya apa saja syarat kalau mau menambahkan nama belakang suami di paspor saya. Eh, ternyata juga tidak susah tuh. Cuma menyerahkan fotocopy akte nikah, fotocopy Titre de sejour (atau recepissenya saja kalo masih dalam proses pembuatan) dan membayar € 15. Tetapi untuk penambahan nama belakang ini, prosesnya tidak bisa ditungggu. Jadi saya pun meminta pihak KBRI mengirimkan paspor saya via pos apabila prosesnya sudah selesai. Saya hanya perlu membayar €5.30 sebagai ganti ongkos kirimnya. Untuk keterangan lebih jelas tentang layanan konsuler maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan KBRI Paris, bisa dilihat di sini
           Setelah semua proses selesai, dengan menggunakan metro kami langsung kembali ke hotel untuk mengambil koper kemudian ke Terminal 1 menggunakan shuttle lagi menuju tempat persewaan mobil yang sudah dipesan oleh suami. Dan akhirnya setelah kurang lebih 4 jam berkendara, kamipun sampai di rumah mungil kami di lereng gunung 🙂 Udara dingin langsung menyergap, meskipun tidak terlalu ekstrim tetapi tetap saja saya harus menyesuaikan diri dengan suhu yang berkisar antara 5 dan 10 derajat celsius setiap paginya. Bahkan untuk beberapa hari pertama suami sampai harus menyalakan perapian seharian. Maklum deh, perbedaan cuacanya dengan di Indo begitu jauh jadinya saya pun juga harus perlahan menyesuaikan diri lagi. Bienvenue en France! 🙂

Menikah dengan WN Denmark

Blog yang lama sudah agak lama saya anggurkan. Maklum ada beberapa yang harus saya urusin sebelum mudik bulan Juni lalu. Ditambah lagi mood buat menulis sedang low karena waktu itu yang memenuhi pikiran saya adalah bagaiman rasanya meninggalkan suami sendirian selama 3 bulan, sementara kami baru menikah sebulan sebelumnya. Dilema pengantin baru nih ceritanya hehehe…
Nah mumpung sekalian mindahin konten blog lama yang baru sedikit itu, kali ini saya juga mau berbagi pengalaman tentang pernikahan dengan WN Denmark.Wuihhhh…. Kedengerannya serem yah? Kalau mendengar tentang  pernikahan campuran pasti yang terbayang adalah betapa njlimetnya urusan birokrasi. Saya awalnya juga begitu, kebanyakan nervous dan jiper duluan, bahkan sempat stres juga hehehe… Tapi untungnya saya bisa melewati semua proses itu dengan lumayan lancar karena ternyata dimudahkan dalam banyak hal. Ya udah, yuk kita mulai saja cerita kali ini, siapa tahu aja nanti ada yang memerlukan informasinya jadi bisa bermanfaat 🙂
Saya menikah dengan tunangan saya yang berkewarganegaraan Denmark pada bulan Mei 2012 (tuh, beneran masih pengantin baru kan…. :D). Persiapan untuk pernikahan ini sudah saya gelar (hahaha, karpet kali ya digelar) jauh-jauh hari. Maklum saja pernikahan antar bangsa biasanya memang lebih complicated terkait dengan dokumen-dokumen yang harus disiapkan. Dari awal kami memang sudah memutuskan untuk menikah secara sipil di Denmark dengan pertimbangan kepraktisannya karena di Indonesia belum mengakui pernikahan beda agama, sementara kami juga tidak berniat untuk berpindah agama.
Langkah awal yang kami lakukan saat itu adalah mencari informasi tentang prosedur pernikahan sipil di Denmark. Sebenarnya bisa saja kami mencari informasi dengan browsing di internet, atau bertanya di forum komunikasi grup yang isinya pelaku pernikahan campuran yang saya ikuti. Tetapi karena waktu itu saya sedang berkunjung ke Denmark untuk bertemu dengan keluarga calon suami, maka kami memutuskan untuk menanyakan langsung ke Kommune setempat di mana kami ingin melangsungkan pernikahan. Kesan pertama yang saya dapatkan dari petugas di Aabenraa Kommune yang kami kunjungi adalah, ramah dan sangat membantu. Tahu bahwa saya sama sekali tidak bisa berbahasa Denmark, beliau berbicara dengan Bahasa Inggris yang sangat jelas dan bagus. Menjawab semua pertanyaan yang kami lontarkan dengan sabar. Bahkan mengeprint daftar dokumen yang harus kami siapkan beserta syarat-syarat lain yang harus kami penuhi. Kamipun meninggalkan kommune dengan hati senang, karena semua informasi sudah didapat dengan jelas.
Oh iya, Aabenraa Kommune juga menerima pasangan dari negara lain, baik yang menikah campur maupun tidak untuk menikah di sini. Dari penjelasan petugas Kommune cukup banyak orang asing, terutama dari Jerman yang menikah di Aabenraa karena persyaratannya yang lebih mudah. Untuk jelasnya bisa dilihat di sini
            Setelah kembali ke Indo, saya pun segera menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan. Tapi harus diingat juga bahwa ada beberapa dokumen yang memiliki masa berlaku tertentu, jadi sebaiknya dokumen disiapkan bertahap supaya tidak ada yang kadaluarsa masa berlakunya. Dari Aabenraa Kommune dokumen-dokumen yang diminta dari saya adalah:
1.      Surat keterangan bebas menikah dari Kelurahan sesuai KTP yang diketahui dan ditandatangani oleh Camat setempat
2.      Fotocopy Akte Lahir
3.      Fotocopy Akte cerai dan salinan penetapan cerai dari pengadilan bagi yang sudah pernah menikah sebelumnya
4.      Fotocopy paspor dengan Visa yang masih berlaku
Semua dokumen tersebut kecuali fotocopy paspor, harus diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah kemudian dilegalisir ke Departemen Kehakiman, Departemen Luar Negeri dan Kedutaan Besar Denmark di Jakarta. Untungnya, pihak kommune menerima dokumen berbahasa Inggris, jadi saya pun tidak kesulitan untuk mengurusnya. Kebetulan seorang teman merekomendasikan saya seorang penerjemah tersumpah yang juga merupakan agen legalisasi, sehingga setelah semua dokumen diterjemahkan saya juga meminta beliau melegalisirkan ke departemen terkait. Untuk legalisir ke Kedubes Denmark, saya melakukannya sendiri menggunakan jasa kurir (karena saya berdomisili di luar Jakarta). Cukup mentransfer biaya legalisir dan ongkos kirim ke rekening Kedutaan, begitu semua dokumen selesai maka langsung dikirim balik ke saya.
Yang paling berkesan buat saya adalah peran petugas kommune di Aabenraa. Beliau begitu telaten dan sabar memandu kami menyiapkan semua dokumen. Sebelum semua dokumen dilegalisir beliau meminta kami mengirimkannya via email untuk dicek apakah sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan oleh kommune. Bahkan beliau juga cross-check langsung ke Kedubes Denmark di Jakarta apabila ada hal yang perlu diklarifikasi. Akhirnya semua dokumen beres dan kami hanya perlu membawa semua dokumen asli untuk dicek di kommune, seminggu sebelum tanggal pernikahan yang ditentukan.
Hari yang dinanti pun tiba, hari Sabtu  12 Mei 2012 kami resmi menikah secara sipil di Aabenraa Kommune dengan disaksikan oleh seluruh keluarga besar. Dan ternyata yang bertugas menikahkan kami adalah orang yang sama yang dari awal sudah sangat membantu kami mempersiapkan semua dokumennya. Bahkan beliau lagi-lagi berbaik hati dengan menambahkan satu lembar akta nikah international karena tahu bahwa kami nanti akan tinggal di Perancis. Tusind tak Fru Alice Mollergard 🙂