Telur Asin Rumahan (Telur Bebek)

Telur asin rumahan, gurih dan kuning telurnya berminyak.

Telur asin rumahan, gurih dan kuning telurnya masir dan berminyak.

Saya adalah penggemar berat telur asin. Dulu sewaktu masih tinggal di Indonesia, saya paling suka nyomot telur asin ini buat tambahan lauk kalau pas beli nasi bungkus di warteg. Kadang memang buat lauk tapi nggak jarang juga saya gadoin gitu aja si telur asin, apalagi kalau pas dapet yang tidak terlalu asin dengan kuning telur yang masir gurih….mmm gadoin satu juga nggak bakalan cukup deh buat saya 😀

Semenjak tinggal di sini, tentu saja saya jadi kesulitan buat menemukan telur asin ini. Belum pernah saya menemukan telur asin dijual di toko asia yang biasa saya datangi. Sewaktu saya ke chinatown di Antwerp pernah saya lihat ada telur asin, tapi kok rasanya kurang sreg buat beli. Mungkin karena selain harganya yang mahal saya juga nggak terlalu yakin dengan kualitas rasanya. Akhirnya saya mengurung kan niat buat beli, dan terpaksa menahan rasa kepingin.

Sampai suatu hari sewaktu blogwalking saya menemukan beberapa resep cara membuat telur asin rumahan. Cara yang digunakan sangat sederhana karena tidak perlu proses memeram telur dalam pasta batu bata. Saya pun tertarik buat mencoba. Meskipun waktu itu belum berhasil menemukan telur bebek (karena nggak ada yang jual di sini) saya tetap mencoba bikin menggunakan telur ayam. Percobaan pertama berhasil, meskipun agak keasinan tapi kekangenan saya buat makan telur asin pun terobati. Selanjutnya saya bikin lagi beberapa kali dan selalu berhasil. Dari segi rasa sih memang tetap beda dengan telur asin yang ada di Indonesia. Mungkin karena pada dasarnya telur ayam dan telur bebek berbeda tekstur sehingga menghasilkan rasa yang berbeda pula. Membuat telur asin dari telur ayam ini pun kemudian menjadi agenda rutin saya. Sekali bikin biasanya saya pakai antara 15-20 butir telur. Ya karena bikinnya mudah dan proses menunggunya yang lama jadi saya pikir kenapa nggak bikin banyak sekalian. Toh selain bisa dikonsumsi sebagai lauk ketika sudah matang, telur asin yang mentah pun bisa juga diolah menjadi berbagai masakan. Tapi meskipun sudah puas dengan telur asin dari telur ayam ini, saya masih menyimpan rasa penasaran dengan telur asin dari telur bebek.

Saya pun berusaha mencari tahu di mana saya bisa beli telur bebek. Suami juga sempat bertanya-tanya ke tetangga siapa tahu saja bisa dapat info. Tetapi hasilnya nihil, di sini memang telur bebek tidak banyak dijual di pasaran. Kalaupun ada yang jual mungkin harus beli ke peternak nya langsung, dan masalahnya adalah kami tidak tahu di mana bisa menemukan peternak bebek di daerah sini. Akhirnya saya hanya bisa memendam keinginan buat bikin telur asin dari telur bebek, sampai suatu hari saya bertemu dengan seseorang yang memelihara bebek. Jadi ceritanya sewaktu saya ambil kursus bahasa Perancis di universitas Limoges, saya berkenalan dengan seorang wanita Belanda yang juga mengikuti kursus yang sama. Nah, beliau ini tinggal tidak jauh dari rumah saya sehingga kami memutuskan untuk pergi bersama menggunakan mobilnya dan biaya bbm dibagi 2. Sepanjang perjalanan sudah bisa ditebak kami ngobrol banyak, mulai dari masalah susahnya belajar bahasa Perancis sampai kehidupan sehari-hari. Dari situlah saya tahu bahwa beliau ini memelihara ayam dan bebek di rumahnya. Langsung deh saya tanya boleh nggak kalau saya beli telur bebeknya dan saya jelaskan betapa susahnya mencari telur bebek di sini. Tanpa disangka hari berikutnya kami pergi ke Limoges, beliau sudah membawa satu boks penuh telur bebek yang isinya sekitar 20 butir. Sewaktu saya tanya berapa saya harus bayar, beliau dengan keras menolak. Katanya dia lagi surplus telur bebek dan kebetulan saya butuh, jadi telurnya dikasih buat saya cuma-cuma. Namanya juga rejeki, saya pun hanya bisa bilang terima kasih banyak 🙂

Dari situlah akhirnya saya bisa menuntaskan rasa ingin tahu tentang telur asin rumahan dari telur bebek. Berbekal pengalaman bikin telur asin sebelumnya saya pun langsung mengeksekusi telur-telur bebek tersebut sebelum libur natal kemarin. Jadi begitu kami pulang dari liburan langsung bisa menikmati telur asin.

Bahan-bahan untuk membuat telur asin.

Oh iya, saya bagi cara membuatnya di sini siapa tahu ada yang berminat buat bikin juga. Tapi saya tidak bisa cantumkan sumbernya karena dari beberapa resep yang saya temukan, saya gabungkan dan modifikasi sesuai selera saya. Plus resep ini nggak pakai takaran pasti ya karena kalau bikin saya selalu berdasar feeling saja, jadi dikira-kira sesuai kebutuhan 😀

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

Telur (bebek atau ayam)

Garam

Bawang Putih

Jahe

Siap diperam selama 3 minggu.

Siap diperam selama 3 minggu.

Caranya gampang banget, didihkan air agak banyak (dikira-kira ya, pokoknya disesuaikan dengan jumlah telur) kemudian matikan api.  Setelah itu masukkan garam sambil diaduk-aduk sampai  garam sudah tidak bisa lagi larut. Tunggu sampai larutan garam dingin. Sementara itu cuci bersih telur dengan air, gosok-gosok menggunakan sisi spons yang agak kasar supaya pori-pori cangkang terlur tebuka (hati-hati ya, jangan terlalu keras menggosoknya supaya telur tidak pecah). Masukkan telur ke dalam toples kaca atau boks plastik, kemudian tuangkan larutan air garam yang sudah dingin. Geprek beberapa siung bawang putih dan seruas jahe kemudian tutup rapat. Simpan di tempat sejuk selama kurang lebih tiga minggu. Tulis tanggal di luar toples supaya mudah diingat. Sesekali aduk telur di dalam toples supaya telur berpindah posisi dan asinnya merata. Setelah 3 minggu, keluarkan telur dari toples dan kukus selama 1,5 jam. Tunggu sampai dingin, telur asin pun siap dinikmati.

Beneran deh, ternyata memang beda rasanya antara telur asin dari telur ayam dengan telur bebek. Yang dari telur bebek rasa gurihnya lebih kuat dan kuning telurnya juga lebih besar jadi lebih mantap. Saya waktu itu bikin 15 butir karena telur bebek yang 5 lagi saya pakai buat bikin martabak telur. Sekarang telur asin saya sudah habis buat lauk dan campuran masakan lain. Kepengen bikin lagi tapi harus nunggu stok telur bebek dari madame Belanda. Cuma bisa berdoa nih semoga bebek-bebek beliau lagi pada produktif sehingga surplus dan saya bisa kebagian telurnya hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s