Kado Tahun Baru

Mumpung masih bulan januari, masih boleh ya cerita yang berbau tahun baruan ūüėÄ Sebenarnya saya sih nggak pernah merayakan tahun baru, apalagi sampai harus ada kado-kadoan segala. Sejak dulu tahun baruan saya paling banter ya di rumah aja sambil liat tivi atau sekedar ngobrol sama keluarga. Pernah sih keluar sekali buat tahun baruan waktu jaman kuliah dulu, tapi langsung kapok karena terlalu ramai. Akhirnya tahun baru ya jadinya sama saja dengan hari-hari lain, tidak ada yang spesial.

Tapi tahun 2015 ini, adalah tahun baru yang spesial buat saya. Meskipun tetap bertahun baruan tanpa¬†ada perayaan apa-apa seperti biasanya, saya dapat kado yang luar biasa bikin hati gembira. Yang spesial lagi kadonya juga bukan dari orang lain, tapi dari diri saya sendiri¬†! Hihihi bikin bingung ya¬†?! Well, awal tahun 2015 akhirnya cita-cita saya terwujud, saya berhasil mendapatkan SIM Perancis, yeyyyy¬†! Kalau kesannya saya lebay banget ada alasannya lho‚Ķ. Maklum proses bikin SIM ini sudah saya lakonin sejak sekitar 1,5 tahun yang lalu. Berat banget perjalanannya dan sempat pula saya dihinggapi rasa putus asa. Belum lagi harganya yang mahal sempat bikin saya merasa terbebani kalau nggak lulus-lulus ujian. Tapi memang ya segala sesuatu ada waktunya, semua butuh proses seperti kata bijak dalam bahasa perancis¬†: ¬ę¬†chaque chose en son temps, un temps pour chaque chose¬†¬Ľ.¬†Waktu 1,5 tahun memang lama, tapi melihat ke belakang saya sangat bersyukur karena akhirnya berhasil juga.

Dulu saya pernah menulis di blog ini ketika awal saya masuk sekolah menyetir atau di sini disebut auto-école (AE). Saat itu saya sempat menargetkan bahwa dalam waktu kurang dari 10 bulan saya sudah bisa mengantongi SIM Perancis. Memang ya namanya juga berusaha, ada yang langsung bisa kena sasaran ada juga yang harus pake meleset, dan saya adalah salah satu contoh kasus yang meleset. Waktu itu memang saya belum punya gambaran yang jelas tentang bagaimana proses mendapatkan SIM di sini. Saya sih waktu itu optimis saja bahwa saya bisa cepat dapat asal saya berusaha keras. Tapi pada kenyataannya banyak hambatan yang harus saya hadapi dalam setiap tahapannya.

Hambatan yang paling utama tentu saja masalah bahasa. Kemampuan bahasa perancis saya masih sangat cethek, apalagi yang berhubungan dengan istilah teknik kendaraan dan rambu-rambu lalu lintas. Saya harus berusaha ekstra keras dengan belajar latihan soal lewat internet supaya bisa memahami semuanya dengan baik. Untuk mendapatkan SIM ada 2 tahapan ujian yang harus dilalui : ujian teori dan ujian praktik. Untuk ujian teori code de la route peserta ujian harus menjawab 40 pertanyaan tentang rambu-rambu lalu lintas dan segala macam peraturan yang berhubungan dengan keselamatan berkendara di jalan. Untuk lulus ujian ini, peserta harus menjawab dengan benar minimal 35 soal. Saat itu saya harus mengulang sekali untuk ujian teori ini karena pada ujian yang pertama saya hanya menjawab dengan benar 34 soal. Sempat nyesel banget sih waktu itu karena di dalam ruang ujian saya sempat sadar bahwa ada 1 soal yang saya salah jawab tapi tidak mungkin saya koreksi karena saya sudah terlajur memvalidasi jawaban saya. Oh iya, di sini sistem ujiannya bukan ujian tertulis tapi menggunakan semacam remote untuk menjawab soal. Jadi begitu soal ditayangkan di layar proyektor, kami harus memencet jawaban yang benar dari beberapa pilihan jawaban yang disediakan, kemudian memvalidasinya menggunakan tombol yang ada di remote tersebut. Kalau kita lupa memvalidasi otomatis dianggap kita tidak menjawab soal dan kehilangan 1 poin. Untungnya saya berhasil di ujian yang kedua, meskipun harus menunggu sekitar sebulan sebelum mendapatkan kesempatan untuk ikut ujian lagi.

Beres dengan ujian teori, saatnya saya mulai praktik menyetir. Awalnya saya benar-benar grogi. Bagaimana tidak kalo itu adalah pertama kalinya saya pegang setir mobil. Di Indonesia dulu saya kemana-mana pakai motor kesayangan saya dan memang nggak pernah belajar setir mobil. Bisa dibayangkan betapa kakunya saya, stress dan gugup¬†takut kalau nabrak atau nyetir kecepetan, dsb. Apalagi di sini praktik nyetir meskipun untuk yang pertama kali dilakukan langsung di jalan. Meskipun guru nyetir saya ngajarinnya bukan di jalan raya yang besar tetap saya saya was-was. Untuk bisa mengikuti ujian praktik SIM, seseorang harus sudah melalui minimal 20 jam praktik menyetir. Untuk yang belum terlalu mahir, 20 jam ini bisa ditambah yang tentu saja berarti tambah biaya juga. Untungnya di sini ada sebuah sistem yang sangat membantu memperlancar kemampuan menyetir yang disebut l’apprentissage anticip√© de la conduite ¬†(AAC) ¬†atau disebut juga conduite accompagn√©e. Jadi dengan sistem ini murid sekolah menyetir diijinkan untuk menyetir mobil pribadi asal didampingi oleh seseorang yang sudah memiliki SIM minimal 5 tahun. Persyaratannya pun cukup mudah karena biasanya sudah diurus oleh AE masing-masing. Saya pun juga menggunakan sistem ini. Setelah mengurus administrasi untuk asuransi, saya pun sudah bisa menyetir sendiri didampingi suami saya. Buat saya terasa banget manfaat dari sistem AAC ini, karena saya jadi lebih terbiasa untuk menyetir di jalan umum. Meskipun kadang masih juga grogi tapi saya merasakan perkembangan dalam kemampuan menyetir saya. Selain memperlancar kemampuan menyetir, sistem AAC ini juga menguntungkan dari segi ekonomi, pasalnya kita tidak harus terpaku dengan jadwal latihan menyetir dari AE yang berarti juga mengurangi biaya yang kita keluarkan untuk membayar guru AE. Maklum biaya per jam nya lumayan mahal yaitu 35‚ā¨, dan di daerah lain bisa lebih mahal lagi. Oh iya dengan sistem AAC ini saya hanya boleh menyetir di wilayah Perancis saja dan di bagian kaca belakang mobil harus ditempel stiker AAC.

Stiker AAC. Gambar diambil dari wikipedia.

Setelah beberapa bulan menjalani sistem AAC bersama suami saya pun merasa siap untuk mengikuti ujian praktik. Kami pun meminta jadwal ujian ke AE. Sayangnya kami tidak langsung dapat karena banyaknya antrian peserta ujian praktik. Mungkin karena waktu itu musim panas di mana anak-anak sekolah sudah mulai liburan dan mereka yang sudah cukup umur biasanya juga berbondong-bondong mengikuti ujian SIM. Setelah menunggu cukup lama, enam bulan sejak saya memulai AAC, saya pun mendapatkan jadwal ujian. Saya ingat waktu itu bulan november dan cuaca sudah mulai agak dingin. Meskipun saya sudah pede sewaktu praktik menyetir dengan suami, begitu dihadapkan pada ujian saya langsung gugup setengah mati. Entahlah, dada berdebar kencang dan tangan berkeringat dingin. Saya sempat praktik menyetir selama setengah jam dengan guru AE untuk menyesuaikan dengan mobil yang akan digunakan untuk ujian. Semua berjalan lancar, dan saya pun mulai bisa tenang dan optimis kalau saya bisa. Waktu ujian pun tiba, penguji saya adalah seorang perempuan yang sebenarnya cukup ramah. Sebelum berangkat ia mengecek kartu identitas saya dan menjelaskan tentang bagaimana ujian akan dilakukan. Dan ujian pun dimulai. Awalnya saya cukup tenang karena jalan yang kami lalui adalah jalan yang saya kenal. Tapi begitu memasuki tengah kota, sang penguji menyuruh saya belok kanan ke jalan yang saya sama sekali tidak kenal. Dari situlah semua bermula, saya langsung stress tingkat dewa, gugup luar biasa sampai-sampai ibu penguji ini harus menegur saya beberapa kali karena dianggap tidak menyetir dengan benar. Saya pun semakin stres karena ditegur. Luluh sudah rasa percaya diri saya, dan meskipun pertanyaan teknik bisa saya jawab dengan benar, saya tidak lulus ujian karena ada kesalahan fatal yang saya lakukan yang membuat nilai saya gugur atau éliminatoire. Parahnya untuk tahu apakah saya lulus atau tidak saya harus menunggu 2 hari karena hasilnya tidak saya dapatkan hari itu juga tetapi dikirim ke rumah lewat pos. Saya pun pasrah, sedih dan hampir putus asa…

Untuk mendapatkan jadwal ujian berikutnya saya pun harus menunggu lagi. Kali ini juga cukup lama karena bertepatan dengan libur natal dan tahun baru. Saya sih hanya berharap supaya ketika akhirnya saya bisa ikut ujian lagi cuaca bisa cukup bersahabat. Maklum bulan januari cuaca sudah semakin dingin dan di beberapa tempat bahkan turun salju. Setelah 2 bulan, akhirnya saya bisa ikut ujian lagi. Kali ini saya lebih rileks, suami juga meyakinkan kalaupun harus mengulang lagi ya tidak apa-apa. Toh orang-orang perancis juga rata-rata harus mengulang beberapa kali sebelum lulus ujian SIM. Hari itu, tanggal 13 januari 2015, sepertinya memang hari keberuntungan saya. Meskipun pengujinya sama dengan yang menguji saya sebelumnya, kali ini semuanya berjalan sangat lancar. Terlepas dari udara yang sangat dingin, hari itu¬†cuaca cerah bahkan matahari bersinar terik jadi saya tidak perlu khawatir akan jalanan yang licin atau salju. Rute yang diambil pun juga sudah saya kenal dengan baik, sehingga saya tidak ada masalah sama sekali. Semua pertanyaan bisa saya jawab dengan baik, dan ibu penguji juga malah keasyikan ngobrol dengan guru AE sehingga sempat kelupaan buat nyuruh saya bikin manuver parkir ūüėÄ Leganya saya semua berjalan dengan lancar. Bahkan guru AE saya juga sempat menelpon saya setelah ujian dan bilang bahwa saya menyetir dengan sangat baik sewaktu ujian. Dia sangat yakin kalau saya bakalan dapat SIM, dan saya bilang kita tunggu saja hasilnya dalam 2 hari. Maklum ya, sempat gagal ujian sebelumnya bikin saya waspada supaya siap dengan apapun hasilnya. Dan benar saja begitu surat pemberitahuan hasil ujian praktik saya sampai di rumah, saya langsung melompat kegirangan. Tidak saja saya lulus ujian, tetapi poin yang saya dapat pun sangat memuaskan. Dari total 31 poin, saya mendapatkan 28 poin. Syarat kelulusan ujian SIM tipe B ini adalah 20 poin tanpa ada nilai E (√©liminatoire). Kini saya sudah bisa menyetir sendirian berbekal surat kelulusan ujian serta kartu identitas perancis saya.Untuk SIM permanennya masih dalam proses, dan saya harus menunggu kurang lebih empat bulan lagi untuk mendapatkannya. Oh iya, stiker di kaca belakang mobil saya juga harus diganti¬†dengan lambang huruf “A” yang menandakan bahwa saya adalah pengemudi pemula.

Stiker pengemudi pemula, bisa ditempel di kaca belakang atau di bodi belakang mobil. Gambar diambil dari wikipedia.

Akhirnya, bisa bernafas lega dan tersenyum lebar. Jujur saya memang sempat khawatir tentang SIM ini, bahkan sempat enggan buat praktik menyetir dengan suami karena merasa down dan takut harus mengulang dan mengulang lagi ujian praktiknya. Selain bakalan lebih mahal, tentu saja pede saya bisa terkikis habis kalau harus gagal lagi. Belum lagi kesempatan buat cari kerja juga bakalan lebih susah kalau belum juga punya SIM. Maklum saja seperti yang sering saya bilang saya tinggal di desa yang nggak ada sarana transportasi umum, jadi buat bisa kemana-mana ya harus punya SIM. Dan benar saja begitu saya lulus ujian dan boleh nyetir sendiri saya merasa tenang. Rasanya saya mendapatkan kebebasan seperti sewaktu saya masih di Indonesia, bisa kemana-mana sendiri tanpa harus nungguin buat diantar suami. Belum lagi kini saya bisa mencantumkan di CV kalau saya sudah memiliki SIM.

So, tahun 2015 saya awali dengan kado menyenangkan untuk diri saya sendiri, yipppiiieee!!! ūüėÄ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s