Penghuni Baru

Dua minggu belakangan ini saya lumayan repot di rumah, seperti judul postingan kali ini saya harus mengurusi 2 penghuni baru di rumah kami. Bukan saudara atau teman sih yang jadi penghuni baru di sini tapi 2 ekor anak kucing yang tiba-tiba muncul di depan rumah 2 minggu yang lalu. Jadi ceritanya sabtu malam 2 minggu yang lalu, sekitar hampir tengah malam saya sedang di dapur menyiapkan makanan buat suami yang baru pulang lembur kerja. Sayup-sayup saya dengan ada suara kucing mengeong di luar. Saya sih yakin itu bukan suara kucing-kucing kami Mini dan Bailey karena selain saya hapal suara mereka, biasanya juga mereka cuma duduk di depan jendela aja kalau minta dibukakan jendela buat masuk ke rumah. Karena penasaran saya pun keluar dan mengecek, begitu pintu saya buka saya lihat dua ekor anak kucing yang masih kecil-kecil berlari mendekat. Mereka basah dan kotor. Yang satu terlihat takut dan menjaga jarak sementara yang satunya lagi langsung mendekat sambil masih tetap mengeong. Saya pun segera memberi mereka makanan dan susu kambing, kelihatan banget kalau mereka kelaparan. Suami saya yang tadinya hendak makan, jadi ikutan repot mengurusi kedua kucing tersebut. Karena sudah larut malam dan di luar masih gerimis, kamipun memutuskan untuk merawat mereka sampai esok hari. Rencananya suami saya akan telpon ke tempat penampungan hewan untuk supaya mereka bisa tinggal di sana sampai ada yang mengadopsi.

Keesokan harinya, setelah telpon sana sini suami saya pun menyerah. Ternyata semua tempat penampungan hewan sudah penuh. Suami saya juga berusaha untuk menelpon beberapa tetangga yang kemungkinan bisa membantu mencari orang yang mau mengadopsi anak-anak kucing tersebut tetapi hasilnya juga nihil. Sebenarnya sih saya nggak keberatan sama sekali buat merawat anak-anak kucing tersebut, saya pada pada dasarnya memang pecinta kucing apalagi melihat anak-anak kucing yang lucu saya pasti langsung luluh. Tapi memiliki hewan peliharaan di sini harus dipikirkan dengan baik-baik sebelumnya. Selain harus mengeluarkan biaya untuk makanan kucing, kami juga harus siap mengeluarkan biaya tambahan untuk sterilisasi dan vaksin. Biaya dokter hewan juga tidak murah, sementara kami sudah punya 2 ekor kucing dewasa. Belum lagi proses adaptasi antara kucing-kucing dewasa dengan anak-anak kucing ini pasti tidak mudah, karena berdasarkan pengalaman sebelumnya butuh waktu lama sebelum Mini bisa menerima kehadiran Bailey, itupun juga tidak sepenuhnya karena setelah lebih dari setahun Mini tetap saja tidak mau berdekatan dengan Bailey meskipun mereka sudah bisa tidur di ruangan yang sama.

Akhirnya, dengan berat hati kamipun memutuskan untuk merawat anak-anak kucing tersebut. Bukan karena tidak suka tapi berdasar pertimbangan bahwa kami sudah punya 2 kucing dewasa. Jujur saja buat kami 2 ekor kucing dalam 1 rumah sudah lebih dari cukup, tapi kalau harus membuang 2 ekor anak kucing yang kami temukan tersebut juga tidak mungkin. Mereka masih sangat kecil-kecil, umurnya mungkin baru 6 atau 8 minggu waktu kami temukan. Sebenarnya aneh juga bahwa mereka bisa sampai di depan rumah kami waktu itu. Pertama-tama rumah kami cukup jauh dari rumah-rumah lain, bahkan bisa dibilang agak terpencil karena dekat dengan hutan, kedua kalau mereka adalah kucing liar pasti mereka akan lari melihat kami tapi sepertinya mereka sudah cukup terbiasa dengan keberadaan manusia sehingga kami curiga bahwa anak-anak kucing tersebut sengaja dibuang oleh seseorang di dekat rumah kami supaya kami temukan. Memang sih saya dengar juga lumayan banyak kasus seperti ini terjadi di daerah sini. Si pemilik kucing malas mensterilkan kucingnya kemudian beranak pinak tapi tidak mau merawat anak-anak kucingnya sehingga dibuang begitu saja. Kalau dipikir-pikir orang-orang seperti itu membuat susah juga bagi orang yang menemukan anak-anak kucing tersebut, karena dengan tidak adanya tempat di tempat penampungan hewan maka orang yang menemukan jadi tidak punya pilihan lain selain merawat mereka. Syukur-syukur kalau nantinya bisa menemukan orang yang mau mengadopsi mereka, kalau tidak ya harus diadopsi sendiri nantinya.

Seperti yang sudah saya duga, kami harus hati-hati dalam proses penyesuaian antara kucing lama dan kucing baru. Mini, kucing kami yang paling senior sama sekali tidak mau dekat-dekat dengan kedua anak kucing tersebut. Bahkan beberapa malam pertama dia tidak mau tidur di dalam rumah dan memilih tidur di gudang depan rumah kami. Sementara Bailey awalnya juga menolak, tapi setelah semingguan lebih ia pun mulai santai. Kalau awalnya saya harus buka tutup pintu supaya Bailey tidak seruangan dengan anak-anak kucing tersebut, sekarang mereka sudah bisa tidur di satu ruangan. Bahkan mereka sudah bisa bermain bersama, bahkan Bailey mengajari mereka buat memanjat pohon apel di belakang rumah! šŸ˜€ Tapi tetep sih, kalau mereka bermain bersama harus diawasi karena Bailey jauh lebih besar, kadang-kadang harus dipisah karena anak-anak kucing itu jadi kewalahan kalau pas Bailey terlalu bersemangat. Seru juga sih melihat mereka bermain-main, Bailey jadi seperti anak kucing lagi dan tingkah polah mereka lucu-lucu. Lumayan buat hiburan kalau pas lagi bosen hehehe…

Kittens

Meet Willow and Austin šŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s