Pendidikan Profesional Gratis di Perancis

Sudah lumayan lama nih nggak nulis di blog, ngapain aja? Sebenarnya sih nggak terlalu sibuk-sibuk banget, tapi seperti biasanya saya memang sok sibuk ngurusin ini itu hehehe… Saking sok sibuknya, jadi nggak berasa ya kalau sekarang udah masuk ke pertengahan bulan April 2015. Dan sepertinya memang tahun 2015 adalah tahun keberuntungan buat saya karena sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Akhir tahun 2014 kemarin target saya adalah mendapatkan SIM setelah hampir 1,5 tahun menjalani semua prosesnya yang tidak mudah. Syukur alhamdulillah, saya akhirnya lulus ujian dan mendapatkan SIM meskipun harus mengulang beberapa kali. Target lainnya adalah mengikuti ujian bahasa Perancis di level yang lebih tinggi, dan setelah mengikuti kursus di Université de Limoges, pada bulan Januari kemarin saya berhasil mengikuti ujian DELF B2 dan hasilnya adalah saya lulus. Keberuntungan saya tidak berhenti di situ saja karena pada akhir tahun kemarin juga saya mengajukan permohonan untuk mendapatkan pendidikan profesional gratis dari kantor tenaga kerja, Pôle Emploi (PE) setelah sebelumnya permohonan saya menthok di permasalahan bahasa Perancis saya yang masih belum cukup level. Tanpa diduga ternyata permohonan saya mendapat respon positif dan bahkan minggu depan saya sudah mulai bisa mengikuti pendidikan (di sini biasa disebut formation) profesional di bidang sekretaris administrasi. Wuih, bener-bener deh sepertinya memang dewi fortuna lagi demen banget sama saya, nemplok terus sejak awal tahun hehehe…

Jadi pengen cerita nih soal proses untuk mendapatkan pendidikan gratis di Perancis, siapa tahu ya kali aja bisa berguna atau paling tidak bisa jadi catatan pribadi saya juga. Sejak awal saya sadar dengan bekal pendidikan dan pengalaman kerja yang saya dapat di Indonesia tidak cukup untuk mencari kerja sesuai dengan minat dan keinginan saya di sini karena penerapan sistem yang berbeda. Saya sih maunya bisa bekerja di bidang sekretariat atau administrasi seperti yang sudah saya lakukan di Indonesia dulu, tapi setiap kali saya mencoba mencari lowongan kerja di sini selalu saja terbentur pada masalah diplôme (ijasah) dan pengalaman kerja. Seperti pekerjaan yang saya lakonin tahun lalu, meskipun cuma sebagai tenaga bersih-bersih dibutuhkan juga kompetensi pengalaman kerja untuk melamar, kebetulan saja waktu itu yang dibutuhkan adalah sekedar tenaga pengganti dan suami saya kenal dengan pimpinan instansinya jadi saya bisa kerja tanpa proses yang sulit. Kembali ke masalah pendidikan profesional, saya pun mulai menyusun strategi supaya kelak saya bisa laku di pasar kerja Perancis yaitu dengan cara membekali diri saya dengan pendidikan yang diakui di Perancis.

Awal saya mendaftar di PE saya sudah dengan pedenya minta pendidikan profesional gratis. Alhasil diketawain lah saya waktu itu, wong bahasanya aja masih gagu kok minta pendidikan, mungkin gitu kali ya yang ada di pikiran conseiller saya waktu itu. Tapi saya tidak patah semangat, saya bilang kalau memang level bahasa saya belum cukup, ya saya minta dikasih formation bahasa dulu aja. Untungnya untuk yang ini saya nggak diketawain, saya kemudian diarahkan buat mendapatkan kursus bahasa Perancis lanjutan yang disebut Pass Linguistique. Inilah kursus bahasa Perancis yang saya ikuti 2x seminggu selama ini. Merasa bahwa kursus yang hanya 5,5 jam per minggu ini masih belum cukup, sayapun atas dorongan (dan biaya :D) dari suami mengambil 1 semester kursus Français Langue Etrangerè (FLE) di Université de Limoges. Tujuan saya sih jelas ya, supaya kemampuan bahasa saya bisa terdorong dengan lebih optimal. Maklum saja kalau di rumah saya merasa kesulitan untuk mempraktekkan  bahasa Perancis dengan suami karena bahasa Perancis adalah sama-sama bahasa asing kedua kami. Daripada sama-sama sakit kepala kamipun memilih untuk tetap berkomunikasi dengan bahasa Inggris saja yang terasa lebih nyaman buat kami. Dan kursus FLE ini ternyata memang sangat bermanfaat, saya pun merasakan kemajuan yang signifikan dalam kemampuan berbahasa saya.

Setelah pede bahwa kemampuan bahasa saya sudah lebih baik, saya pun kembali ke PE buat lagi-lagi minta pendidikan profesional gratis. Kali ini respon yang saya dapat cukup bagus. Setelah bertemu dengan konsultan PE saya pun direkomendasikan buat bertemu dengan Psychologue du Travail (PT), petugas yang khusus berurusan dengan pendidikan gratis. Hasil wawancara dengan PT adalah ada satu formation yang sesuai dengan minat saya, yang saat itu sedang membuka pendaftaran, yaitu formation Assistant de Direction atau sebutan umumnya Personal Assistant (PA). Saya kemudian diminta mengikuti serangkaian tes yang terdiri dari tes logika, matematika dan bahasa Perancis untuk melihat apakah saya memiliki kemampuan sesuai yang dibutuhkan untuk mengikuti formation tersebut. Di Perancis, formation professionnel ini dibagi dalam 5 level (niveau), dimana niveau I adalah level tertinggi. Sebelum bisa mengikuti formation, kandidat harus lulus ujian yang disesuaikan dengan level formation yang akan diikuti.  Fomation yang saya ikuti adalah niveau III.  Saya pun kemudian mengikuti tes di PE yang berdurasi kurang lebih 3 jam. Tesnya cukup sulit karena jumlahnya banyak (saya lupa jumlah pastinya tapi yang jelas lebih dari 100 soal) dan tentu saja semuanya dalam bahasa Perancis. Saya juga diminta untuk mengisi semacam kuesioner tentang motivasi saya mengikuti formation. Begitu selesai, pekerjaan saya langsung dikoreksi oleh PT dan saya diberitahu saat itu juga hasilnya. Untuk tes logika dan matematika hasilnya cukup bagus, sesuai dengan level yang dibutuhkan. Sementara untuk bahasa Perancis hasilnya masih agak di bawah level, meskipun poinnya cuma selisih sedikit. Sudah melangkah sejauh ini saya pun berusaha meyakinkan PT bahwa saya memiliki motivasi tinggi untuk belajar dan akan bekerja keras supaya bisa berhasil. Sepertinya argumen saya berhasil, PT bilang akan menghubungi guru bahasa Perancis saya dulu untuk berdiskusi kemudian akan menginformasikan kepada saya keputusannya. Seminggu kemudian saya mendapat surat yang menyatakan bahwa saya sudah dimasukkan ke pendaftaran awal formation di L’Association national pour la formation professionnelle des adultes (AFPA), sebuah organisasi penyedia pendidikan profesional untuk orang dewasa. Tahap selanjutnya adalah saya harus menunggu panggilan dari AFPA untuk menjalani serangkain tes berikutnya.

Setelah harap-harap cemas menunggu, hampir 3 bulan setelah mendapat keputusan dari PE saya pun menerima surat dari AFPA yang isinya saya diminta datang tanggal 18 Mei 2015 untuk memulai formation. Di sini lah saya mulai bingung campur senang, karena kalau saya langsung mulai formation berarti nggak perlu ikut tes lagi dong. Kalau nggak harus ikut tes lagi bahagia banget lah soalnya info yang saya dapat dari PE, sebelum bisa ikut formation saya harus melalui tes kemampuan komputer, pengetahuan dasar sekretaris dan tes bahasa Inggris. Untuk tes bahasa Inggris sih saya sudah pede aja, tapi 2 tes yang lain itu yang bikin saya was-was karena sama sekali nggak ada gambaran gimana tesnya nanti. Tapi ternyata saya salah, karena beberapa hari kemudian saya dapat telpon dari AFPA yang meminta saya datang untuk mengkuti tes seleksi. Duh, langsung deh panas dingin karena merasa belum siap dan bener-bener nervous…

Tahap selanjutnya pun dimulai, saya mengikuti tes di AFPA tanggal 16 April 2015. Durasi tes kali ini lebih lama dari di PE, saya mulai jam 9 pagi dan selesai sekitar jam 1 siang. Petugas yang memberikan tes adalah orang yang sama yang nantinya akan mengajar, di sini biasa disebut formateur (pria) dan formatrice (wanita). Formatrice yang memberikan tes cukup ramah, beliau sangat informatif dalam menjelaskan semua prosedur dan gambaran umum tentang formation Assistant de Direction. Setelah itu masing-masing peserta menghadap satu komputer sendiri-sendiri dan harus mengerjakan soal-soal yang sudah disiapkan di komputer tersebut. Waktu itu hanya ada 4 peserta termasuk saya. Kami harus menjawab sekitar lebih dari 100 pertanyaan pilihan ganda dan ada 2 soal yang berhubungan dengan Excel dan MS. Word. Setelah selesai, kami diwawancara satu per satu di kantor madame formatrice.

Jujur ya, saat itu saya sudah mulai hilang harapan. Buat saya soal-soalnya cukup susah karena beberapa bagian berupa pengetahuan umum ekonomi Perancis serta sistem bekerja di Perancis. Meskipun untuk tes bahasa Inggris tidak ada masalah, tapi saya merasa kesempatan saya untuk lolos seleksi adalah kecil. Begitu masuk ke ruangan wawancara, madame formatrice membuka pekerjaan saya dan menunjukkan hasilnya. Secara umum beliau langsung bisa melihat bahwa kemampuan bahasa Perancis saya masih belum mencukupi. Lumayan banyak pertanyaan yang tidak bisa saya jawab yang berhubungan dengan pengetahuan umum ekonomi Perancis serta sistem bekerja di Perancis . Tapi untungnya level bahasa Inggris saya cukup bagus, dan madame yang baik hati ini kemudian malah mengajak saya untuk bicara dalam bahasa Inggris karena ternyata beliau ini adalah WN Inggris (saya sih sudah menduga dari awal karena nama beliau yang inggris banget hihihi). Wah, saya yang tadinya bener-bener tegang jadi mulai agak rileks. Kami berdiskusi cukup lama, saya jelaskan ke beliau situasi saya (bahasa Perancis adalah bahasa asing kedua, saya tinggal di tempat yang jauh dari pemukiman yang membuat saya jarang berkomunikasi dengan bahasa Perancis, dll) dan berusaha meyakinkannya bahwa saya memiliki motivasi yang tinggi untuk mengkuti formation ini. Beliau sepertinya cukup paham dan bilang akan berusaha mencarikan solusi buat saya. Idenya adalah saya harus mengikuti formation bahasa Perancis yang intesif, lebih daripada peserta lainnya tapi tidak perlu mengikuti formation bahasa Inggris karena level saya lebih dari cukup. Namun beliau belum bisa memberi keputusan saat itu juga karena harus berdiskusi terlebih dulu dengan koleganya. Meskipun cukup lega karena beliau mau berusaha mencarikan solusi buat saya supaya bisa mengkuti formation, saya tetap merasa was-was dalam hati. Bagaimana pun juga kalau belum ada surat resmi yang menyatakan bahwa saya bisa ikut formation, tentunya masih banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi kan…

Setelah menunggu sekitar 2 hari saya dapat email dari madame formatrice yang  memberitahukan bahwa beliau akan menyiapkan formation khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan saya. Jadi seperti yang sudah beliau bilang sebelumnya, tidak ada formation bahasa Inggris tetapi lebih banyak formation bahasa Perancis. Saya pun langsung balas emailnya dengan BIG YES! Pokoknya kesempatan harus diambil, karena belum tentu datang 2 kali 🙂

Akhirnya 2 minggu yang lalu saya menerima dokumen-dokumen yang berhubungan dengan formation yang harus saya isi, dan kemudian dikirim balik. Duh, senangnya… Lega deh saya akhirnya positif bisa mulai proses pendidikan gratis ini. Oh iya, selain pendidikan ini gratis, saya nantinya juga akan menerima remuneration. Besarannya sih saya belum tahu pasti, tapi yang jelas lumayan lah buat uang saku sama buat ongkos jalan. Jadi lumayan banget kan, dapat pendidikan gratis, dibayar pula hehehe…

Ok, saya mau bikin kesimpulan sedikit nih tips untuk mendapatkan formation professionnelle ini.

  1. Harus aktif. Hubungi PE setempat, diskusikan dengan conseiller PE tentang kemungkinan mendapatkan formation professionnelle. Bila masih ada kendala dalam bahasa Perancis mintalah formation linguistique. Kalau kita tidak berusaha proaktif, PE biasanya juga nggak mau bersusah payah mencarikan.
  2. Kalau perlu ambil juga kursus bahasa dengan biaya sendiri, untuk menunjukkan ke PE bahwa kita serius mau berusaha.
  3. Cari juga informasi di internet tentang formation yang diminati, bisa lihat di situs AFPA juga. Konsultasikan ke PE apakah memungkinan untuk mendapatkan formation tersebut.
  4. Bila formation tersedia,dan PE menyetujui, tahap berikutnya adalah mengikuti tes (logika, matematika dan bahasa Perancis) di PE dan rangkaian tes masuk lainnya sesuai dengan organisasi yang bersangkutan. Ketika wawancara coba yakinkan PE (atau organisasi pewawancara lainnya) bahwa kita adalah kandidat yang tepat untuk formation ini , namun harus tetap jujur sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
  5. Perdalam pengetahuan umum di bidang yang kita minati supaya lebih pede menghadapi tes.

Well, kayaknya itu saja ya yang tips yang bisa saya rangkum. Intinya sih kita emang harus berusaha keras dan proaktif supaya bisa mencapai tujuan. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah faktor keberuntungan, jadi kalau sempat gagal dalam satu usaha jangan langsung menyerah. Upgrade kemampuan dan coba lagi, siapa tahu kemudian beruntung, seperti saya 😉

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s